Happy Reading Yaaa! 📚😊
___•___
Setelah perpisahan dengan Nadia, Arka merasa hampa. Meski teman-temannya selalu ada di sekitarnya, dia tetap merasa kesepian. Di balik senyumnya yang biasa, ada luka yang belum sembuh. Setiap sudut sekolah mengingatkan pada Nadia, dan ia kesulitan menghindari kenangan itu.
Arka mencoba untuk tetap sibuk dengan kegiatan sekolah. Dia semakin aktif dalam kegiatan OSIS, Pramuka, dan Paskibra. Namun, semakin dia mencoba mengalihkan perhatiannya, semakin sulit baginya untuk melupakan Nadia. Rasa marah, kecewa, dan frustasi terus menghantuinya.
Pada satu malam, Arka duduk di depan jendela kamar, menatap langit yang penuh bintang. Ia merenung, berpikir tentang semua yang terjadi. Apa yang salah? Kenapa Nadia memilih Dimas? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Di saat-saat seperti ini, Arka lebih banyak berbicara dengan kakaknya, Aurel. Meskipun Aurel sibuk dengan kerja, ia selalu meluangkan waktu untuk mendengar curahan hati Arka.
"Kak , kenapa ya gue susah banget ngelupain dia? Padahal jelas-jelas dia nyakitin gue," kata Arka suatu malam di telepon.
"Kadang, yang bikin kita sakit itu bukan cuma perbuatannya, tapi harapan yang kita gantungkan pada orang itu, Ka. Gue tahu lo kasih hati lo sepenuhnya buat Nadia. Tapi kadang, kita perlu belajar untuk melepaskan."
Obrolan dengan Aurel membuat Arka sedikit tenang, namun luka di hatinya masih belum sembuh sepenuhnya.
Di sekolah, Arka mulai menjauh dari teman-teman dekatnya. Meskipun Bima dan teman-temannya berusaha menghibur dan mengajaknya hang out, Arka merasa sulit untuk menikmati momen bersama mereka. Rasa cemburu dan sakit hati terhadap Nadia masih begitu kuat. Ia terus merasa tersiksa setiap kali melihat Nadia dan Dimas berbicara atau tertawa bersama.
Bahkan dalam kegiatan OSIS, Arka mulai kehilangan semangatnya. Dia menjadi lebih pendiam dan fokus hanya pada pekerjaan, tanpa banyak berbicara dengan teman-teman OSIS lainnya.
Suatu hari, saat sedang berjalan sendirian di sekitar lapangan sekolah, Arka bertemu dengan Dimas yang sedang bersama teman-temannya. Dimas memandang Arka dengan senyuman yang terlihat angkuh. Arka mencoba mengabaikan, tetapi amarah di dalam dirinya mulai naik.
Malam itu, Arka menulis dalam jurnal pribadinya, "Kenapa rasanya sakit banget? Gue ngerasa hancur, tapi dia malah baik-baik aja. Apa selama ini gue cuma pelarian buat Nadia?"
Dalam keadaan terpuruk, Arka mulai menyadari satu hal, dia tidak bisa terus-terusan membiarkan dirinya dikendalikan oleh perasaan sakit hati. Meski sulit, ia mulai berusaha untuk menerima kenyataan bahwa Nadia sudah tidak lagi menjadi bagian dari hidupnya. Ia juga mulai belajar bahwa kebahagiaannya tidak boleh bergantung pada orang lain, termasuk Nadia.
Arka mulai meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Dia sering pergi ke taman sendirian, berjalan tanpa tujuan, mencoba menikmati ketenangan. Selama proses ini, Arka mulai perlahan-lahan menyadari bahwa untuk bisa maju, dia harus belajar melepaskan masa lalu dan memaafkan dirinya sendiri karena terlalu banyak berharap pada Nadia.
Di akhir episode, Arka berdiri di tengah lapangan sekolah saat sore menjelang. Matahari terbenam di ufuk, memberikan pemandangan yang indah, tetapi sepi. Arka menatap langit sambil menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa sedikit lebih ringan, meskipun rasa sakit itu masih ada.
Bantu vote ya teman-teman 😄🫵
KAMU SEDANG MEMBACA
KISAH TANPA DIRIMU (Tamat)
Teen FictionHalo teman-teman 😊👋 Mau tau novel ini menceritakan tentang apa? BACA DISINI YUK, YUK MAMPIR!!
