Kamar selalu jadi tempat perlindungan paling sempurna bagiku.
Di saat aku sedih, gundah, atau jika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi.
Aku memiliki kebiasaan mengurung diri di dalam tempat perlindungan ini.
Dekorasi kamarku bisa dibilang lumayan vintage dan ketinggalan zaman, dengan sprei putih motif bunga-bunga dan wallpaper pink shabby favoritku dan Mendiang nenek, buku-buku cerita, meja belajar tua dan penerangan lampu tidur temaram. Boneka-boneka lucu ditata sederhana rapih di sekitar bantal-bantal, menggambarkan betapa aku adalah anak perempuan yang dibesarkan dengan seluruh cinta kasih, meskipun hidup kami seringkali berada dalam kekurangan.
Tempat ini adalah zona nyamanku, tempatku melarikan diri dari sesuatu, saat aku merasa dalam bahaya, tempatku bersembunyi.
Dan seperti malam ini, setelah berhasil melarikan diri dari teror ruang konseling Pak Alden yang mengerikan, aku bergegas pulang ke rumah, hanya untuk menyembunyikan diri di kamar. Tanganku masih gemetaran dengan tisu menyumpal di kedua lobang hidung untuk menghentikan pendarahan, mengabaikan rasa sakit menyengat dan bengkak di wajahku, terus menyembunyikan diri di bawah selimut, menangis tanpa berani bersuara, berharap tak akan pernah ditemukan. Ruangan familiar yang biasanya memberikan perlindungan ternyaman, kini terasa seperti surga yang genting, tak mampu menawarkan apa yang kucari.
Berbagai opsi skenario menghantuiku. Kemungkinan Pak Alden akan mengejarku sampai ke sini, atau menceritakan kejadian tadi sore dan memfitnahku dengan cara memutarbalikkan fakta, menghancurkan masa depanku, segala kemungkinan tampak seperti momok di benak ini.
Habislah aku, aku memang nyaris menjadi korban kekerasan seksual, tetapi aku juga melakukan kekerasan dan perlawanan terhadap seorang guru, memangnya siapa yang akan mendengarkan aku?
Lagipula aku tidak punya seorangpun saksi yang akan mendukungku.
Pikiranku melayang, begitu terekspos dan rentan dalam keheningan kamar.
Suara derit pintu masuk yang tiba-tiba saja mengayun terbuka terdengar dari lantai bawah, mengirimkan satu juta gelombang kejutan ke seluruh sistem otakku.
Suara itu bergema di tengah kesunyian rumah, dan jantungku berdebar kencang seiring rasa takut menjalar di pembuluh darah.
Ketidakpastian tentang siapa atau apa yang menunggu di lantai bawah rumahku hanya menambah rasa takut. Dalam ledakan panik, aku dengan sigap meraih tongkat baseball di balik pintu kamar, memegangnya erat-erat sebagai senjata darurat.
Adrenalin yang terpompa meneguhkan tekadku untuk mempertahankan diri dari ancaman meski dalam keadaan terguncang.
Saat suara langkah kaki yang asing itu bergema di seluruh rumah, aku menunggu dengan cemas, cengkeramanku pada tongkat baseball semakin rapat.
Pikiranku bertanya-tanya tentang siapa saja yang memiliki kunci rumah kami. Terlintas di benakku, bahwa Keenan, kakek, dan aku, seharusnya hanya kami bertiga yang memiliki kunci tersebut, ini membuat situasi semakin membingungkan. Kegelisahan seakan mencakar ulu hatiku saat bersiap menghadapi sang penyusup.
Langkah kaki itu semakin dekat, menaiki anak tangga yang berderit, setiap suara derit semakin menambah rasa tidak nyaman, dan aku menguatkan diri, siap mempertahankan hidup, sekali lagi.
Tongkat pemukul di tangan ini terasa seperti perisai kecil, melindungiku terhadap hal asing yang tidak kuketahui, mataku terpejam, menunggu dan berdoa dalam hati, setetes airmata jatuh saat mengumpulkan keberanian untuk menghadapi penyusup yang memasuki rumahku.
Keheningan hanya dipecahkan oleh nafasku yang pendek dan tertahan. Itu adalah momen yang sebenarnya, di mana dengan begitu putus asa dan dipenuhi rasa takut, aku mengayunkan senjata, hanya untuk merasakan seseorang dengan cepat meraih lenganku, menghentikan serangan sia-sia yang kulakukan.
Counter yang sangat tiba-tiba dan terlatih membuat tulang punggungku merinding, mataku membelalak karena terkejut. Kesadaran bahwa seseorang telah dengan sukses mematahkan segala upayaku untuk membela diri dan membalikkan keadaan membuatku tertegun sejenak.
"Hei! Aya! Apa yang terjadi?"
Itu... Keenan?!
Jantungku berdetak kencang saat mendengar suara Keenan, ada secercah kelegaan menyelimuti. Ketegangan di tubuhku spontan mereda, diikuti dengan mengendurnya cengkeramanku pada tongkat pemukul. Kehadirannya seketika memberikan perasaan lega yang akrab, menghilangkan sejenak ketakutan yang mencekam beberapa saat lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eir AN:GE°
Mystery / ThrillerEir AN:GE° Copyright 2024 Story : Arkadia_Project feat KANRA Editor : PUT Trigger warning : Membaca novel ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman yang disturbing/mengganggu. Terutama bagi mereka yang sensitif dengan tema tertentu. Tags terkait diser...
