5. Bahagia? Duka?

483 28 2
                                        















Naren kini tengah berbaring lemah diatas kasur rumah sakit. Setelah melewati masa kritisnya kini Naren dinyatakan koma,

Bunda Kilya dan Maven kini tengah berada diruang doktor setelah doktor memberitahu ada informasi tentang keadaan dari Naren.

Maven terlihat gelisah dengan mata yang terus bergetar berharap bahwa kabar yang ia dapat adalah kabar yang menggembirakan.

Berbeda dengan Kilya yang terlihat santai tidak memiliki ketakutan sama sekali, dan tidak memikirkan apa yang kedepannya bakal terjadi dengan anaknya.


"Jadi gini, Saya mau menjelaskan. Keadaan Naren terjatuh sepertinya setelah badan yang terbentur adalah kepala yang terbentur sangat keras ke lantai. Walaupun tidak ada luka yang luar tapi ia memiliki luka dalam. Hasil Rontgen menyatakan bahwa Naren memiliki luka dalam di bagian kepala yang cukup serius karena bisa menyangkut kesehariannya."

"Naren mengalami gangguan koordinasi gerak dan gangguan berbicara, atau yang dimana keterlambatan dalam segala hal.
Semisal, Yang setadinya berbicara normal walaupun terbalik kini sulit untuk mengucapkan beberapa kalimat. Dan juga keterlambatan dari gerak. Yang dimana Naren akan sulit menggunakan kedua tangannya untuk bergerak contohnya." Kata doktor menjelaskan dengan panjang lebar

DEG!!

Seperti terhantam batu besar dan berkali-kali lipat tusukan yang Maven dapat, ia tak menyangka bahwa kini keadaan adiknya bertambah semakin memburuk.

"Resiko yang akan terjadi apa dok?" Tanya Maven dengan suara yang bergetar akibat menahan tangis

"Untuk sekarang kita lihat selama 3 hari, kalau Naren sering muntah, gangguan pada bicara dan dan pingsan selama lebih dari  30 detik ia harus segera dibawa ke rumah sakit kembali untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi. Mudah-mudahan setelah siuman nanti Naren akan baik-baik saja walaupun kecil kemungkinannya." Kata dokter menjelaskan

Maven yang sudah tak sanggup lagi mendengar penuturan dari sang doktor mulai merasa sesak dan tangis sudah tak terbendung lagi. Tangis Maven pecah mendapati kabar adiknya yang begitu menyakitkan.

Kilya yang sedari tadi terlihat biasa dan santai kini memulai aktingnya kembali, ia berpura-pura menangis dan memeluk tubuh Maven,

"Nak, yang sabar ya. Mau bagaimanapun kita tidak bisa mengelak takdir Tuhan. Kita do'akan buat kesembuhan Naren" katanya dengan tangan yang terus mengusap punggung Maven yang bergetar hebat.



~~~~


Hari ini Maven sedang bergantian untuk menunggu sang adik setelah kemarin Jefan yang menunggunya.

Maven sedang menyeka tubuh adiknya yang terbaring diatas kasur, Sesaat tubuhnya dihadapkan ke pinggir Maven mengerutkan alisnya bingung.
Iya pegang luka pada tubuh adiknya, dengan isi pikiran dengan berbagi macam pertanyaan.

'Siapa yang udah buat kamu kayak ginih dek' batin Maven seraya terus menyeka sang adik.



~~~~

Sore itu Maven terlelap tidur dengan tangan yang bergandeng dengan Naren, Maven mulai terusik kala tangannya merasakan pergerakan, dengan nyawa yang belum terkumpul Maven terbangun melihat Naren yang sudah membuka mata. Dengan sigap ia langsung memanggil dokter

"Adek, Adek udah bangun? Bentar Abang panggilkan dokter dulu" ujarnya,

Setelah itu dokter tiba dan mulai memeriksa kembali keadaan Naren,
"Allhamdulillah setelah melewati masa kritisnya dan masa komanya selama 1  minggu Naren kini kembali siuman. Untuk saat ini tolong lebih diperhatikan lagi, dan jangan lupa obat dan vitamin yang saya beri harus selalu diminum. Kalau terjadi apa-apa sama Naren segera hubungi saya" Ujar sang dokter.

Maven mengangguk,
"Makasih banyak dok" ujarnya.

Dokter segera pergi meninggalkan mereka,

"Adek Abang hebat yaa" ujar Maven seraya mengelus surai milik Naren

Naren tersenyum manis tanpa menjawab apapun..

"Mau minum gak?" Tawar Maven

"Ma- ma mau" jawabnya serasa tersenyum

Maven tersenyum dan sedikit berdenyut nyeri ketika ucapan yang keluar dari mulut Naren terlihat sulit dan penuh usaha. Maven segera mengambilkan minum untuk Naren.

Jefan yang sudah mendapatkan kabar bahwa Naren susah siuman akhirnya ia bergegas menuju rumah sakit selepas kuliahnya


~~~~

Jefan yang sudah sampai dirumah sakit segera menghampiri ruangan adiknya berada,

"Adek Jenjen hebat nih udah kuat. Ada yang mau es krim gak?" Ujar Jefan sambil masuk kedalam ruangan

"Ma- ma mau Na-na-ren ma- mau Je-jen ma-u ma- mau" ujar Naren girang walaupun terlihat kesulitan untuk berbicara

Jefan yang melihatnya pun dibuat kebingungan dengan bicara Naren yang terlihat sulit dan perlu usaha sekuat tenaga, Jefan melirik ke arah Maven berusaha meminta penjelasan,

"Bang" bisik Jefan

Maven yang paham menepuk pundak Jefan,
"Nanti Abang jelasin" jawabnya

Jefan kembali beralih kepada Naren,
"Etss, tapi janji dulu sama Jenjen, Naren gak boleh sakit lagi" katanya

"Ja-jan-ji Je-jen ja-nji Na-na-ren" jawabnya sambil tersenyum manis


~~~~


Naren yang kini sedang sibuk makan disuapi oleh bang Maven mendadak lupa bahwa ia akan bertanya, keberadaan bundanya kemana, kenapa tidak ada disinih.

"Bu-bun-da Na-ren bu-nda ma-ma-na?" Ujarnya dengan mulut yang penuh oleh makanan,

"Bunda lagi sibuk, jadi gak bisa datang" jawab Jefan

Naren mengangguk cepat arti ia mengerti,
"Ya ampun adek makannya pelan-pelan loh ini sampai muncrat gituh" ujar Maven yang membuat sang empunya malah tertawa, dan disusul oleh Jefan yang ikut tertawa oleh tingkah laku kembarannya tersebut.



'Semoga kebahagiaan ini selalu berjalan lancar dan selamanya' batin Jefan.


~~~~



Kini Maven tengah berada dirungan doktor setelah tadi meminta untuk sedikit waktu untuk berbincang.

"Dok jadi gini, Setelah Naren siuman tadi ia terlihat kesusahan untuk mengucapkan beberapa kalimat ditambah kalimat yang keluar masih berbelit kebalik dan sedikit terputus-putus" tanya Maven

"Itu adalah gangguan berbicara yang sudah saya jelaskan waktu itu. Untuk sekarang lebih terus dilatih  sedikit-sedikit aja agar Naren tidak selamanya seperti ini." Kata dokter

"Untuk gangguan koordinasi gerak belum ada?" Tanya nya lagi

"Untuk itu belum ada dok" jawab Maven

"Yasudah saran saya untuk sekarang itu saja. Lebih dilatih lagi untuk berbicaranya. Gak usah terburu-buru, pelan aja asal ada perubahan. Kalau terjadi sesuatu hal lagi segera hubungi saya lagi" ujarnya.

Maven mengangguk faham, lalu segera bangkit.
"Kalau gitu saya permisi dulu dok, Terimakasih" ujarnya

'Dek... Adek harus kuat yaa, Ada Abang sama Jenjen dan juga bunda disini' batin Maven




Selamat membaca yaa, Semoga suka🤍🤍
Jangan lupa vote+komen agar bubub makin semangatt updatenya✨✨

Naren ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang