10 ; [Pilihan Terbaik]

146 18 0
                                        

Siang hari ini keadaan kantin terlihat ramai oleh beberapa orang. Mungkin bisa dibilang meningkat 20% daripada hari sebelumnya. Ada beberapa rombongan yang memilih memadati toko yang berjejer, ada pula yang tertawa di meja kantin yang disediakan pihak sekolah. Terdengar suara tawa dari segala sisi. Kericuhan juga terdengar sangat lapar di telinga.

Jay memasuki kantin bersama dengan Sunghoon yang sedang menelfon kekasihnya. Terkadang Jay harus menambah stock kesabarannya karena sang sahabat terlihat sangat manja kepada sepupunya.

"Lu kalo cuma nambah beban si Jungwon, saran gue lu stop telfon Jungwon."

"Apaan anjir, gue memberi semangat ini."

Yang diberikan jawaban tampak enggan membalas lagi. Mereka akhirnya mengantri semangkuk mie ayam untuk dimakan pada 30 menit waktu istirahat. Selama mengantri, ia mengedarkan pandangannya. Siapa sangka dipojok sana, Jay melihat seseorang yang ia suka tengah mengobrol dengan asyiknya.

Seperti percakapan mereka keluar dari suasana kantin yang ramai. Ia tidak masalah dengan orang lain tapi ia memfokuskan dirinya pada Jake, si penyita perhatian Jay semenjak Jake pindah ke sekolahnya.

Jay mengerutkan keningnya begitu melihat Heeseung, temannya, yang mengusap ujung bibir Jake. Hanya karena ada sisa keripik di sana. Sebuah senyuman miris tercetak di wajah Jay. Di depan Heeseung ada sebuah tisu, kenapa Heeseung tidak mengatakan pada Jake dan memberikan tisu untuk Jake membersihkan ujung bibirnya.

Apa yang barusan ia lihat justru lebih mengejutkan.

"Kocak, Jake salting anjir," ujarnya kecil.

Sunghoon yang ikut melihat hanya tersenyum, ia sudah mengakhiri teleponnya, "Cocok juga Heeseung sama Jake."

"Ngomong sekali lagi anjing," nada bicara Jay sepertinya tidak baik-baik saja.

Mendengarkannya saja membuat Sunghoon terdiam. Mereka cukup lama untuk melihat interaksi manis dua orang disana, meskipun ada ramai juga yang di sana. Sunghoon akui bahwa dua orang yang ia sebutkan tadi terlihat menonjol dengan keakraban.

"Tapi emang kak Heeseung sama kak Jake cocok sih."

"Kenapa mereka nggak pacaran aja?"

"Nah iya 'kan, jadi COTY nanti."

Bisikkan dari adik kelas yang lewat membuat kedua tangan Jay mengepal. Apa kata mereka tadi? COTY? Selama Jay masih hidup, ia tidak akan membiarkan Jake menjadi milik orang lain.

Jay akui ia menyukai Jake untuk menjadi miliknya. Prinsip hidup Jay, jika ia bisa memilikinya, kenapa tidak. Si anak tunggal suka dengan dunia yang mengikuti permainnya.

"Jay, lihat cok!" ujar Sunghoon menyadarkan Jay yang benar saja, pemandangan tidak biasa di sana.

Melihat Jake yang berjalan ke kamar mandi, Jay berinisiatif untuk mengikutinya. Ia mengatakan pada Sunghoon bahwa ia tidak jadi memesan mie ayam, ada yang lebih penting daripada mie ayam.

Sunghoon hanya mengangguk, ia melihat dan mungkin Jay akan menyusul Jake ke kamar mandi.

"Padahal mie ayam harga mati, Jay."

***

Jake yang sedang membasuh wajahnya terpaksa berhenti ketika melihat pantulan seseorang dari cermin di depannya. Tatapan itu menusuk dan semakin melukainya ketika kedua mata Jake menatap langsung pada kedua mata Jay. Terlihat membara, penuh amarah dan sedikit kecemburuan mungkin..

"Seneng bener lu deket sama Heeseung," ujar Jay mendekat selangkah.

Jake memantapkan tatapannya, "Aku suka mendapat teman baru, Jay. Memang kenapa?"

OBSESSION Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang