Langkah yang semakin dipercepat ditambah deru nafas yang tidak karuan, Jay sampai di atap. Sunghoon bersama dengan sahabatnya. Mereka duduk di sebuah kursi bekas yang masih bisa dipakai. Mereka memandang ke depan, beberapa gedung nyaris menutupi pandangan mereka. Dipenuhi asap khas Indonesia.
"Lu nggak bisa seenaknya Jay," ujar Sunghoon yang mengeluarkan vape dari kantong celananya.
"Lu nggak ada hak buat ngatur gue," selesai dengan kalimatnya maka Jay bawa dirinya mendekati pembatas dinding di tepi atap.
Jay masih belum bisa meredam emosinya. Ia ingin kembali menghajar Heeseung yang mungkin sedang diobati oleh Jake sekarang.
Membayangkannya saja Jay sudah muak, "Sialan."
Sunghoon tarik pundak temannya, "Belajar kendaliin emosi lu. Belajar buat nggak perlu semua keinginan lu itu jadi kenyataan, bangsat."
Pada akhirnya, Jay memukul rahang Sunghoon. Sunghoon yang tidak terima juga memukul rahang Jay yang menyebabkan Jay nyaris jatuh. Meski badan keduanya sama tapi Sunghoon lebih kuat dibandingkan dengan Jay.
Angin panas bercampur dengan cahaya matahari di atas sana. Jam yang menujukkan sudah siang membuat keduanya lelah bertarung. Kursi yang sama menjad pelarian mereka untuk kedua kalinya. Ditemani dengan vape pada masing-masing tangan mereka.
"Jungwon tahu lu disini?" Sunghoon menggeleng.
Jay kembali bertanya, "Lu mau nemenin gue bolos sampai balik?"
"Mau lah gue mah, yakali nolak," tawa Sunghoon disusul dengan tawa Jay.
Jay kembali melihat ke depan. Ia sempat terpaku pada kata 'emosi'. Ia mulai mengulik kembali pada momen-momen yang pernah ia lalui bersama keluarganya yang sebelumnya. Tentang bagaimana ia mudah melampiaskan emosinya.
"Hoon, lu tahu 'kan kalo bapak gue yang sekarang bukan bapak gue yang nikah sama ibu gue dulu?"
"Hah?"
Jay menoleh, "Dulu ibu gue pernah nikah sama bapak pertama gue, tapi mereka saling selingkuh dan gue anak selingkuhan ibu gue sama bapak gue yang sekarang. Tapi bapak pertama gue buta akan fakta itu."
Vape yang kembali dihisap membuat ceritanya berlanjut, "Sampai akhirnya bapak pertama gue main tangan dan cerai beneran sama ibu gue. Terus ibu gue nikah sama bapak kandung gue."
"Terus gimana kabar—"
"Udah mati."
Sunghoon tentu hanya mengangguk. Ia tidak ingin memperburuk kondisi yang bisa saja lebih buruk. Akhirnya Jay terkekeh sendiri. Membuat Sunghoon menatapnya dengan tatapan bingung, takut dan ngeri.
"Gue dulu bego banget Hoon, udah tahu ibu gue dipukul tapi gue diem. Mulut gue ditutup sama semua permintaan gue yang langsung dikabulin sama bapak pertama gue."
"Udah Jay, sekarang hidup lu makin enak 'kan? Nggak perlu lu sesali karena lu diem."
Sunghoon merangkul sang teman, "Yang perlu lu lakuin sekarang adalah hidup bahagia. Berhenti selalu memaksa apa yang lu inginkan. Jake takut sama sifat lu yang itu."
Mendengar sebuah pernyataan maka Jay menatap tajam pada Sunghoon, "Nggak usah sok tahu begitu Hoon."
"Cowok gue bilang kalo Jake cerita dia takut sama lu. Lu apain anak orang, Jay? Lu skidipapap? Lu bolongin?" Tawa Sunghoon membuat Jay kembali emosi.
Jay berdiri, "Gue nggak perlu nasehat lu yang nggak mutu itu bangsat!"
Setelah melihat Jay pergi maka Sunghoon tertawa keras. Ia suka menjahili sang sahabat. Dari kecil, mereka sudah berteman bahkan mereka masuk ke SMA yang sama adalah sebuah keinginan yang direncanakan. Keinginan dari mereka dibantu relasi keluarga mereka maka mereka bisa ada pada satu sekolah.
***
Pada saat sebuah tikungan dilewati oleh Jay, ada Jake yang berjalan cepat ke arahnya. Kedua sorot mata Jake memiliki pandangan yang bercampur. Seperti ia marah, ia kecewa, ia tidak tahu dan sedikit rasa khawatir tentang Jay. Yang dapat dilihat tapi dapat dirasakan hanya aura yang mungkin tidak baik untuk Jay.
Melihat si manis mendekat tentu Jay menantikannya meski wajahnya hanya tersirat kedataran.
Plakk!
Senyuman dalam hatinya pudar. Ia menoleh ke samping karena tamparan pada pipi kirinya. Tak perlu ditanya siapa pelakunya, si manis pemilik bibir tebal adalah sang pelaku. Jay masih terdiam pada pemandangan di samping.
"Kenapa kamu selalu membuat keributan Jay? Tidak bisakah kamu diam, jadi anak baik sehari saja?" Bentakan dari Jake mampu membuat Jay diam.
Tidak dengan tatapan Jay yang kini menatap pada kedua iris mata Jake. Laki-laki yang ia cinta itu menangis, karena dan untuk dirinya.
"Ada apa cantik? Apa yang gue perbuat yang nyakitin lu?"
"Bodoh. Kamus sangat bodoh Jay, bagaimana bisa kamu bertanya apa yang kamu lakukan? Kamu bertengkar dengan Heeseung secara tiba-tiba? Kekanak-kanakan!"
Jay hendak mengusap pipi Jake tapi ditepis oleh Jake, "Kalo semisal gue nggak lakuin itu, gimana gue bisa dapetin lu sayang?"
Jake menggeleng, "Hentikan Jay, jangan terobsesi sama aku. Aku nggak suka kamu."
"Hey, lu yang narik gue ke dunia lu. Kecantikan lu, kebaikan hati lu, tawa lu bahkan bibir manis lu yang buat gue ketarik. Sayang banget kalo manusia kaya lu nggak bersanding sama gue," ujar panjang Jay yang menyebabkan luka di bibirnya sedikit menampakkan darah.
Jake melihatnya.
Namun, ia tetap masih menahan amarahnya, "Aku nggak suka sama kamu. Jadi tolong Jay, tolong jangan dekati aku lagi! Aku capek Jay!"
Tangan kecil Jake ditarik oleh Jay, badan mereka berbenturan dengan Jake yang ada pada rengkuhan Jay. Keduanya bertahan untuk beberapa lama. Sampai akhirnya Jake bisa lepas dari rengkuhan Jay.
"JAY!"
"Iya cantik iya, gue anterin pulang ya?"
Yang ditanya menggeleng, "Aku tegasin sekali lagi Jay. Aku nggak suka sama kamu. Aku nggak cinta sama kamu. Aku capek sama kamu. Aku menyerah sama kamu. Aku nggak mau kamu ada di dekatku lagi sebelum kamu sehat."
Jake menujuk kepalanya sendiri dengan satu telunjuk, "Otak kamu. Pikiran kamu, sehatin dulu itu semua baru kamu bisa temanan lagi sama aku."
Jay tersenyum manis, justru membuat Jake bingung, "Kenapa?"
Ia terkekeh, ia mengusap ujung matanya, "Jake, sebenarnya yang munafik itu gue apa lu? Dengerin gue. Gue cinta sama lu, diri lu, semua tentang lu. Gue bakal perjuangin lu, gue bakal dapetin lu gimana pun caranya. Bahkan..."
Jay bawa suaranya mendekati samping telinga Jake. Suara yang mampu membuat si manis merinding sekaligus terkejut.
"Kalo gue harus singkirin Heeseung."
Jake terdiam. Ia hanya bermain-main soal menyukai Heeseung, maksudnya ia tidak benar-benar menyukai Heeseung dengan kata 'suka' atau 'cinta'. Sungguh. Ia tidak menyangka bahwa Jay bisa se kejam itu.
Hanya untuk mendapatkan dirinya?
"Bagaimana Jake? Masih mau sama Heeseung daripada sama gue?"
—tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSION
Romansa[FOLLOW DULU BARU BACA] Pagi yang diisi oleh kejahilan Jay membuatnya dengan sang sahabat, Sunghoon, harus melaksanakan hukuman dengan membersihkan halaman sekolah. Akan tetapi sesuatu menarik perhatian Jay. Keinginannya yang tidak pernah diabaikan...
