Annyeong~ sudah lama aku hiatus dan sempet kehilangan mood menulis karena saking sibuknya di rl. Dulu aku kerjanya weekend, tapi sekarang full. Jadi susah nyari waktunya. Nah sekarang aku coba nulis lagi, meskipun capek tapi aku ngerasa HIDUP aja kalo nulis.
Semoga kalian gak bosen ya sama ceritaku.
Langsung aja yuk
Cekidot
...
Langit desa mulai berubah jingga ketika Sasuke berjalan cepat menuruni jalan setapak dari rumah Sakura. Rahangnya sudah mengeras sejak di sungai tadi—bukan karena ciumannya, tapi karena ada empat makhluk tak berguna yang mengintip adegan paling sakral dalam hidupnya.
Di saku jaketnya, earphone warna kuning Naruto tergeletak seperti barang bukti kriminal "Tch, kubunuh kalian," gumam Sasuke.
Begitu belok di tikungan dekat pohon bambu, Sasuke sudah siap: napas teratur, aura mengerikan, tangan siap menarik kerah baju Naruto duluan. Tapi rencana pembantaian kecil itu berhenti total.
Karena ternyata Naruto, Shikamaru, Sai, dan Neji...
sedang duduk diteras rumah mengobrol santai dengan rambut merah yang entah kenapa akhir-akhir ini sasuke benci warna itu.
Gaara.
Polisi desa.
Pria dengan tatapan lembut tapi mematikan.
.
Naruto sedang tertawa keras, menunjuk sesuatu di ponselnya.
Gaara bahkan tersenyum tipis—entah kenapa senyum itu sedikit menyebalkan menurutnya.
Sasuke memejamkan mata sejenak, kemudian melanjutkan langkahnya, dengan tangan dimasukkan ke saku celana sperti biasa.
Naruto yang menyadarinya reflek akan berkata 'yo teme!', namun urung karena Sasuke mengangkat telapak tangan—diam, tutup mulutmu.
Naruto merasakan aura sasuke lebih menyeramkan daripada biasanya, apakah sasuke benar-benar memergokinya?
Gaara bangkit sopan.
"Uchiha-san ,Selamat sore."
Sasuke mengangguk dingin. "Hn"
Mereka berdiri berhadapan.
Tatapan Gaara tenang, bersih, tidak mengundang masalah.
Justru itu yang membuat Sasuke makin panas—karena orang begini biasanya lebih mudah disukai Sakura.
Gaara berbicara duluan.
"Cuacanya bagus. Jalan dari arah sana sangat sepi, ya?"
Dengan polosnya menunjuk ke arah rumah Sakura.
Sasuke tidak mengubah ekspresi.
"Tergantung tujuan seseorang."
Gaara mengangguk samar, belum mengerti arah pembicaraan.
"Kadang saya lihat lampu rumah itu menyala. Saya pikir—"
Sasuke memotong pelan, santai...
tapi nadanya seperti bilah tipis.
"Kalau kau terlalu sering memperhatikan sesuatu yang bukan urusanmu..."
Ia menatap langsung ke mata Gaara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blooming sakura
FanfictionUchiha sasuke sang cassanova yang kerap bergonta-ganti pasangan, berbuat ulah dan membuatnya diasingkan di sebuah desa terpencil. Disana ia bertemu dengan seorang gadis berambut pink misterius yang menarik atensinya. Siapakah gadis itu? Bagaimana as...
