"Wah, ksatria datang mau menyelamatkan pangerannya." Ejek salah satu pria berambut cepak dengan kaos oversize putih.
Salah satu diantaranya berdiri, menggunakan kaos hitam tanpa lengan, hingga terlihat dengan gagah dengan lekuk otot dikedua lengan, dia menatapku dengan sinis, rambutnya hitam gondrong sebahu dan wajah tegas. Dia mengambil kuncir di pergelangan tangan, lalu mengikat rambut gaya ponytail ke belakang.
Aku tidak peduli siapa mereka, tapi mereka menghalangi. Emosi dalam darahku tidak dapat terbendung tatkala melihat wajah pria yang aku benci sedang berlutut.
Mataku merah menahan tangis, pupil coklat milikku bergetar. Pria yang tadi menahanku, melihat dengan penasaran. Ekspresiku tergambar seperti orang tidak waras yang bisa mencabik siapa saja.
"Minggir!" Tatapku dengan penuh ketegasan melantangkan suara.
"Hei Raf, sepertinya wanita itu tidak main-main, dia terlihat akan membunuh kita. Apa kita biarkan dia membawa pecundang ini?" Ucap pria sebelahnya melingkarkan headphone di leher.
"Olivia, itu namamu?" Dengan wajah yang berlagak sangar mendekatkan diri ke depanku seperti ingin diladeni.
"Woyy sepertinya dia tuli! Dia tidak meresponmu Rafael." Pria berambut cepak membuat situasi panas.
"Kalian banyak bicara. Cepat minggir sialan!" Teriakku sebari mengumpat, tidak takut dengan 3 sosok pria berbadan besar dihadapanku.
Aku tidak dapat menahan diri lagi, pandanganku melihat sekitar untuk menemukan benda keras sebagai senjata. Aku menemukan batu tepat berjarak dua langkah dari tempatku berdiri, lalu bergegas mengambilnya.
"Hei hei dia gila! Mau diapakan batu itu." Mereka mulai mundur selangkah ketika aku sudah mengenggam batu dengan berat 1 kg ditanganku.
"Minggir!" Aku maju dengan melayangkan batu.
Tangan Rafael menahan tubuhku mengira aku akan mulai menyerang. Tapi lenganku sudah bergerak lebih cepat mengarahkan batu itu, melempar keras hingga tepat sasaran terkena pelipis kepala Edward.
"Akh!" Teriak Edward, darah keluar dari pelipisnya, goresan luka sobek itu memberikan rasa sakit padanya hingga semua orang terkejut.
"Mati kau pembunuh! Kau pantas mati!" Aku berteriak seperti orang kesetanan, tidak bisa menggunakan akal sehat, tubuhku masih ditahan dengan kuat oleh Rafael yang ikut kaget dengan tindakanku.
Pria itu memelukku erat untuk menahan emosi yang sedang menguasai. Dia berusaha meredamnya. Dimana kedua teman lainnya masih tidak menyangka, melihat wanita yang sedang menggila dihadapan mereka.
"Tenanglah! Hei hei, lihat aku, hanya tatap mataku!" Teriakan Rafael membuat aku otomatis tidak dapat menghindari tatapannya.
"Dengar! Tidak apa-apa oke. Kau boleh melampiaskannya. Tapi jangan sampai merugikan dirimu sendiri. Aku yang akan membalas rasa sakitmu. Jadi kumohon tenanglah!" Ratapan bola matanya seolah menyuruhku untuk percaya.
Suara Rafael yang tampak memohon itu, seperti berada dalam kemalangan yang sama denganku, matanya berkaca-kaca, hanya menatapku dengan lembut. Bukan tatapan iba atau kasihan, melainkan tatapan untuk menyerahkan sebagian bebanku padanya.
Aku lemas, mataku kunang-kunang, lalu tersungkur jatuh dipelukannya. Kedua lengan kekar itu seperti bantalan pelindung. Aku tidak tahu apa niat pria yang mendekapku sekarang, tapi dia telah meredakan api dihatiku. Sedikit ingatanku tentang Rafael, dia hanyalah kakak senior yang asing di masa lalu. Aku tidak sadarkan diri setelah itu.
༺𓆩♡︎𓆪༻
13.12.2024
'Gelombang otaknya aktif, semua tampak normal sepertinya kita berhasil professor'

KAMU SEDANG MEMBACA
Breaks Your Heart
RomanceAku berjuang untuk tetap berdiri. Darah terus mengalir dari luka di perutku, dan rasa sakit yang menyengat membuatku hampir tidak bisa berpikir jernih. Dalam keadaan setengah sadar, Aku teringat kembali pada apa yang terjadi: pelarian dari seseorang...