Selamat menikmati
Mohon untuk meninggalkan jejak jangan cuma jadi readers gelap
!! Vote and comment !!
• • •
"Ne aku memang berbohong"wajah cantik Jisoo tertekuk menatap sendu gelang yang pernah Jennie berikan padanya di hari ulangtahun dengan perasaan campur aduk "aku tidak ingin dia kecewa padaku" Irene yang semula mengaduk jus dihadapan nya berhenti sekejap.
Membetulkan posisi wajah Jisoo yang terus saja tertunduk, Irene ambil dagu itu lalu dia angkat untuk sejajar dengan wajahnya.
Membuat sekilas senyum ketenangan Irene seraya berkata "tapi nanti nya dia pasti akan lebih kecewa jika kau terus berbohong begini" kepala Jisoo sedikit mengangguk, memang harus ada konsekuensinya bukan akan hal ini dan Jisoo belum siap rasanya mendilemakan.
Ujung bajunya yang semula tanpa lipatan kusut mulai terlihat kusut Jisoo sendiri yang membuat nya kusut, merendam setiap tangisannya dengan cengkraman kuat pada ujung baju nya.
Bibir Jisoo bergetar tak kuat kepalanya tegap dia limpahkan ke arah bahu milik Irene yang sekarang sudah duduk di samping nya, naluri seorang sahabat tidak pernah berbohong Irene juga sangat sedih sama halnya Jisoo namun di satu sisi ada rasa kecewa atas apa yang dilakukan sahabat nya.
"Katakan sejujurnya saja"Jisoo tersentak kepalanya yang semula bertengger rapi di bahu Irene dia tarik matanya membulat sempurna, bahkan kalau tidak ada pengunjung lain disini rasanya Jisoo ingin beranjak secepatnya dari kursi yang dia duduki.
Tapi fokus dulu akan Irene sahabat nya ini memancarkan kepercayaan akan apa yang dia ucapkan tadi padahal Jisoo saja merasa itu adalah jalan terburuk "kau gila atau tidak mengerti keadaanku Irene!!" Irene tidak mengangguk ataupun menggeleng dirinya malah beranjak dari kursi berjalan seolah akan pergi meninggalkan Jisoo.
Deg
Hati kecil Jisoo menjadi terbayang mungkinkah ini yang akan Jennie lakukan padanya jika dia terus saja kekeh atas kebohongan nya sendiri, Jisoo terdiam mulutnya terasa dibungkam oleh kenyataan pahit yang baru saja Irene tunjukkan padanya.
Irene menggenggam tangan Jisoo cukup erat "kau harus percaya padaku inilah yang terbaik kau harus jujur"kepala Jisoo yang tertunduk sedikit mendongak, kali ini tanpa air mata masih tercekat saja lidah Jisoo untuk mengolah kata kata.
Tepat saat Jisoo memberanikan diri untuk berbicara "sudah ku putuskan aku ak-" terdengar pintu cafe terbuka lebar secara kasar.
Brak!!
Menampilkan sesosok gadis cantik yang raut wajahnya bercampur aduk seolah marah tapi ada rasa kecewa di dalamnya "eonni!! Jawab aku dengan jujur" gadis itu Jennie yang kini mendekat ke arah Jisoo dan Irene dengan kalimat tergesa-gesa serta tampilan baju yang sudah compang camping.
Jennie mengambil salah satu kursi dekat dua wanita dewasa itu "kau bilang yang dikatakan pria itu tidak lah benar bukan, kau tidak mungkin Setega itu pada aku ya kan? Katakan eonni" baik Jisoo atau Irene tidak mengerti apa yang dimaksud Jennie saat ini terutama Jisoo yang yakin dirinya lah yang tengah ditanyai oleh gadis dua puluh tahun ini.
Jisoo menarik salah satu gelas yang ada di atas meja mengisikan dengan air putih yang juga tak lumayan jauh berseberangan dengan arah gelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Wife (Taennie)
Hayran KurguMohon untuk yang mampir ke cerita ini untuk selalu vote dan komen (hargai penulis) ... Menikah dengan seseorang yang kita cintai adalah anugerah tapi ketika kita tidak bisa mempunyai anak karena nya, bisakah tetap kita bilang anugerah? punya hutang...
