Happy Reading Yaa!! 📚😊
___•___
Waktu terus berjalan, meski luka di hati Arka masih terasa sama. Setiap pagi, ia bangun dengan berat hati, memaksakan senyum ketika bertemu teman-temannya. Di sekolah, ia tenggelam dalam rutinitas yang monoton. Namun, di balik itu semua, Arka mulai mencari cara untuk mengalihkan pikirannya.
Hari-harinya kini dipenuhi dengan kegiatan ekstrakurikuler. Seolah-olah waktu luangnya hilang begitu saja, digantikan dengan tugas dan tanggung jawab yang menumpuk. Di OSIS, Arka menjadi lebih aktif. Setiap rapat, ia berusaha mengambil peran lebih besar, mengurus acara-acara, dan berinisiatif untuk berbagai proyek sekolah. Ia berharap kesibukan ini bisa mengusir rasa sepi yang terus menghantuinya.
Tak hanya di OSIS, Arka juga melibatkan dirinya lebih dalam di Pramuka dan Paskibra, dua kegiatan yang awalnya ia ikuti sekadar untuk mengisi waktu. Kini, keduanya menjadi pelampiasannya-cara untuk melupakan segala yang terjadi dengan Nadia. Di Pramuka, Arka mulai mengambil tanggung jawab lebih besar. Ia melatih adik-adik kelas dengan semangat yang tak pernah surut. Setiap latihan terasa seperti tantangan yang harus ia taklukkan. Ada kepuasan tersendiri saat melihat mereka berproses, meskipun dalam hatinya, ia tahu bahwa ini semua hanyalah pelarian.
Paskibra pun tak luput dari pelariannya. Setiap kali ada latihan, Arka habis-habisan. Ia memberi seluruh tenaganya, seakan-akan setiap langkah dan gerakan dapat menghapus semua pikiran tentang Nadia. Baginya, berlatih Paskibra adalah cara untuk melepaskan emosi yang ia pendam-amarah, kecewa, bahkan kesedihan. Keringat yang mengalir di tubuhnya saat latihan menjadi saksi bisu perjuangannya mencari pelarian dari rasa sakit di hatinya. Ia mengisi setiap detik dengan kegiatan fisik yang menguras tenaga, berharap kelelahan itu bisa membuat pikirannya kosong.
Meskipun Bima, sahabat terdekat Arka, memperhatikan perubahan ini dan mencoba mengajaknya bersantai, Arka memilih terus tenggelam dalam kesibukan. Baginya, semakin ia sibuk, semakin sedikit ruang untuk kenangan tentang Nadia.
Di malam hari, Arka pun melanjutkan pelariannya di dunia maya. Game online menjadi pelampiasan lainnya, cara untuk melupakan kenyataan. Ia bermain berjam-jam hingga lelah dan tertidur, berharap rasa kantuk dapat menggantikan pikiran tentang masa lalu.
Suatu malam, ketika ia membuka aplikasi media sosial untuk sekadar melihat update dari teman-temannya, Arka tanpa sengaja melihat akun seseorang yang belum ia kenal sebelumnya. Nama gadis itu adalah Laura, wajahnya tampak familiar. Setelah melihat bio Laura, Arka teringat bahwa Laura adalah adik dari Maya, kakak kelasnya yang sudah lulus.
Rasa penasaran membuat Arka tanpa berpikir panjang menekan tombol follow. Tak butuh waktu lama, notifikasi baru muncul di ponselnya. Laura membalas dengan mengikuti akun Arka. Seketika, obrolan kecil melalui pesan pribadi pun dimulai.
Awalnya, percakapan mereka terkesan ringan dan kasual. Sekadar menanyakan kabar atau saling bercanda tentang hal-hal sederhana. Namun, lambat laun, Arka mulai merasa nyaman berbicara dengan Laura. Ada sesuatu tentang cara Laura merespons yang terasa berbeda. Ia tak banyak bertanya tentang hal-hal yang ingin dihindari Arka, seperti hubungan masa lalunya dengan Nadia. Alih-alih, Laura lebih tertarik berbicara tentang hal-hal yang membuat Arka merasa baik. Percakapan mereka mengalir dengan lancar tanpa terasa canggung.
"Arka, lo ikut Paskibra
sama Pramuka juga ya?"
Tanya Laura suatu malam, setelah melihat postingan Arka yang berisi hasil foto-fotonya di kegiatan sekolah.
"Iya, lumayan suka aja sih,
buat ngisi waktu luang,"
Jawab Arka, berusaha terdengar biasa, padahal hatinya cukup senang bahwa Laura memperhatikan hal itu.
Dari obrolan singkat lewat chat tersebut, Arka mulai merasa ada sesuatu yang lain. Tidak seperti Nadia yang penuh misteri dan jarang menunjukkan perasaannya, Laura adalah orang yang terbuka dan hangat. Tanpa sadar, Arka mulai lebih sering menunggu pesan dari Laura. Setiap kali notifikasi ponsel berbunyi, hatinya berdebar sedikit lebih cepat.
Laura pun menunjukkan perhatian dengan cara yang tidak berlebihan. Kadang-kadang, ia hanya mengirim pesan singkat menanyakan apakah Arka sudah makan atau sekadar bertanya bagaimana harinya. Namun, perhatian sederhana itu cukup untuk membuat Arka merasa bahwa ada seseorang di luar sana yang peduli padanya.
Seiring berjalannya waktu, Arka mulai merasa lebih terbuka untuk bercerita. Meskipun ia belum benar-benar berbagi soal hubungannya yang gagal dengan Nadia, ia mulai bercerita tentang hari-harinya di sekolah, tentang kesibukannya di OSIS, Pramuka, dan Paskibra. Laura selalu mendengarkan dengan sabar dan memberikan respons yang membuat Arka merasa lebih nyaman.
Di akhir episode, Arka duduk di bangku taman sekolah saat sore hari, menatap ponselnya. Di layar, ada pesan dari Laura yang sederhana namun bermakna
"Jangan lupa istirahat ya, Ka. Gue tahu lo sibuk, tapi jangan sampai lupa jaga diri lo sendiri."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arka tersenyum tulus. Meskipun perjalanan untuk pulih masih panjang, setidaknya kini ia tahu bahwa ia tidak harus melaluinya sendirian.
Jangan Lupa Vote 👋
KAMU SEDANG MEMBACA
KISAH TANPA DIRIMU (Tamat)
Teen FictionHalo teman-teman 😊👋 Mau tau novel ini menceritakan tentang apa? BACA DISINI YUK, YUK MAMPIR!!
