04 ; [Hubungan Tanpa Status]

418 32 3
                                        

Satu kata yang terucap menyadarkan mereka pada situasi paling tidak menguntungkan. Hanya untuk Jake, tapi bagi Jay saat itulah ia bisa melihat si kupu-kupu hanya untuk dirinya sendiri. Satu gerakan lagi, Jay menyatukan bibir mereka. Satu gerakan juga, Jake mendorong badan Jay yang tengah lengah.

"Maksud kamu apa?" Teriakan dari Jake hanya membuat Jay menoleh.

Pria bermarga Lee itu mencoba bangun sembari merapikan tampilannya. Setengah terbangun dari tempat ia jatuh, sofa, tubuhnya kembali di dorong.

"Aku benci kamu," itu yang Jake katakan sebelum akhirnya pergi dari atap.

Sedangkan Jay yang masih berada di dalam ruangan memilih untuk bersantai. Ia menetralkan detak jantungnya. Apakah benar itu suka? Apa yang harus dilakukan ketika jatuh cinta? Jake membencinya? Ah ya, bagaimana ia bisa lupa akan hal itu. Tapi mungkin saja setelah ciuman itu maka Jake akan mencintainya.

"Lama-lama gue beneran gila gegara tuh cowok."

Meski dalam keadaan ini Jay memikirkan akan perasannya, Jake yang telah sampai di kelasnya sangat bersyukur guru yang bertugas meninggalkan pekerjaan saja. Bisa dibilang jamkos. Tidak ingin membuat orang lain curiga, Jake tersenyum dan menyapa. Tapi tetap saja, begitu ia duduk pada kursinya, ada Jungwon yang terlihat terus saja melihatnya.

"Kenapa?"

Jungwon mengedipkan kedua matanya. Tanpa menjawab ada apa, ia menghapus jejak air mata pada pipi Jake. Mungkin Jake tidak menyadari bahwa tangisannya, air mata itu membawa bekas yang terlihat.

"Kak Jay jahat ya? Dia ngapain kamu emang?"

Jake menggeleng, "Aku nggak bisa cerita sekarang. Nanti aja ya?"

"Hum, jangan sedih ya Jake. Kalo semisal kak Jay nakal, bilang ke aku aja. Nanti aku bilangin ke mami Jieun biar kak Jay dikasih hukuman."

"Hum," belum sempat ada 5 detik kini Jake bertanya, "Nanti pulang bareng 'kan?"

Jungwon sepertinya tidak enak untuk mengatakannya tapi tetap, ia harus mengatakannya, "Aku nanti pulang sama Sunghoon, kalo kamu mau nanti aku minta kak Jay anterin ya?"

"Nggak," jawab Jake dengan cepat.

"Nggak apa-apa deh, bentar ya," kemudian pria yang sebangku dengan Jake itu mulai menelfon seseorang.

Jake diambang keraguan sekarang. Haruskah ia menolak tapi, kebaikan tidak untuk ditolak. Tapi jika tidak ia tolak, ia masih memendam amarah para Jay Jay itu. Jadilah ia menunggu dalam diam sampai Jungwon selesai berbincang dengan Jay melalui telefon.

"Udah, nanti pas pulang kak Jay jemput di halte ya," setelah berujar demikian kini Jungwon membaca buku yang baru saja ia pinjam tadi.

Tidak memikirkan hal terburuk membuat Jake sekarang dilanda hampa. Memikirkan tentang Jay? Entah, dia masih kesal dengan apa yang pria itu lakukan padanya 10 menit lalu. Daripada memikirkan hal itu lebih baik Jake mengerjakan pekerjaan yang sempat gurunya tinggalkan tadi.

Cukup mudah bagi Jake, siswa kelas 12 untuk menyelesaikan materi sehari-hari. Hanya tinggal ganti angka dan semuanya beres. Begitulah prinsipnya ketika mengerjakan soal matematika yang memiliki rumus tersendiri.

***

Begitu bel telah berbunyi maka tidak ada alasan lain untuk semua orang keluar dari sekolahan. Ada juga yang sekedar bermain sejenak di lapangan, tapi Jay tahu, ia memiliki tugas atau titipan untuk menghantarkan Jake pulang ke rumahnya. Tentu saja ketika Jungwon memberitahukan itu, tanpa dia kali pikir lagi Jay menerimanya.

Begitu motor sudah siap, Jay ajukan motornya sampai dekat pada turunan pertama. Baru saja membelokkan motornya untuk ke depan halte, justru pemandangan yang sama ia temukan sekarang.

Di sana, tepat di depan halte berwarna biru ada Jake bersama dengan kakak tingkatnya yang bernama Heeseung.

"Sialan tuh orang."

Sebenarnya, Heeseung Lee bisa dibilang juga sepupunya. Heeseung adalah anak dari kakaknya sang ayah, tapi Jungwon adalah anak dari adik sang ayah. Jadi ayah dari Jay adalah anak tengah. Begitulah rangka silsilahnya. Itu juga yang membuat Jungwon memanggil Jay menggunakan 'kak' walaupun mereka satu tingkat.

Kembali pada situasi yang sangat tidak bermanfaat bagi Jay, ia memilih untuk pergi saja. Pergi mendekati halte maksudnya.

"Bang Hee," panggilnya begitu motornya berada tepat di samping motor milik Heeseung.

"Eh Jay? Balik gih."

"Gue mau nganter Jake, bang. Ayo Jake!" Ajakan Jay sayangnya dijawab gelengan oleh Jake.

Jake berujar sembari menatap Jay dengan tajam, "Aku bareng kak Heeseung aja."

Sedetik kemudian Jake tersenyum pada Heeseung yang telah menunggu, "Ayo kak!"

Belum sempat Jake menaiki bagian jok motor, Jay meletakkan tangannya di sana. Seolah berkata bahwa tidak seharusnya Jake melakukan apa yang hendak dilakukannya.

"Balik sama gue."

"Nggak, aku mau sama kak Heeseung."

Jay tetap bersikeras, "Jungwon nyuruh gue buat balikin lu. Otomatis gue bertanggung jawab sama lu."

"Nanti tinggal aku bilang ke Jungwon kalo aku pulang sama kak Heeseung. Begitu aja mau dibuat rumit."

"Jake," panggil Jay akan tetapi nada dari suara tersebut tidaklah baik.

Yang dipanggil terdiam. Sebenarnya bisa saja Jake melawan, tapi kini Heeseung turun tangan.

"Udahlah Jay, lagian Jake mau balik sama gue. Biarin lah, gue bawa sampai rumah dengan aman dan selamat."

"Kagak bang, gue ya gue."

"Buset posesif banget, siapanya lu?"

Jay menatap sepupunya dengan marah, "Lu kagak perlu tahu."

"Nggak ada hubungan 'kan? Tah kalaupun ada ya lu nggak bisa maksain kehendak orang. Gue yang anterin Jake balik."

Kemudian Heeseung menyingkirkan paksa tangan Jay, ia menyuruh Jake untuk langsung naik. Dengan helm yang sudah disiapkan, setelah Jake memakainya, maka mereka pergi. Jejak kepergian mereka membuat Jay semakin kesal. Ia bukan tipe orang yang bisa mengandalkan amarahnya.

"Bangsat!" Begitu kata terlempar, maka Jay akan pulang.

***

Terasa sangat cepat bahwa esok tepat sebulan Jake berada di SMA Darma. Begitu hari berjalan begitu cepat maka seluruh tokoh juga akan merasakannya. Hari-hari berlalu tanpa percakapan intens antara Jake dengan Jay, keduanya sering bertemu akan tetapi Jake mengalihkan pandanganya. Itu membuat Jay semakin kesal.

Setelah jam sudah menunjukkan waktu istirahat kedua yang durasinya lebih panjang, maka Jay bertekad untuk berbicara pada Jake hari itu juga, saat itu juga. Kali ini ia tidak beruntung, ketika ia datang ke kelas, tidak ada Jake di sana. Ia juga pergi ke kantin , tapi tidak ada. Sampai ketika ia berniat untuk membasuh wajahnya sejenak, ia mendengar suara dari dalam bilik.

"Lalu jika ini 7, ini berapa."

Jay tahu itu Jake, maka dengan satu ketukan saja tiba-tiba Jake membuka pintunya. Melihat bahwa kini keduanya terkurung dalam kamar mandi membuat Jay buru-buru mengunci pintu.

Jake segera berusaha membukanya, tapi sial, tubuhnya lebih dahulu dibawa untuk terbentur dinding kamar mandi. Punggung Jake menjadi terkena dinding karena sekarang Jay menghimpitnya. Kejadian yang sama saat di atap sebulan yang lalu. Sungguh disayangkan, Jake membencinya.

"Lepas!"

Mendengar pria itu membentaknya tentu Jay semakin tertantang, "Mau apa lu? Lu kagak bisa pergi, Jake."

Jake membuka kedua matanya lebar ketika ciuman itu terjadi lagi.

— tbc.

OBSESSION Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang