Mohon untuk yang mampir ke cerita ini
untuk selalu vote dan komen (hargai penulis)
...
Menikah dengan seseorang yang kita cintai adalah anugerah tapi ketika kita tidak bisa mempunyai anak karena nya, bisakah tetap kita bilang anugerah?
punya hutang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Enjoy reading please
Please don't be a silent reader Leave a trace, right?
!! Vote and comment !!
• • •
"Semua terjadi begitu cepat" arah netra Jisoo ke kedua tangannya yang barusan telah mengantar badan pucat Jennie memasuki untuk kesekian kalinya ke ruangan besi itu "Lisa aku takut" Lisa semakin mengeratkan tautannya pada Jisoo penuh rasa yakin dirinya menguntai senyum tipis sebisa mungkin tidak tersirat rasa khawatir yang sama dari raut wajah nya.
Brakk
Rupanya tidak perlu Lisa mencari kata kata penenang rasa tenang di hati Jisoo tercipta sendiri sesaat pintu besi depan mereka terbuka lebar namun ternyata rasa tenang dalam hati Jisoo hanya sementara memang pintu nya terbuka bukan untuk menyajikan hal yang membuat dirinya bahagia malah semakin sakit.
Disitu Jisoo dengan mata telanjang nya melihat Jennie dimana badannya yang terbaring di ranjang putih yang di dorong beberapa perawat tertutupi banyak alat sampai tidak terhitung jumlahnya bahkan setiap inci badan Jennie tidak terluputkan.
JENNIE MIANHE!!
Teriak Jisoo dalam hati tangan nya terulur membelai pelan pipi gembul Jennie yang dingin dan sekejap mata kemudian tidak ada kesempatan lagi Jisoo memegang nya. Lisa sama halnya Jisoo dirinya tak kuasa untuk tidak membelai berbeda sedikit seluruh wajah Jennie yang pucat pasi itu dibelai seluruhnya.
Dalam benaknya Jisoo hendak menahan ranjang yang terus bergerak itu akan tetapi sudah lebih dulu langkahnya terhenti oleh genggaman erat serta gelengan halus dari Irene.
"Biarkan mereka Jisoo"seolah tiada tenaga lagi untuk melawan Jisoo memaku disitu sembari badannya perlahan meluncur ke dekapan Irene tanpa babibu belaian halus Jisoo rasakan di punggungnya.
Mendongak sebentar netra Jisoo sudah bisa menebak siapa pemilik tangan yang terus saja membelainya "Jennie pasti akan baik-baik saja kau tenanglah" mendengar ucapan penenang Irene bukan hanya badan Jisoo letakkan seluruhnya di pundak wanita bernama asli Bae Joo Hyun itu juga kepercayaan dalam hatinya Jisoo serahkan "aku serahkan padamu"
Irene melepas pelukan mereka bertaut indah jari jemarinya dengan milik Jisoo "ne- kulakukan yang terbaik untuk Jen- tapi Jisoo kau ingat bukan" Irene terdiam tautan mereka yang terlepas telah menjadi pertanda apalagi senyuman paksa yang Jisoo utarakan padanya.
Beranjak dari duduknya Jisoo malah menarik tangan Irene untuk seperti nya ikut beranjak "kau lakukan yang terbaikmu sekarang juga, aku akan menemuinya dahulu" antara paham atau sudah tahu Irene menurut saja berlari mengejar arah perawat membawa Jennie.