Bagian 4

8 6 0
                                    


Hi Selamat Datang!
Bahagia sekali kalian mampir kesini dan membaca cerita ini🫵🏻🤍
Terimakasih jangan lupa vote dan komentarnya!🔥✨


***


Lagu-lagu tentang cinta mengalun indah di telinga Sabita, seakan-akan lagu itu tercipta untuknya. Harum bunga-bunga sangat terasa pada indra penciuman, rasa-rasanya hari ini sangat damai.

Bagaimana tidak seperti itu pangeran tampan-nya menghubungi dan memesan bunga, jangan ditanya suasana hati wanita itu sedang bagus sekali.

Walaupun agak heran mengapa tidak Hera yang biasa menghubunginya, mungkin Hera sedang izin atau temannya itu naik jabatan lalu diganti dengan pangeran tampan.

Sampai tidak terasa ia sudah sampai ke tempat tujuan, seperti biasa ia di bantu beberapa karyawan mengangkat bunga.

"Hera," sapa Sabita pada Hera, mereka sudah berteman sejak pertama kali toko bunga bekerja sama dengan Harmoni Hotel.

"Mbak, bunga seperti biasakan?"

"Iya dong, aku kira kamu sakit atau kamu udah naik jabatan ya?" tanya Sabita.

Hera menampilkan raut wajah membingungkan, sejak kapan ia naik jabatan. "Nggak tuh."

"Lah tadi bukan kamu yang nelponin, aku ngira-nya kamu naik jabatan gitu," jelas Sabita membuat wanita itu tertawa seolah perkataan Sabita adalah lelucon.

"Mbak salah paham, itu—"

"Hera, bunga ini tolong diganti juga udah layu."

Tiba-tiba saja ada suara yang memanggil Hera, Sabita ikut menoleh. Wajah tak asing, alasan ia bahagia hari ini, siapa lagi kalo bukan Mas Lesmana.

Dengan tidak tahu dirinya, Sabita mengikuti langkah Hera menghampiri Manggala. Mata mereka kembali bertemu dan ia langsung memutuskan kontak.

"Segera saya ganti pak, mbak aku lanjut kerja dulu." pamit Hera meninggalkan Sabita yang seperti orang bodoh.

"Selamat siang mbak Sabita!"

"Aduh, selamat siang mas Lesmana." terlihat sangat gugup, maklum berhadapan dengan orang tampan.

Manggala tertawa. Kalau kata Afgan 'wajahmu mengalihkan duniaku' benar adanya. Apakah saat Manggala lahir Tuhan sedang berbahagia, walaupun Sabita selalu mengingat semua ciptaan Tuhan itu sempurna.

"Kamu lucu sekali." kekeh Manggala, ini kalau bisa pingsan juga Sabita pingsan sekarang.

Sabita ikut tertawa, "Mas juga, tampan sekali hari ini." Sial. Mulut Sabita ini sangat tidak tahu kondisi, memalukan sekali. Mungkin hari ini ia kurang sehat makanya menjadi seperti ini. "Mulut ini, maaf mas."

"Memang cakep mbak, naksir ya," timpal Hasta.

Sabita melirik, siapa dia? Menganggu saja. Kesempatan begini kapan lagi, semesta Sabita ingin sekali mengusir lelaki itu.

Manggala menyuruh Hasta diam lewat tatapan mata, "Tidak masalah, terimakasih sudah mengantar bunga-nya."

"Kembali kasih mas, semoga bunga dari toko kami selalu membuat hotel ini puas." Ia belum ingin ini usai. "Mas Lesmana masih single?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut Sabita.

"Siapa mas Lesmana?" sambung Hasta bingung, siapa yang dimaksud wanita tersebut.

"Lho ini mas Lesmana."

"Lesmana Manggala Tjahjo kalau kamu lupa," bisik Manggala mengingatkan Hasta yang pasti lupa.

Iyalah Hasta lupa, semua kelurga Tjahjo juga ia tidak hafal namanya. Nama sendiri pun lupa, Hasta mengangguk tapi ia tetap bingung mengapa Lesmana, banyak orang mengenal dengan nama Manggala, "Iya sih."

Sekilas Tentang KitaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang