Ini tentang mereka yang menahan perasaan cinta nya yang kian mendalam.
Dan ini tentang mereka yang tidak pernah mau mengakui perasaannya sendiri.
🐾
Tidak satupun dari mereka yang memaksa kan kehendak. Karena meski mereka memiliki perasaan yang sama...
Kalian tau apa ? Setiap Skylar mencetak gol, Dyren pasti mengejek Skylar seperti mengatai nya hoki atau yang lainnya yang berujung mereka beradu mulut. Itu artinya mereka bicara terus terusan. Irrad merasa ada yang aneh di dirinya, ia terus memikir kan satu hal.
Mereka hanya berteman.
Tapi nampaknya itu tidak bisa membuat pikirannya tenang. Dia iri, Dyren bisa mendapatkan perhatian Skylar. Karena ia merasa tidak kuat menahan rasa iri itu, Irrad merencanakan sesuatu. Sesuatu yang membuat Dyren mungkin tidak akan mengajak Skylar bicara lagi.
Skylar dan Irrad sama sama hebat bermain bola. Tapi karena ada Rinz di tim Sena, Irrad kesusahan mencetak poin. Rinz selalu menghalangi Irrad dengan tubuh nya yang besar. Jadi cuma Skylar yang bisa mencetak poin. Dan saat yang ditunggu Irrad datang. Ia bisa melancarkan rencananya.
Skylar mencetak gol, sebelum Dyren bisa mengejek Skylar lagi Irrad langsung memeluk Skylar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sebenarnya niat Irrad adalah memeluk Skylar saja. Tapi siapa sangka Skylar juga memeluknya dengan erat. Irrad merasa senang. Senyumnya tidak bisa di sembunyikan lagi. Irrad kira itu cukup agar membuat Dyren tidak mengganggu mereka. Tapi nyata nya ?
"Kesenengan nanti dia Rad kau peluk. Hoki aja padahal dia gol tadi." Seakan tidak masalah Irrad dan Skylar berpelukan, Dyren tetap mengusili Skylar.
"Banyak kali omong kau dari tadi Ren" balas Skylar.
Setelah balasan Skylar, Irrad merasa ia benar benar kalah. Dia jadi kesal dengan Skylar. Kenapa Skylar harus merespon semua omongan Dyren ? Tanpa pikir panjang Irrad pergi keluar lapangan.
Irrad duduk di samping Deden. "You, kenapa ga main ? Siapa suruh duduk ?" Tanya Deden. "Gue ga bisa main lagi coach"
"Kenapa gabisa main ?" "Ada Rinz gede banget, susah" Irrad beralasan.
"Why Rad why ? You go there there there and then gol." Masih di pertanyakan apakah Deden sendiri mengerti apa yang dia katakan.
Tanpa membalas Deden, Irrad hanya menyenderkan kepalanya ke kursi. Dia lap keringat di wajahnya dengan hoodie nya, itu membuat bagian perut kecil Irrad terekspos. Setelahnya, bisa ia lihat Skylar menatapnya. Tak lama setelah itu Skylar menghampirinya.
"Ga main lagi Rad ?" Tanya Skylar sambil memegang kepala Irrad yang langsung di tepis Irrad. Irrad hanya menggeleng. Di tutupnya mata nya, tak ingin melihat Skylar.
"Ko gitu ?" Tanya Skylar. Saat Irrad membuka matanya, Skylar tengah berada di antara dua kakinya. Skylar berjongkok sambil memegang paha kanan Irrad. Ia langsung bangun dari posisi duduk santai nya.
"Pake nanya lu Ler, Irrad cape kocak. Dia di jagain Rinz mulu, jadi harus ekstra banyak gerak. Main aja lu lagi. Udah pasti menang ini kita." Deden menjawab pertanyaan Skylar.