Titin menutup buku bersampul coklat yang baru saja dia baca. Sebuah buku yang berjudul Bumi untuk Kumara milik salah satu teman satu angkatannya di masa putih abu-abu.
Satu kekehan lolos dari bibir milik Titin. Dia tidak menyangka bahwa atensinya bisa di notice oleh laki-laki yang bahkan tidak sekalipun terpikirkan olehnya.
Hal-hal yang paling mengejutkan dari hidupnya adalah laki-laki itu bahkan mengetahui bahwa dulu dia pernah terlihat begitu memalukan. Mengejar seseorang seperti orang gila yang bahkan tidak ada feedback sekalipun.
Membaca buku tersebut membuat Titin dapat membuka mata dan sadar jika dulu dia benar-benar sememalukan itu. Lebih malu lagi kisahnya dijadikan sebuah novel oleh Kumara—laki-laki yang ia ketahui tidak begitu mencolok namun keberadaannya dapat di ketahui dengan mudah.
“Lo yakin gak ikut kita ke tempat karoke, Tin?” tanya Wina teman kerja Titin yang sedang sibuk memasukan benda miliknya ke dalam tas bewarna Lilac.
Wina dan kedua teman kerja Titin lainya memang berencana untuk pergi ke tempat karoke setelah selesai jam kerja. Acara tersebut bertujuan melepas penat setelah selama beberapa hari ini mereka diharuskan untuk lembur.
Titin sebenernya tidak begitu menyukai ke tempat-tempat yang seperti itu, apalagi sudah Titin pastikan jika dia ikut teman-temannya nanti ke tempat karoke, Titin akan pulang telat ke tempat kosnya. Perempuan itu takut jika pulang-pulang dia tidak dapat masuk ke kamar kost karena gerbang kost sudah ditutup oleh Bu Jun.
“Sorry, gue gak bisa ikut kali ini, gue lagi pengin rebahan aja di kamar kost,” tolak Titin, perempuan itu juga sedang mematikan komputernya dan bersiap untuk pulang.
Wina menghela napas, perempuan itu sedikit memajukan bibirnya, memasang wajah cemberut. “Gak asik lo Kiting!”
Mendengar ucapan Wina, Titin mau tidak mau pun tertawa, mendengar nama Kiting membuat Titin tidak dapat menyembunyikan raut wajahnya yang tampak ingin kembali mengeluarkan tawanya yang kembali ingin keluar dari mulutnya.
Jika Wina sudah menyebut nama itu, artinya Wina benar-benar sedang kesal. Alhasil Titin menang dan Wina tidak lagi memaksanya untuk mengajaknya pergi ke tempat karoke.
Membayangkan sebuah kasur lantai dan bantal guling yang nyaman membuat Titin ingin cepat-cepat pulang ke kostnya.
🧡
Di umur yang bukan lagi remaja ini, Titin terkadang merasa dia selalu ada waktu untuk over thinking. Dulu, saat dia berumur delapan tahun, Titin pernah membayangkan bahwa menjadi dewasa itu menyenangkan. Bebas melakukan apapun tanpa perlu takut diomelin sama mama dan papa.
Tapi, sekarang ketika dia memasuki umur dewasa, Titin malah ingin kembali pada beberapa tahun lalu. Tepat di umur delapan tahun agar dia bisa kembali merasakan bagaimana rasanya bermain sampai lupa waktu, hidupnya hanya diisi dengan tidur, makan, sekolah dan main tanpa harus memikirkan bagaimana cara mengatur uang agar bisa bayar kost, makan dan beli mie ayam!
Sesampainya di kost, Titin tidak langsung rebahan di kasur seperti apa yang dia bayangkan di tempat kerjanya tadi. Alih-alih tempat tidur yang dia tuju, Titin justru harus kembali pergi untuk pulang ke rumahnya.
Saat Titin sampai di depan kostnya tadi, tiba-tiba adiknya mengabari bahwa ayahnya jatuh sakit karena kelelahan bekerja. Tanpa pikir ulang perempuan itu segera bergegas pergi ke rumahnya yang hanya berjarak dua jam dari tempat kostnya.
“Papa akhir-akhir ini terlalu semangat kerja sampai lupa dengan kesehatannya, Mbak.” Tyo memberitahu sebuah informasi kepada kakaknya itu. Jarak usia mereka sekitar tujuh tahun, tahun ini Tyo berusia delapan belas tahun yang sebentar lagi akan memasuki dunia perkuliahan.
Lalu setelah Tyo pergi dari kamar Titin, Mama tiba-tiba datang ke kamar perempuan itu. Juga ikut memberikan sebuah informasi mengenai alasan papanya yang begitu semangat bekerja sampai lupa dengan kesehatannya sendiri.
“Adik Papa tiba-tiba menagih uang yang dulu Tantemu pinjamkan kepada Papa. Tantemu saat ini sedang butuh uang untuk biaya masuk sekolah Asti. Kamu tahu sendiri semenjak Om Jun pergi, Tantemu cukup kesulitan mengenai perekonomian. Papa gak mau pakai uang yang sudah siapkan untuk kuliah adikmu, jadi Papa kerja sampai lupa waktu, Mbak. Alhasil dia tumbang juga karena kecapean.”
Penjelasan mama yang baru saja Titin dengar membuat perempuan itu tahu alasan kenapa papanya bisa sampai tumbang.
“Jadi uang Tante yang harus Papa balikin ke Tante berapa, Ma? Biar Titin aja yang lunasin,” tawar Titin dan dia harusnya tahu sejak saat itu dunianya berubah drastis.
“Lima puluh juta dan selama sebulan uang itu sudah diberikan ke Tantemu.”
Besok nyambung lagi ....
KAMU SEDANG MEMBACA
Dialog dini hari
ChickLitTitin selalu bangun tepat waktu dan tidur sesuai dengan jam tidur yang sudah ditentukan oleh orang tuanya. Tetapi semenjak dia nekat mengikuti lomba menulis untuk mendapatkan uang lima puluh juta, jam tidur Titin mendadak kacau, bukan hanya jam tidu...
