Maven dan Jefan yang baru saja kembali dari luar dan tidak menemukan siapa-siapa didalam rumahnya membuatnya bingung
"Pada kemana bang tumben sepi" ujar Jefan
"Coba cek semua kamar aja" ucap Maven
Mereka berpencar untuk menemukan keberadaan sang bunda dan adiknya.
Sampai Jefan yang tengah berada di dapur, ia mendengar suara lirih,
"To..long..."
Dengan perasaan panik ia segera menghampiri sumber suara yang diyakini ada didalam kamar mandi.
"Dek, adek di dalem?" Teriak Jefan dari luar
~~~~
Naren lagi dan lagi kini merasa seperti berada di tempat yang tidak asing baginya, dengan suasana yang sangat indah penuh dengan bunga-bunga dan perasaan yang sangat tenang,
Cahaya putih yang mengkilap menyilaukan mata Naren, sampai ketika ia melihat kembali sosok sang ayah dibalik cahaya tersebut.
Naren berlari dan memeluk tubuh sang ayah dengan sangat erat,
"Ayah ikut Naren ikut mau ayah" katanya sambil terus menerus menangis.
Bara yang melihat diri sang anaknya mendapati luka terus menerus, dengan suara bergetarnya.
"Naren mau ikut ayah?" Tanya Bara
Naren yang mendengar mengangguk semangat dan tak hentinya menangis. Bara memeluk erat tubuh anaknya,
"Sekarang Naren sama ayah disinih ya. Kita pergi ketempat yang lebih aman buat kamu" ujar Bara dengan air mata yang sudah turun.
"Maaf ayah gak bisa jaga Naren disanah, Naren banyak menelan kesakitan. Maaf ayah sudah meninggalkan Naren di kerasanya kehidupan ini." Ujarnya lagi
Naren meraih tangan sang ayah untuk di gandeng, dan pergi menuju cahaya putih..
~~~~
Tak ada sautan dari dalam kamar mandi membuat Jefan kembali dilanda rasa panik,
"Abang tolong bang" teriak Jefan sambil berusaha untuk mendobrak pintu sampai akhirnya dapat terbuka dan menampilkan kondisi yang sangat mengenaskan dari adiknya.
Maven yang mendengarnya segera bergegas menghampiri Jefan, sampai ketika ia melihat tubuh Naren yang sudah penuh dengan luka dengan darah segar yang mengalir banyak tak kuasa menahan tangisnya. Tangis Maven dan Jefan pecah mendapati adiknya dengan kondisi yang jauh dari kata 'baik-baik saja'.
'Dek bertahan. Abang mohon' batin Maven
Maven dan Jefan bergegas menuju rumah sakit, Karena kondisi Naren yang sudah tak sadarkan diri.
~~~~
Ruangan dengan lampu yang menyala, dan beberapa tenaga medis yang sedang berupaya, membuat Maven dan Jefan gelisah. Dengan pikiran yang berkecambuk tak dapat berfikir jernih, memikirkan kondisi Naren yang membuat kedua abangnya dilanda ketakutan. Ketakutan akan 'kehilangan'.
Setelah beberapa jam kemudian akhirnya dokter keluar,
"Mohon maaf dengan berat hati. Kami menyatakan pasien tidak dapat diselamatkan. Akibat luka dalam kepalanya yang serius dan tidak segera dibawa kerumah sakit membuat pasien kekurangan banyak darah. Kami ucapkan sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya" kata dokter tersebut dan pergi meninggalkan mereka.
Bak terhantam batu besar Maven dan Jefan tak kuasa untuk menahan tangisnya, tangis mereka pecah menggema di seisi ruangan.
'Ayah kenapa hukum Abang seperti ini? Bukan hukuman ini yang Abang mau ayah. Maaf Abang gagal jaga Naren" batin Maven
Dengan kain putih yang sudah menutupi seluruh badan serta wajah Naren, Maven membukanya untuk melihat wajah adiknya untuk yang terakhir kalinya.
"Adek maafin Abang, Abang gak bisa jagain kamu. Adek kuat, adek hebat bisa bertahan sampai adek bisa ketemu ayah" ujarnya seraya mengelus surai Naren.
"Jenjen minta maaf. Naren jagoannya Jenjen tidur yang nyenyak ya ganteng. Jangan lupa datang ke mimpi Jenjen ya" ujarnya dengan suara bergetar.
Jefan yang seketika memundurkan badannya akhirnya menjatuhkan diri kelantai, dengan tatapan kosongan dan jiwa yang seketika keluar dari raganya
"NARENN KENAPA NINGGALIN JENJEN" teriaknya dengan tangis yang semakin pecah.
Tangis pilu dari sang kembaran membuat sang abang segera menghampirinya dan memeluk erat tubuh sang adiknya,
"Yang kuat ya dek, Naren udah bahagia diatas sama ayah" ujarnya dengan tangis yang sudah tidak dapat dibendung lagi.
Mereka berdua menangis dengan saling memberi kekutan.
Selamat membaca yaa, Semoga suka🤍🤍
Jangan lupa vote+komen agar bubub makin semangatt updatenya✨✨
KAMU SEDANG MEMBACA
Naren ✅
Teen FictionNaren pemilik arti nama 'manusia yang penuh kebahagiaan' nyatanya tidak sebagai itu. Naren anak 18 tahun yang mengidap autisme, Sering sekali dianggap aneh oleh halayak tidak begitu juga keluarganya. Yang menganggap bahwa Naren anak 'pembawa sial'.
