BAB 4 : Secercah Harapan

55 21 5
                                        

Happy Reading Yaaa!! 📚😊
___•___

Hari demi hari berlalu, dan meskipun rasa sakit di hati Arka belum benar-benar hilang, ada sesuatu yang perlahan berubah. Pagi itu, ia bangun dengan sedikit lebih ringan dari sebelumnya. Rutinitas yang biasanya terasa membebani kini seolah memberi arti baru. Kesibukannya di OSIS, Pramuka, dan Paskibra masih menjadi fokus utama, namun bukan lagi sebagai pelarian semata. Ia mulai merasa bahwa ini semua adalah bagian dari dirinya, bukan sekadar pelarian dari rasa sakit yang ia pendam tentang Nadia.

Di sekolah, suasana terasa lebih cerah. Meskipun belum sepenuhnya pulih, Arka mulai bisa tersenyum tulus, terutama ketika ia melihat notifikasi ponsel yang mengindikasikan ada pesan baru dari Laura.

Pesan sederhana yang muncul di layar ponselnya pagi itu adalah ucapan selamat pagi dari Laura,

"Selamat pagi, Arka. Udah siap buat hari ini?"

Arka tersenyum, membalas pesan itu tanpa berpikir panjang,

"Siap banget, hehe. Lo sendiri gimana? Masih sibuk sama tugas sekolah?"

Obrolan mereka mungkin sederhana, namun ada perasaan hangat yang selalu muncul setiap kali Arka berbicara dengan Laura. Tidak seperti Nadia yang penuh misteri, Laura selalu terbuka dan ramah. Ia tahu kapan harus bertanya dan kapan membiarkan Arka bercerita tanpa desakan.

Selama beberapa minggu terakhir, mereka semakin sering berbincang. Awalnya hanya sekadar obrolan ringan, tapi lama-kelamaan, Arka mulai merasa nyaman berbagi lebih banyak tentang dirinya. Laura mendengarkan dengan sabar setiap cerita tentang hari-harinya di sekolah, bahkan ketika Arka bercerita panjang lebar soal kegiatannya di OSIS, Pramuka, dan Paskibra.

Suatu sore, setelah latihan Paskibra yang melelahkan, Arka duduk di pinggir lapangan, menatap kosong ke langit. Pikirannya masih terus berputar pada perasaan kecewa dan marah yang terkubur dalam. Namun, di sela-sela kesunyian itu, ia menerima pesan dari Laura.

"Capek latihan? Jangan lupa istirahat ya, Ka." tulis Laura, disertai dengan emotikon senyum.



Arka tersenyum tipis saat membaca pesan itu. Ada perasaan tenang setiap kali Laura menunjukkan perhatian, meskipun dengan cara yang sederhana. Arka mulai merasa bahwa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya. Tidak seperti Nadia yang selalu membuatnya merasa perlu menebak-nebak perasaannya, Laura selalu hadir dengan cara yang tulus dan jelas.

Beberapa hari setelah itu, Arka duduk di kantin sekolah saat Bima, sahabatnya, menghampirinya.

"Lo kayaknya sekarang sibuk banget, Ka," kata Bima, sambil menatap Arka dengan alis terangkat. "Lo udah beneran move on atau ini semua cuma buat ngehindar dari kenangan soal Nadia?"

Arka terdiam sejenak, mengaduk jus jeruk di depannya. "Gue nggak tahu, Bim. Mungkin awalnya gue cuma sibuk biar nggak kepikiran. Tapi sekarang, gue mulai ngerasa gue bisa lebih dari itu."

Bima menyandarkan punggungnya, menatap serius ke arah Arka. "Gue cuma nggak mau lo terlalu nyakitin diri lo sendiri, Ka. Kalo lo butuh cerita, lo tau gue selalu ada buat lo, kan?"

Arka tersenyum, merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bima. "Iya, gue tau. Thanks ya, Bim."

Di tengah kesibukan dan pencariannya untuk pulih, satu hal yang selalu membuat Arka merasa lebih baik adalah Laura. Mereka mulai semakin sering mengobrol, bukan hanya soal hal-hal ringan, tetapi juga soal mimpi dan harapan mereka di masa depan. Laura, meski masih terlihat sederhana di luar, ternyata memiliki ambisi dan cita-cita besar. Dan semakin sering mereka berbicara, semakin Arka merasa bahwa ia bisa menjadi dirinya sendiri di hadapan Laura.

Suatu malam, saat sedang asyik bermain game online, Arka melihat notifikasi dari Laura. Pesannya kali ini sedikit berbeda, lebih personal.

"Ka, gue tau lo sibuk banget akhir-akhir ini. Tapi jangan lupa juga buat jaga diri lo. Lo penting, jangan sampe kecapekan ya."

Arka tertegun sejenak membaca pesan itu. Rasanya ada sesuatu yang menyentuh di dalam dirinya, sesuatu yang tidak ia rasakan sejak hubungannya dengan Nadia. Tanpa sadar, ia mulai menunggu pesan-pesan dari Laura lebih sering. Ia bahkan mulai merasa berdebar setiap kali melihat nama Laura muncul di layar ponselnya.

Obrolan mereka semakin intens, dan Laura selalu tahu bagaimana membuat Arka merasa nyaman. Setiap kali Arka menceritakan tentang kesibukannya di OSIS atau betapa lelahnya ia setelah latihan Paskibra, Laura mendengarkan tanpa pernah menghakimi. Ia hanya memberikan dukungan sederhana, tetapi itu cukup bagi Arka.

Sampai akhirnya, pada suatu malam, Laura mengirim pesan yang lebih menantang.

"Arka, gue punya ide. Gimana kalo kita ketemuan langsung? Udah lama juga kita ngobrol lewat chat, dan kayaknya seru kalo ngobrol langsung."

Arka terdiam, menatap ponselnya. Hatinya sedikit berdebar, tetapi bukan karena ketakutan. Sebaliknya, ada rasa antusias yang perlahan merayap di dadanya. Setelah beberapa saat, ia membalas pesan itu dengan senyum di wajahnya.

"Boleh banget. Kapan dan di mana?"

Malam itu, Arka tidur dengan perasaan yang lebih ringan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahwa ada awal yang baru menunggunya. Dan meskipun masa lalunya dengan Nadia masih membayangi, ia tahu bahwa Laura adalah cahaya yang perlahan menerangi jalan ke depan.

Jangan Lupa Vote 🫵

KISAH TANPA DIRIMU (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang