08

416 22 191
                                        

Selamat menikmati para readers

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat menikmati para readers

Mohon jangan lupa untuk tinggalkan jejak hargai para author yang udah effort buat cerita!!

!! Vote and comment !!

• • •

"Kau licik"sudah ke sepuluh kali dalam lima menit dua kata hinaan terucap lewat bibir Rosé, bahkan secantik teh hangat yang tersaji di depannya menjadi tidak tersentuh malah hampir jauh dari kata hangat.

Jimin hanya bisa menghela nafas jenguh tanpa berkutik dari kegiatan nya yang tengah nikmat menyuruput secangkir teh nya sendiri walau bagian badan yang dia gunakan untuk mendengar ocehan Rosé rasanya ingin dia copot saja.

Rosé menatap nyalang ke arah Jimin yang sama sekali tidak menoleh padanya "kau bahkan tidak mendengarkan ku!!" dengan tangan nakal nya Rosé menuang cangkir teh hangat yang masih penuh ke arah dada Jimin.

Plakk

Jimin terlonjak tanpa sengaja melayangkan tangan nya pada pipi Rosé dan bukan hanya berhasil membuat suara tamparan yang keras terlihat juga pipi Rosé saat itu seketika memerah.

Memegang pipinya yang terasa sakit mata Rosé mulai memanas "kau jahat Jim hiks... auw" hendak berlari jarum suntik lebih dulu menancap indah di permukaan kulit Rosé.

Sebelum badan Rosé terhuyung menyentuh lantai dengan sigap Jimin meletakkan lengan nya di bagian belakang leher si empu yang mata nya terpejam rapat.

Menyingkirkan helaian rambut di wajah cantik Rosé sengaja sekali Jimin mencengkram bagian rahang Rosé sambil berbisik ' kau mencintai ku tapi sayang aku tidak, jadi jangan berharap dasar gadis sakit jiwa cih' Jimin mendecih tepat di depan wajah Rosé yang terlelap akibat efek obat tidur.

Tidak ingin berlama-lama memegang badan gadis yang menurut nya menjijikan sengaja Jimin melepas lengannya tidak tahu hati-hati atau tidak badan Rosé dia letakan begitu saja di kursi cafe yang tadi mereka duduki.

Memeriksa jam di ponselnya Jimin lanjut menekan nomer telepon seseorang, tidak secara acak Jimin teliti karena barulah saat tepat jam mengarah ke pukul 3 Jimin tekan tombol untuk mengaktifkan fitur telepon.

"Sudah kau lakukan rupanya?"

Suara berat dari sisi lain panggilan membuat tawa jahat Jimin seketika menggelegar.

"Hahaha... tentu dan selalu berhasil"

"Tapi berapa lama lagi aku harus berlaku baik dengan gadis ini aku sudah muak asal kau tahu!!"

Rosé gadis yang dimaksud siapa lagi hanya dia bukan yang berada tepat di samping Jimin sekarang ini. Pria bersuara berat itu terkekeh ringan.

"Hehe... ikuti saja rencanaku bukan kah kau ingin kehancuran adikku ah tidak bajingan itu"

Second Wife (Taennie)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang