Gereja Chungdong

562 64 8
                                        

Seoul, 00.30 KST

Suasana bar malam ini sama seperti biasanya, sesak dan penuh gairah. Banyak pemuda dan pemudi berlomba-lomba meliukkan tubuhnya di lantai tengah seiring dengan musik DJ yang bergema dipenjuru ruangan serta lampu kerlap kerlip yang menyala disegala sisi.

Tampaknya semua orang sangat menikmat malam yang panas ini, kecuali seorang pria yang tengah berjalan cepat kearah toilet bar dengan stelan hitam favoritnya, membuat siapapun yang ada didalam toilet langsung berlari keluar, mengingat siapa dan apa jabatan pria ini, juga wajahnya yang sangat dingin, seperti hendak menerkam siapapun yang menatapnya.

"Arghhhh! shitt!" maki pria itu, menghancurkan semua barang yang ditangkap oleh sudut matanya.

"Hyung! kau gila? apa yang kau lakukan?!" ucap Dongyeon yang menyusulnya dengan cepat ke toilet.

"Omong kosong apa ini, hah?! berani-beraninya dia bermesraan didepan mataku?! dasar jalang murahan!" Soohyun meremas rambutnya, frustasi. Lalu dengan santainya ia melayangkan tinjunya pada cermin besar yang ada dihadapannya, menyebabkan kaca besar disana pecah dan darah mengucur dari baku-baku tangannya.

"Hentikan bodoh! dia sengaja melakukan itu didepanmu. Supaya kau marah dan memintanya kembali." Dongyeon mencoba menenangkan pria yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri. Tapi sia-sia saja, Soohyun memang tipe yang sulit mengendalikan emosi dan mudah meledak bak sumur minyak yang tersambar api.

Soohyun dan Dongyeon awalnya pergi ke club untuk refreshing dan menghangatkan tubuh, tapi nahas, keduanya malah menangkap kelakuan mantan Soohyun yang sedang menggoyangkan tubuhnya penuh gairah dengan seorang pria, yang sialnya merupakan salah satu sahabat Soohyun. Si tampan dan berkharisma. Yah walaupun tidak setampan Soohyun. Tapi tetap saja, melihat mantan kekasih yang baru saja putus lalu bermesra-mesraan dengan sahabatmu sendiri dapat membuat kepalamu mendidih, benar kan?!

"Jadi, kau masih mau minum atau tidak?" tanya Dongyeon dengan hati hati saat dilihatnya emosi pria itu sudah mulai normal.

"Tidak lagi, aku sudah tidak mood. Bereskan semuanya, aku akan menunggumu diluar." ucapnya sambil melangkahkan kakinya ke luar, meninggalkan Dongyeon yang menghela nafasnya dengan berat. Selalu saja begitu. Soohyun akan menghancurkan sesuatu, dan Dongyeon akan membereskannya. Tapi untungnya tragedi malam ini terjadi di club pribadi milik Soohyun, jadi Dongyeon tidak terlalu repot harus menelfon sana sini untuk meminta maaf atau mengganti rugi. Paling yang ia lakukan hanya melaporkan barang-barang yang hancur juga kaca yang pecah ke manajer club supaya langsung ditangani.

"Haduh, susah ya, punya bos temperamental." helanya pelan.

Tak sampai lima belas menit, kini keduanya sudah berada didalam mobil. Dongyeon tidak  membiarkan hyung-nya yang menyetir, pria itu takut, bukannya sampai kerumah dengan selamat, bisa-bisa mereka malah membantu malaikat maut mengerjakan tugasnya.

"Sikapmu dihadapan Sunghoon itu sangat tidak baik. Bagaimanapun dia adalah sahabat kita."

"Cih! Manaada sahabat yang mengencani mantan pacar sahabatnya." Soohyun berdecih, mengingat hal itu membuat kepalanya kembali mendidih. Bayangan tentang Sunghoon yang menikmati tariannya dengan sang mantan kembali muncul seperti komedi putar di otaknya.

"Seharusnya kau senang sudah terlepas dengan benalu itu."

"Benar, aku melepas benalu, dan sahabatku memungutnya. Dasar bodoh! Sudahlah, aku tidak ingin membicarakannya lagi."

"Hyung, aku punya ide!" Dongyeon menepikan mobilnya sejenak. Sedikit ragu sebenarnya, tapi masa bodohlah. Kalau tidak dicoba, sahabatnya ini tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang benalu itu. Kini Dongyeon mendekatkan bibirnya ke telinga Soohyun, membisikkan sesuatu, entah apa itu, yang pasti ucapannya sukses membuat pria yang dipanggil hyung itu  merah padam akibat murka.

QUEEN OF HEARTS Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang