Eight

227 24 2
                                    


Sasuke's POV



Aku mendapati diriku yang sesekali kehilangan fokus karena pemandangan tak biasa yang ada di hadapanku.

"Apakah kau seorang kriminal?" Tanya nya.

"Yah bisa dibilang begitu" jawabku sambil menyeringai.

"Kau pencuri? Atau ... pembunuh?" Ia kembali bertanya dengan bibir lucunya.

"Aku bukan pembunuh" ucapku santai sambil mengelus kucing hitam yang dengan santainya menggunakan pahaku sebagai alas tidurnya.

"Lalu apa yang kau curi?". Selidiknya.

"Hati para gadis" canda ku.

Ia menatapku , aku tertawa dalam hati,saat ini jadi penasaran apa yang ada di kepala kecilmu itu nona.

"Baiklah aku percaya, kulihat dari wajah dan penampilanmu, kau memang tampak seperti seorang pencuri... pencuri hati para gadis" katanya.

'Kuanggap itu pujian'

Sedetik kemudian kudekatkan kepala mengadapnya, kupandangi wajah itu dari dekat. Jarak kami hanya sekitar duapuluh sentimeter. Ia reflek menjauhkan wajahnya.

"Apakah aku juga bisa mencuri hatimu?"

Angin berhembus menerbangkan helai merah jambu nya. Manik emerald yang indah itu membulat. Pipinya bersemu merah.

Merah jambu dan hijau .

Perpaduan yang cukup manis.

Kurasa aku membutuhkan warna itu untuk anak perempuanku kelak.

Kami masih berada di posisi ini selama hampir sepuluh detik.

Ia mengerjap dan berdehem.

"Ehm..apakah pencuri di tempat asalmu memang selalu meminta ijin sebelum mencuri?" Tanya nya.

"Tentu saja tidak, kau pengecualian..." oke, apakah saat ini aku tampak seperti flyyn rider si pembual dalam cerita dongeng?

Ia seperti akan mengatakan sesuatu namun tertahan karena suara guntur yang menggelegar.

Cepat sekali cuaca berubah.

"Kurasa kita harus pulang sasuke-san, atau kita akan terserang flu" katanya.

"Oi teme! Kau dimana?" Terdengar suara Dobe dari kejauhan.

Kami berdua menoleh ke sumber suara.

"Aku harus pergi" katanya. Sepertinya ia masih belum siap bertemu dengan teman-temanku.

Aku menahan tangannya.

"Sasuke-san..." ia memohon.

"Datanglah kesini lagi besok" pinta ku

Ia mengangguk pelan.

"Aku menunggu" kataku dengan sedikit tidak rela melepaskan kaitan tangannya.

Ia berjalan menjauh dariku,sambil sekali menoleh kebelakang , mata kami kembali bertemu, namun tak lama karena hujan mulai deras, ia melanjutkan langkahnya sambil berlari diikuti makhluk kecil berwarna hitam di belakangnya.

Pukk...!!

Seseorang menepuk bahuku. "Disini kau rupanya, aku mencari mu kemana mana tahu,kita harus bergegas pulang" protes pemuda berambut pirang jabrik.

Aku bergeming.

Ia mengikuti arah pandangku. "Oi kau melamun? Apa yang kau lihat?"

"Ck! urusai..."

Blooming sakuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang