POV Author
"Lu udah pernah ngapain aja sama member Black Vows?"
Pertanyaan yang benar-benar tidak diekspektasikan oleh Greesel. Vory sengaja masuk ke kamar Greesel khusus untuk menanyakan hal itu. Seharian ini dia merenungkan tawaran yang diajukan oleh ci Shani.
Saat merenung di salah satu cafe di Jakarta, Vory memantapkan diri bahwa jawaban Greesel yang akan menentukan keputusannya, apakah dia akan menerima tawaran dari ci Shani atau menolak tawarannya dan mencari pekerjaan lain.
Karena jika Vory menjadi manager para member, maka cepat atau lambat, member Secret Study dan Black Vows akan tahu kalau Greesel adalah adiknya. Dia tidak ingin membuat Greesel berada di posisi sulit. Jadi, lebih baik Greesel mengetahuinya terlebih dahulu sebelum dia mengambil keputusan.
"Cel, jawab." Ucap Vory. Greesel sedari tadi hanya terdiam dengan mata terbuka lebar mendengar pertanyaan Vory.
"Ehm, k–kok kakak tau soal Black Vows?" Balas Greesel dengan ragu-ragu.
"Gaperlu tau gua taunya dari mana, cepet jawab pertanyaan gua" tanya Vory kembali. Greesel tidak berani menjawab, bahkan dia tidak berani menatap mata Vory.
Vory yang menyadari kalau adiknya yang mengelak pertanyaannya langsung mengangkat tubuhnya yang semula rebahan menjadi duduk. Sekarang, dia duduk menghadap ke Greesel. Kedua tangannya memegang pipi Greesel dan dihadapkan wajahnya ke arahnya.
"Cel, apapun itu jawaban lu, gua gabakal ngejudge atau marah. Gua bakal jadi kakak lu." Ucap Vory.
"Tapi... tapi kakak kasih tau juga ya Secret Study itu apa," balas Greesel.
Vory menurunkan tangannya dan melihat ke Greesel dengan wajah memelas.
"Kan udah gua kasih tau, itu grup gaming sama ati—"
"Kak! Kakak minta aku jawab jujur tapi kakak sendiri gamau jawab jujur." Jawab Greesel dengan nada kesal.
Vory menarik nafasnya dalam-dalam dan menghelakannya sambil menatap Greesel.
"Okay, gua bakal jawab jujur, tapi lu harus jawab duluan karena gua duluan yang tanya. Okay?" Ucap Vory sambil memegang pergelangan tangan Greesel.
"Tapi beneran janji ya? Kakak ga marah atau ngejauhin aku?" Tanya Greesel.
Vory menyilangkan kakinya dan menganggukan kepala ke arah Greesel. Greesel menggigit bibir bawahnya untuk memberanikan diri menjawab pertanyaan Vory.
"I'm having sex with 'em" Jawab Greesel dengan cepat sambil menatap mata Vory.
Mata Vory terbuka lebar. Dia mengira adiknya akan melakukan hal-hal lain seperti merokok, ngevape, ngepods, atau clubbing. Karena sepengetahuan dia, adiknya ini masih 'lurus'.
"Y–y–you gay?" balas Vory sambil memiringkan kepalanya dan mengernyitkan dahinya.
"Hey I'm still normal, okay?"
"Hmm, even if you are in one of those rainbows, I won't judge you. I mean, everything is 'normal' nowadays, right?" Balas Vory sambil menenangkan diri.
Greesel menatap mata kakaknya yang melirik ke arah tangannya Greesel sambil mengelus jari-jarinya. Vory terlihat memikirkan banyak hal, dia seperti mengkhawatirkan sesuatu.
"Tenang kak, aku masih suka cowo kok" Greesel menggenggam erat telapak tangan Vory.
"Terus, kenapa lu having sex sama mereka? Lu dipaksa sama mereka? Siapa yang maksa?" Raut wajah Vory tiba-tiba berubah menjadi khawatir.
"Aku ga dipaksa kok kak. Aku... sengaja ngelakuin itu buat nyari tau." Jawab Greesel sambil menundukkan kepalanya
"Nyari tau apa?" Tanya Vory memastikan
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Vows 48 (21+) [END]
FantasiaMenjadi member inti merupakan mimpi dari semua trainee group idol. Greesel V. Constance yang baru saja masuk ke dalam tim inti, diperkenalkan istilah "Black Vows", istilah yang digunakan untuk melanggar peraturan-peraturan yang ada. Cerita ini hany...