Mata tajam Rion terus menatap khawatir tubuh Liana yang tengah terbaring lemah di atas ranjang.
Ternyata gadis itu sedang demam, Rion sempat mau membawa Liana ke rumah sakit, namun saat itu Mity datang dan menyuruhnya untuk membawa Liana masuk ke dalam rumah saja.
Rion beranjak dari duduknya saat melihat Liana yang mulai membuka kedua matanya. Tetapi pria itu kembali mendudukkan pantatnya ketika Mity datang membawa nampan berisikan semangkuk bubur hangat beserta obat penurun demam.
"Kamu sudah sadar." Ucap Mity seraya duduk disisi ranjang Liana.
Liana hanya mengedipkan matanya sebelum bangun dan berusaha untuk duduk.
"Aduh kepalaku-" Liana mencoba menyentuh kepalanya yang terasa begitu berat, namun Mity dengan kesal malah menarik tangan itu dan menatap tajam kakaknya.
"Liana, kamu tahu sendiri bukan jika tubuhmu itu sangat sensitif terhadap air hujan.. dan tadi sore kamu malah bermain hujan-hujanan!" Marah Mity.
"Aku-"
"Itu salah ku." Potong Rion cepat. Ya, itu adalah salahnya yang tidak mau melepaskan Liana saat kehujanan tadi.
Rion baru tahu jika tubuh Liana sangat alergi terhadap air hujan.. itulah sebabnya Liana terus saja meronta ingin segera masuk ke dalam rumah.
"Itu salah ku, karena memaksanya tetap tingal di luar saat hujan." Jujur Rion menyesal.
"Tidak, ini bukan salahmu Rion. Tapi ini salah Liana yang tidak mau makan dengan benar." Mity menatap tajam Liana, dengan kesal ia pun menyuapi Liana bubur hangat itu.
Rion terus saja menatap khawatir Liana yang lemah tak bertenaga, beberapa kali Liana sempat bersin, dan wajah gadis itu terlihat begitu kacau. Bisa Rion rasakan suhu tubuh Liana yang begitu panas saat pria itu menggendongnya ke kamar ini.
Rion menjadi sangat bersalah karena telah membuat Liana sakit seperti ini.
"Ini, minum obatnya.. setelah itu tidurlah kembali." Mity memberikan gelas berisi air dan obat penurun demam pada Liana.
Liana segera meminum obatnya, dan kembali membaringkan tubuhnya. Gadis itu tahu jika Mity pasti akan mengomelinya terus menerus, dan Liana sangat malas untuk mendengarkan.
Setelah dilihat Liana sudah kembali tertidur, Mity dan Rion pun segera keluar dari kamar, untuk membiarkan Liana beristirahat.
Rion menutup pintu dengan sangat hati-hati. "Apa dia akan baik-baik saja?" Tanyanya yang terdengar begitu khawatir.
"Kamu tenang saja Rion, ini sudah biasa terjadi. Setelah beberapa hari Liana akan kembali sehat seperti biasanya." Jawab Mity meyakinkan, gadis itu sangat senang karena Rion begitu perhatian pada kakaknya.
Rion hanya mengangguk lega seraya menatap pintu kamar Liana.
"Mity, kemari nak.."
Mity segera berlari menuju ruang tamu saat mendengar panggilan dari ibunya Yuna yang ternyata tengah menuliskan beberapa nama di buku tamu pernikahan.
"Ada apa ibu?"
"Ini sayang.. tulis nama teman mu yang ingin kamu undang nanti." Ucap Yuna seraya memberikan bolpoin kepada Mity.
"Tapi temanku sangat banyak ibu-"
"Catat saja yang penting!" Suruh
Yuna yang lalu pergi ke dapur untuk membantu Rossa yang sedang membuat beberapa kue kering."Hmm, siapa saja yang harus aku undang?"
"Tulis saja beberapa teman dekatmu, jangan terlalu banyak." Rion yang tiba-tiba datang duduk di samping Mity.

KAMU SEDANG MEMBACA
I Choose You (Rion Kenzo)
FanfictionSetelah bertahun-tahun lamanya. Kamu, Liana Christalia kembali dipertemukan dengan pria yang pernah menolak mu lima tahun lalu. Namun, bagaimana reaksi mu jika ternyata pria yang kamu cintai itu adalah calon suami dari adikmu sendiri. .... Warning :...