Jika tidak ada sepasang tangan
yang mau memeluk, ciptakan pelukan dari kedua tanganmu. Kamu dengan dirimu saja sudah cukup.
.
.
.
.
.
T O I L E T SMA Lentera selalu bersih dan wangi. Setiap jam ada petugas yang membersihkan. Tembok bebas dari coretan, tidak ada tisu yang berserakkan.
Janesa tidak sanggup jauh-jauh dari cermin. Alasannya ke toilet, untuk memeriksa riasan dan penampilan secara keseluruhan. Namun, izin ke guru hendak buang air kecil. Tenang, dia bukan pengidap dysmorphia.
Pouch khusus untuk menyimpan peralatan kosmetik telah dibuka. Berdasarkan kebutuhan, bisa dikatakan cukup lengkap. Buku pelajaran sering lupa dibawa, tetapi yang satu ini selalu ada di dalam tas. Wajib!
"Derita orang cantik.
Pagi cantik.
Siang tambah cantik.
Eh, malam masih cantik."
Lagu aneh mengalun lagi dari mulut, bersama lirik yang tercipta tiba-tiba.
"Kok, cantiknya nggak berkurang?" Kedua tangan membingkai pipi, senyum-senyum sendiri.
Sedikit menyamping, untuk menilik wajah dari sisi lain. Hari ini rambut dibuat sanggul modern, beberapa helai jatuh ke pipi. Cantik sekali. "Anak Bunda Jani dan Ayah Resa, kenapa cantik begini, ya?"
Termasuk dalam golongan kaum narsis, kadar self love-nya terlalu berlebih. Dia mengingatkan kita kepada salah satu tokoh dari cerita mitologi Yunani-
Narcissus-pemuda tampan yang dikutuk jatuh cinta pada diri sendiri.
"Rambut oke, riasan oke, seragam masih rapi." Tentunya tidak termasuk jenis murid cerdas kesayangan guru. Dia memang datang ke sekolah untuk belajar, tetapi bukan tipe pelajar yang serius-serius amat.
Swafoto tidak pernah ketinggalan. Di segala waktu dan tempat. Galeri ponsel penuh dengan foto wajah sekitar 1000-an. Belum terhitung foto full body. Giliran mau dihapus, bingung sendiri. Kalau tanya pendapat Nereya, dibilang semua bagus. Ratu narsis, ratu selfie, semakin banyak saja daftar julukan untuk dirinya.
Sebagai seseorang yang sering selfie, tentu mengubah-ubah ekspresi merupakan keahlian Janesa. Menatap tajam ke kamera demi dapatkan kesan angkuh dan misterius salah satu ekspresi andalan, atau berwajah cemberut dengan bibir agak maju supaya terlihat imut katanya. Oh, jangan lupa, di toilet sekolah mirror selfie harus! Fotogenic. Mau difoto dari arah mana pun, ekspresi dibuat seperti apa pun, tetap saja cantik.
Banyak manusia telah menikah dengan ponsel. Cinta mereka sangatlah posesif, tidak mau berpisah walaupun semenit. Selalu bersama di kamar, dapur, bahkan toilet sekali pun.
BRUAAAKKK!! Pukulan kuat di pintu mengagetkan saja. Janesa melihat dari cermin besar, siapa yang datang.
Untuk ukuran perempuan, orang itu memiliki tubuh yang kekar dan otot terlihat di beberapa tempat. Rambut keriting, kulit sawo matang, menonjolkan sisi eksotis. Nona cendrawasih. Produk Papua trada yang gagal.
Beberapa langkah dan Jovi tiba di sebelah Janesa. "Yang lain belajar, malah di sini sibuk dandan."
"Ya, terus?" Janesa masih becermin, memperhatikan sampai ke bagian kecil.
Senyum sinis tercetak di wajah Jovi. "Nggak heran, sih. Lo ke sekolah cuma buat tebar pesona, 'kan?"
Alis kiri Janesa terangkat sedikit. Gini amat, ya, efek insecure.
"Ada lagi?" Padahal ucapan tadi cukup menjengkelkan tetapi masih ditanggapi Janesa dengan santai.
Jovi menambah langkah, jarak di antara mereka dipersempit. "Gue paling benci cewek macem lo!" Diserukan dengan penekanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Camaraderie
Teen FictionMurid berprestasi? Itu bukan kami! Sekolah nggak usah dibikin ribet. Yang penting naik kelas. Eh, tapi.... kenapa tiba-tiba alurnya berubah? "Kita lihat setelah satu bulan nanti, apakah Bapak masih bisa meremehkan saya selantang ini!"
