Kringg! Kringg!
Suara dari alarm berwarna biru mengejutkan kedua pria yang tertidur semalaman bersama. Sinar mentari yang mulai memasuki kamar pria bernama Jake, membangunkannya. Tidak lupa bahwa Jake merasa ada dalam kehangatan yang lebih dari biasanya. Ia kerutkan keningnya, sembari melihat seperti membaca situasi. Baru ia sadar, Jay, pria itu memeluknya.
Jake berusaha lepas dengan membalikkan badannya, tapi kini tangan yang berwarna sama dengannya justru merengkuh perutnya. Bisa dibilang, Jay memeluk Jake dari belakang. Apakah Jake diam? Iya, dia diam untuk 30 detik karena memikirkan cara untuk pergi. Jika ia bergerak sedikit saja, Jay akan memeluknya lebih erat.
"Jay, aku mau mandi. Ini udah jam setengah 6."
Tapi si pemilik nama tersebut enggan membuka kedua matanya, "Nanti aja, gue masih ngantuk."
Baiklah, kedua pria itu sadar dengan apa yang mereka lakukan. Akan tetapi, begitu Jake merasakan nafas teratur dari Jay, mungkin saja Jay kembali tertidur.
"Jay?" Tidak ada balasan.
Ia coba untuk melepaskan diri dan ia selamat. Tidak ada gunanya bersenang-senang, ia segera berjalan ke kamar mandi. Begitu ia melihat ke arah wajahnya. Jake tidak tahu wajahnya memerah karena apa.
Setelah selesai dengan aktivitas mandi kemudian mengecek kembali bukunya, ia bangunkan pria bernama Jay yang menghuni seluruh kasurnya sekarang. Ia tepuk-tepuk pelan lengannya, tapi sayang, Jay tidak bangun. Terpaksa Jake menggunakan cara sedikit kasar, dengan mencipratkan sedikit air pada wajah Jay. Jay terbangun seketika.
Pada jam 6 lebih 15, Jake bisa melihat Jay menuju kamar mandi. Ia berteriak bahwa seragam untuk Jay sudah siap di gantungan almari kemudian Jake akan menyiapkan sarapan untuk keduanya.
"Jake, gue alergi kacang kedelai," ujar Jay yang baru saja selesai mandi.
Melihat keadaan Jay yang benar-benar menggunakan seragamnya dan juga rambut Jay yang masih basah adalah kegiatan pagi Jake sekarang. Begitu Jake menyuruh Jay untuk duduk sarapan, maka pria itu tidak menolak. Sarapan singkat dengan sepiring nasi goreng juga air putih sangat-sangat menyenangkan.
Begitu sarapan selesai, sekarang mereka bersiap untuk pergi ke sekolah bersama. Jake mengunci pintu akan tetapi ia heran melihat Jay yang bahkan tidak mengambil tasnya sendiri.
"Kamu nggak sekalian bawa tas sama bukunya?"
Jay menggeleng, "Ntar aja, berat kalo gue pake sekarang, Jake."
"Berarti nanti kamu ke rumah aku lagi?"
"Hooh, sekalian ambil seragam juga. Kenapa? Mau gue ke rumah lu setiap hari?"
Jake yang baru saja akan menaiki motor milik Jay menggeleng, "Aku cuma tanya."
Jay mengangguk saja, "Cepetan naik, ntar keburu kita telat. Lu nggak mau 'kan kita telat?"
"Iya."
***
Siang hari yang panas melampaui 28° menjadi alasan Jake menggenggam gelas berisi es teh di tangan kanannya. Sedangkan di tangan kirinya tergenggam oleh Jay, keduanya sedang berada di ruangan yang sama saat Jake dan Jungwon memergoki Jay bersama Sunghoon beberapa Minggu lalu. Alasannya simpel, Jay menyeret Jake mendekat agar keduanya bisa bersama.
Jake memiliki jam kosong sampai pulang nanti, sedangkan urusan Jay juga sudah selesai. Acara itu akan berlangsung sekitar sebulan lagi. Sebenarnya bisa dibilang acara itu adalah acara purna. Dimana OSIS dan MPK serta Dewan Ambalan angkatan Jay sudah selesai.
"Tapi sehabis ini kamu punya tujuan untuk kuliah dimana?" Tanya Jake, ia sebenarnya risih selalu ada di samping Jay. Tapi bagaimana juga, ia bukan tipe orang yang kuat untuk melawan.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSION
Romansa[FOLLOW DULU BARU BACA] Pagi yang diisi oleh kejahilan Jay membuatnya dengan sang sahabat, Sunghoon, harus melaksanakan hukuman dengan membersihkan halaman sekolah. Akan tetapi sesuatu menarik perhatian Jay. Keinginannya yang tidak pernah diabaikan...
