Pria berkacamata yang sedang sibuk mengambil gambar melalui kamera sekolah ini menjadi fokus utama Titin. Dia masih terus memandangi pria yang mengenakan pakaian yang sama dengannya itu.
Lalu tiba-tiba pria itu menoleh setelah menurunkan kameranya. “Kenapa?” tanya pria itu.
Titin dengan senyum malu-malu pun menjawab, “ Nggak. Cuman heran aja.”
“Heran kenapa?” Kedua alis pria itu mengerut.
“Kenapa ada orang seganteng kamu di dunia ini,” balas Titin, menggoda pria yang ada di depannya ini.
Pria itu tertawa saat mendengar godaan yang dilontarkan oleh Titin. Teman satu kelasnya, perempuan yang saat ini tengah berdiri tepat di sampingnya, menghadap ke arah tubuh pria itu.
“Tin, nanti istirahat kedua kamu datang ya ke lapangan utama,” pinta laki-laki itu. Dahi Titin mengerut. Bertanya-tanya untuk apa pria yang ada di depannya ini meminta dia untuk datang ke lapangan utama?
“Ngapain?” Satu pertanyaan terlontar dari mulut Titin. Perempuan berambut panjang keriting yang sedang diikat satu itu merasa penasaran.
Pria yang sudah Titin sukai sejak masuk SMK ini menatap Titin dengan tatapan jahil diiringi dengan senyum yang menggoda. “Ada pokoknya. Kamu nanti bakal terkejut.”
Setelah pertemuannya dengan laki-laki pujaan hatinya, Titin tidak henti-hentinya memikirkan tentang kejutan apa yang nantinya akan pria itu tunjukkan kepadanya.
“Jangan-jangan Ali mau nembak lo, Tin?” Perkataan dari teman sebangkunya itu membuat Titin merasa geer. Titin menjadi membayangkan Ali—pria yang dia suka tiba-tiba mengatakan perasaannya di tengah lapangan.
Titin memegang dadanya, jantung Titin tiba-tiba saja berdetak tidak karuan, lalu pandangan perempuan itu terarah ke arah jam dinding yang ada di dalam kelasnya. Jam istirahat kedua terasa begitu lama. Padahal Titin sudah menantinya. Rasanya ingin waktu bergulir begitu cepat agar dia bisa mengetahui hal apa yang sudah Ali siapkan untuknya.
Titin menoleh ke arah Ira—teman sebangkunya. “Menurut lo Ali bakal nembak gue?”
Ira mengangguk. “Gue yakin Ali bakal nembak lo. Akhir-akhir ini kalian kan mulai dekat, jadi gak menutup kemungkinan kalau Ali nembak lo di depan semua angkatan.”
🧡
Ingatan itu kembali hadir di benak Titin setelah beberapa tahun ini dia susah payah untuk tidak mengingatnya. Kehadiran perempuan yang dulu sempat menjadi temannya ini membuat Titin diingatkan kembali jika dia adalah perempuan bodoh yang mudah ditipu.
“Apa kabar, Tin?” tanya perempuan yang saat ini duduk tepat di depannya. Titin sebenarnya tidak ingin membenci siapapun, tetapi hatinya merasa belum ikhlas jika memaafkan orang-orang yang pernah menorehkan luka dihatinya. Merusak kepercayaan Titin dan mengkhianati Titin begitu saja.
Basa-basi yang sebenarnya sudah basi. Pikir Titin. Perempuan itu sama sekali tidak menjawab. Hingga perempuan yang ada di depannya kembali membuka suara.
“Maaf jika malam-malam seperti ini gue ganggu Lo,” tutur Perempuan dengan rambut lurus sepinggang, padahal seingat Titin terakhir dia bertemu teman lamanya ini, perempuan itu masih dengan rambut sebahunya yang tidak pernah perempuan itu biarkan tumbuh panjang begitu saja.
Titin menghela napas lelah. Muak rasanya dengan basa-basi yang tidak berkesudahan ini. “Gue gak sekurang kerjaan itu buat balas basa-basi lo yang terdengar basi.”
“Jadi, apa maksud kedatangan lo ke kost gue malam-malam gini?” lanjut Titin.
Ira. Perempuan yang dulu sangat dia percaya kini datang ke tempat kost miliknya malam-malam hanya untuk mengantar sebuah undangan pernikahan?
“Gue harap lo datang.” Ira memberikan Titin sebuah undangan yang tampak begitu elegan.
Kedua mata Titin menatap undangan itu dengan tajam setelah melihat nama pengantin yang tertulis di undangan.
Indira Gandhi & Ali Endaro Sigit.
Besok nyambung lagi ....
KAMU SEDANG MEMBACA
Dialog dini hari
Romanzi rosa / ChickLitTitin selalu bangun tepat waktu dan tidur sesuai dengan jam tidur yang sudah ditentukan oleh orang tuanya. Tetapi semenjak dia nekat mengikuti lomba menulis untuk mendapatkan uang lima puluh juta, jam tidur Titin mendadak kacau, bukan hanya jam tidu...
