Menyadari bahwa Jay hanya diam, Jake menjawabnya, "Jay cuma menginap kok, Sun."
Sunoo tentu tidak percaya begitu saja. Ia kenal dengan Jake karena mereka tetangga, ia tahu Jake bukan tipe orang yang mudah mengajak teman untuk ke rumah Jake sendiri. Bahwa selama ini Sunoo hanya tahu bahwa Jungwon lah yang sering ke rumah Jake.
"Aih, lu baru aja pindah ke sekolah itu Jake. Mana mungkin udah mau ngajak temen lain ke rumah. Nginep pula," tatapnya pada Jay.
Jake baru saja akan menjawab tapi Jay berujar, "Gue pacarnya Jake. Mau apa lu?"
Dua orang termasuk semut yang melihat juga terkejut. Sunoo hendak berkata yang lain tapi Jay keburu menutup pintunya. Ia tidak tahu apakah Sunoo pulang atau masih di depan. Tapi sepertinya langkah kaki menjauh membuat Jay yakin bahwa Sunoo sudah pulang.
Sedangkan di dalam, Jake sudah berjalan mendekati Jay. Keduanya berhadapan. Alhasil Jay dapat melihat bahwa Jake tidak terima dengan apa yang Jay katakan.
"Kok kamu bisa-bisanya bilang begitu? Kita nggak pacaran, Jay!" Bentak Jake.
Jay tersenyum kecil, "Lu yakin nolak gue, manis?"
"Lagipula siapa orang yang mau sama pria kasar kaya kamu. Egois, Jay. Kamu egois buat semua orang!" Jake kembali membentak Jay, meski nyalinya kecil.
Jay mendengarnya, ia balik berteriak pada Jake, "Maksud lu apa!"
"Kamu egois, Jay!"
"Sejak kapan lu bisa nyimpulin kalo gue egois? Ada hal yang bikin gue keliatan egois? Mana Jake, mana?" Jay kembali membentak.
Menyadari Jake diam, si anak tunggal itu berujar lagi, "Jangan lu simpulin kalo gue egois! Lu aja kagak tahu dimana letak egoisnya gue, apa? Jawab bangsat. Dimana letak egoisnya gue?! Gue kasar? Lu sendiri yang bikin gue kasar ke lu. Lu suka banget ngelawan, aslinya lu suka kan waktu gue cium?"
Jay berteriak tepat di depan wajah Jake, "Munafik! Lu munafik bangsat!"
Sang pemilik rumah menatap pada lantai, Jay tersenyum miring, "Lu suka kan gue cium? Jujur, Jake."
Jake menggeleng.
Jay mendorong badan Jake, "Munafik lu Jake. Jawab, lu suka kan sama bibir gue?"
Badan Jake kembali didorong namun kali ini Jay mendorongnya lebih kuat. Akibatnya, pinggang Jake mengenai pinggiran meja interior. Mendengar rintihan dari Jake, Jay merasa khawatir. Ia gendong si manis dan mereka duduk di sofa.
"Dimana P3K punya lu?" Tanya Jay dan Jake menunjukkan di dekat kulkas.
Jay menyadari bahwa Jake terbentur pinggiran meja, maka ia membawakan Jake sebuah es batu yang sudah dibungkus tisu. Saat Jay datang, ia mengompres pinggang Jake dengan bongkahan es batu tadi.
"Sorry, gue gak sengaja," ujarnya tapi begitu ia menaikkan baju belakang Jake, ia hampir menyentuh bagian badan Jake yang lain.
Pinggang putih milik Jake membuat Jay tersenyum. Sentuhan yang awalnya di pinggang, perlahan turun. Tapi baru saja hendak menurunkan celana Jake, kedua orang tua Jake sudah pulang. Membuat Jay sedikit merasa kesal.
"Eh ada apa nak?" Tanya ibu Jake.
Jay menjawabnya, "Tadi Jake main lari-lari, tante. Jay udah peringatin Jake buat diem eh dianya masih bandel. Jadinya Jake kepentok meja."
Jake tidak membenarkan itu tapi ia memilih diam. Ia akan kalah suara dengan Jay.
"Begitu ya? Astaga Jake, kamu ini. Masih sakit pinggangnya?" Tanya ayah dari Jake.
"Tidak pa, sudah enakan shh.." Jake mendesis begitu dinginnya es mengenai kulitnya yang terluka.
"Kalo masih sakit, besok kita ke dokter saja ya sayang?"
Jay langsung menoleh, "Tidak usah deh om, Jake juga pasti tidak mau bolos buat besok. Besok kan ada try out."
"Oh iya, try out," ujar Jake begitu mengingat apa yang akan terjadi esok.
"Ya sudah iya, tapi kamu istirahat gih sana. Jay tolong gendong Jake ke kamarnya ya."
Saat ayah dari Jake berujar demikian, Jay tidak beralasan menghindarinya. Saat setelah Jay membaringkan Jake di kasurnya, tentu Jay mengambil kesempatan. Kecupan singkat pada bibir Jake membuat Jay tersenyum gemas.
"Jay, jangan kelewat batas. Kamu—"
Belum sempat Jake menyelesaikan perkataannya dan ciuman mengakhiri perkataannya. Dengan sedikit lumatan hingga kedua Saliva mereka memoles masing-masing bibir. Ketika wajah mereka dijauhkan, Jay usap bibir tebal Jake. Ia tatap kedua mata Jake yang seakan meminta lebih.
Biarlah ia memberi hukuman pada Jake, yang terjadi selanjutnya hanya Jay yang mencium Jake dengan lebih ganas. Hingga bibir Jake terluka dibuatnya. Tapi dari situ Jay menyadari bahwa pria di depannya ini menyukai apa itu 'ciuman'. Bahkan sampai-sampai Jake menutup kedua matanya.
Tak sampai ciuman, Jay dengan berani meraba selangkang Jake tapi ia hentikan saat mendengar langkah kaki mendekat. Ia segera berdiri tegak, mengusap bibirnya dan menetralkan nafasnya. Jake juga melakukan hal yang sama, hanya Jake masih memegangi bungkusan es di pinggangnya.
Pintu dibuka, "Bagaimana sudah enakan, Jake?"
Jake mengangguk, "Hum, enakan kok. Besok Jake boleh sekolah 'kan papa?"
"Tentu."
Waktu yang sudah menunjukkan waktu larut, membuat Jay meminta maaf pada kedua orang tua Jake lalu ia pergi. Sebelum pergi, Jay mengirim pesan pada Jake yang sudah beristirahat di kamar. Jay akan menjemput Jake esok jadi itu sama saja Jake berangkat dengan Jay untuk esok.
Jake menolak tapi Jay tetap memaksa. Bahkan hingga keduanya terhubung selama 20 menit untuk saling mengirim suara. Meski kebanyakan hanya ujaran tak suka Jay jika Jake melawan.
Percakapan mereka menemukan titik henti saat Jay memilih untuk offline. Tidak memiliki cara lain, Jake menunggu esok dengan bermimpi.
— tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSION
Romance[FOLLOW DULU BARU BACA] Pagi yang diisi oleh kejahilan Jay membuatnya dengan sang sahabat, Sunghoon, harus melaksanakan hukuman dengan membersihkan halaman sekolah. Akan tetapi sesuatu menarik perhatian Jay. Keinginannya yang tidak pernah diabaikan...
