BAB 5 : Satu Langkah Lebih Dekat

54 20 9
                                        

Happy Reading Yaa!! 📚😊
___•___

Setelah malam itu, pesan Laura yang mengajak untuk bertemu masih terngiang di pikiran Arka. Mereka sepakat untuk bertemu di sebuah kafe kecil di pusat kota. Ada perasaan berdebar dalam diri Arka, bukan karena ia takut, tetapi karena ia merasa bahwa ini akan menjadi titik baru dalam hubungan mereka.

Hari pertemuan pun tiba. Arka tiba lebih dulu di kafe yang sudah mereka sepakati. Ia memilih meja di dekat jendela, lalu memesan minuman sambil menunggu Laura datang. Saat menatap jalanan yang ramai dari balik kaca, pikirannya melayang pada obrolan mereka beberapa hari terakhir. Tiba-tiba, Arka teringat sesuatu yang sudah lama ia simpan di benaknya.

"Laura suka gue sejak lama." Fakta ini membuat Arka tersenyum kecil, teringat saat Maya dulu pernah bilang sesuatu yang serupa.

Beberapa menit kemudian, Laura tiba. Penampilannya sederhana namun terlihat manis. Saat ia melangkah masuk, Arka merasakan detak jantungnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Laura tersenyum canggung, lalu duduk di depannya.

"Udah lama nunggu?" tanya Laura sambil menaruh tas kecilnya di atas meja.

"Nggak kok, baru aja nyampe," jawab Arka, sedikit berbohong.

Obrolan mereka dimulai dengan hal-hal biasa-tentang sekolah, kesibukan, dan bagaimana rasanya menjalani hari-hari yang semakin sibuk. Namun, setelah beberapa saat, ada jeda di antara obrolan mereka, dan di situlah Arka akhirnya memutuskan untuk menanyakan hal yang sudah lama mengganggunya.

"Eh, Ra," kata Arka sambil menatap Laura. "Gue mau nanya nih. Lo beneran udah suka sama gue sejak lama? Gue denger cerita dari Maya dulu, tapi gue nggak terlalu mikirin waktu itu."

Laura terkejut mendengar pertanyaan itu, meskipun ia sudah sedikit menduganya akan muncul. Ia tertawa kecil, berusaha menutupi rasa malunya. "Hmm, Maya cerita juga ya? Iya, Ka. Gue udah ngecrush lo sejak lama. Tapi, dulu gue cuma berani lihat dari jauh."

Arka terdiam sejenak, menunggu Laura melanjutkan ceritanya. Laura tersenyum, lalu mulai bercerita, "Lo inget nggak, waktu lo sama anak OSIS lain pernah sosialisasi ke SMP-SMP buat promosi sekolah? Waktu itu, lo datang ke SMP gue."

Arka mengerutkan kening, berusaha mengingat. "Waktu ke SMP lo? Yang di daerah selatan itu kan? Iya, gue inget."

Laura mengangguk. "Iya, hari itu gue lagi kelas 9, dan gue inget banget lo datang buat ngomong soal OSIS & ekstrakulikuler di sekolah lo. Gue nggak tau kenapa, tapi pas lo berdiri di depan aula dan ngomong soal kegiatan sekolah, gue langsung kagum. Lo terlihat beda dibandingin siswa SMA lainnya. Percaya diri, ramah, dan... ya, keren aja gitu."

Arka tersenyum mendengar cerita Laura. Ia tidak pernah menyangka kalau pertemuan sederhana itu ternyata membawa dampak besar bagi Laura. "Jadi, dari situ lo mulai ngecrush gue?"

Laura mengangguk, tersenyum malu. "Iya, mulai dari situ. Gue sering dengar tentang lo dari Maya juga. Dia cerita kalo lo aktif banget di sekolah, dan ya... gue makin penasaran. Tapi gue nggak pernah berani ngapa-ngapain. Cuma bisa jadi pengagum diam-diam."

Arka tertawa kecil, merasa lucu mendengar kisah itu. "Gue beneran nggak nyangka. Gue pikir Maya bercanda waktu cerita soal lo."

Laura tersipu. "Iya, gue juga nggak nyangka kita bisa jadi deket kayak sekarang."

Setelah obrolan itu, suasana menjadi lebih santai. Laura dan Arka mulai berbicara lebih terbuka, membahas banyak hal mulai dari mimpi mereka hingga masa lalu. Arka merasa bahwa setiap kali Laura berbicara, ada sesuatu yang menenangkan di dalam dirinya. Tidak seperti hubungannya dengan Nadia yang selalu penuh misteri dan keraguan, bersama Laura, semuanya terasa jelas dan alami.

"Gue seneng kita akhirnya bisa ngobrol langsung kayak gini," kata Arka sambil menatap Laura yang tersenyum manis di depannya.

Laura mengangguk, "Gue juga, Ka. Akhirnya setelah sekian lama cuma ngobrol lewat chat, kita bisa ketemuan beneran."

Obrolan mereka berlanjut hingga sore semakin larut. Arka merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang benar-benar peduli padanya, seseorang yang selalu hadir tanpa perlu ada drama di baliknya. Laura, yang dulu hanya seorang pengagum diam-diam, kini menjadi orang yang paling memahami Arka.

Malam itu, setelah mereka berpisah, Arka berjalan pulang dengan perasaan yang berbeda. Ada sesuatu yang berubah. Ia merasa lebih tenang, lebih ringan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mulai berpikir bahwa mungkin, hatinya sudah siap untuk membuka lembaran baru.

Jangan Lupa Vote 😊

KISAH TANPA DIRIMU (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang