Sakura's POV
Aku berdiri berkacak pinggang sembari memelototi makhluk kecil berwarna hitam yang sedang asik mencakar sofa bludru kesayanganku. Ia mematung seolah mengerti sorot mataku yang seolah mengatakan 'berhenti mencakar sofa atau tidak ada tuna untuk hari ini'.
Namanya adalah Hiro, kucing kecil jantan berwarna hitam yang kutemukan tengah kedinginan didekat sungai.
Sejenak aku menghela, ini sudah kesekian kalinya ibu meninggalkanku dirumah seorang diri. Aku menopang dagu bosan sambil merawang keluar jendela. Teringat teman-temanku di panti dan juga bibi ayame . Sedang apa mereka sekarang?
"Hiro,kau tau? Diluar sana gadis-gadis seusiaku pergi ke sekolah , punya banyak teman, dan mempunyai kekasih. Bukannya terkurung dirumah seperti ini. Terus terang aku sedikit iri pada mereka" ucapku sambil mengelus Hiro yang tengah duduk nyaman di pangkuanku. Selama ini aku home-schooling , ada Shizune sensei yang akan datang setiap hari senin sampai dengan Rabu . Hiro menengadah menatapku dan mengeong pelan. "Ah ya, aku memiliki mu. Bukan , tapi kita saling memiliki. Bukan begitu hm?" Tanyaku . Tiba-tiba ia turun dan berjalan menjauh, aku mengangkat alisku bingung. Sadar aku tidak mengikutinya, Hiro menoleh kearahku dan kembali mengeong. "Ah kau ingin jalan-jalan rupanya. Baiklah kita akan berjalan-jalan di halaman belakang, kau senang?" Ia kembali mengeong.Hiro terlihat sedang asyik mengejar kupu-kupu disebelah sana, aku menggelar karpet kecil di bawah pohon besar dan membaca buku sambil menikmati beberapa camilan. Yah... setelah dipikir-pikir ini tidak terlalu buruk, aku cukup menikmatinya. Aku menyukai buku-buku fiksi dan pengetahuan. Meskipun ibu sering meninggalkanku untuk bekerja, tapi saat pulang ia akan membawa banyak buku kesukaanku dan beberapa keperluan pribadiku. Ibu tidak mengizinkanku pergi terlalu jauh meskipun hanya ke pasar, bahan makanan sudah tersedia lengkap di dapur. Aku terkadang berpikir kenapa ia begitu over protective terhadapku.
"Akh..!!" Suara pekikan membuyarkan lamunanku. 'Siapa' tanyaku dalam hati. Pandanganku berkeliling mencari keberadaan Hiro. Aku segera mengemasi perlengkapan piknik ku dan mencari keberadaan Hiro,mengingat hari sudah cukup sore, dan ini adalah hari Sabtu yang berarti ibu akan pulang. Aku harus bergegas pulang kerumah. Tapi di mana makhluk kecil itu?
"Akhh, sakit! berhenti menggitku ..!!" Suara itu kembali terdengar dan semakin jelas , suara laki-laki. Aku terus mengikuti arah suara itu dan benar saja, hiro sedang menggigit sambil menendang tangan seorang pemuda.
"Berhenti menggigitnya hiro..!" Ujarku setengah berteriak. Hiro menghentikan kegiatannya dan berlari ke pelukanku. Aku mengelusnya."Jadi nama nya Hiro?" Pemuda itu bersuara, seorang pemuda berseragam polisi dengan tinggi sekitar 180 sentimeter dan berambut merah. "Ah ya, maafkan kucingku tuan-"
"Sabaku Gaara.." ucap pemuda itu memotong. "Kau bisa memanggilku Gaara.." lanjutnya. "Yoroshiku sabaku-san. Ngomong-ngomong apakah tanganmu baik-baik saja" tanyaku memastikan.
"Ya lumayan sakit disini, karena kucing ini milikmu,bisakah aku meminta pertanggung jawabanmu untuk merawat lukaku" tanyanya. Aku merasakan Hiro sedikit menggeram. "Tentu sabaku-san, bisa kulihat lukamu?" Jawabku yang memilih mengabaikan Hiro yang tampak kurang bersahabat. Pemuda itu mendekat dan mengulurkan tangannya. "Ini hanya lecet kecil tidak terlalu parah, kebetulan aku membawa salep luka, tunggu sebentar" kataku seraya mengambil kotak P3K kecil di keranjang piknikku.
"Nah, sudah selesai Sabaku-san. Salep itu akan mengurangi sedikit rasa perihnya" ucapku sambil sedikit mendongak mengingat ia begitu tinggi meskipun kami sedang duduk. Ia tidak merespon dan kenapa malah menatapku tanpa berkedip,hei ada apa dengan pemuda ini. "Sabaku-san apakah kau baik-baik saja" panggilku sambil menggoyangkan tanganku depan wajahnya. "Maaf.." katanya,ia tersentak dan pipinya bersemu merah seperti menahan malu.
Hari sudah semakin gelap, aku sedikit khawatir ibu tiba dirumah dan aku tidak di sana.Dan benar saja tiba-tiba aku tersentak saat melihat ibu berdiri diatas balkon memandangku dengan bersedekap dada. Oh tidak..habislah aku..
"Baiklah, aku harus bergegas pulang sabaku-san" aku berdiri dan berbalik. Sedikit berlari dan sayup2 kudengar pemuda itu kembali memanggilku. Aku hanya takut ibu akan marah.
...
Pagi menjelang, aku bersiap memasak sarapan untukku dan ibu. Aku akan mengajak ibuk piknik hari ini. Batinku senang. Alih-alih memasak, aku justru melihat beberapa masakan sudah tersedia dimeja. "Kaasan memasak semua ini?" Tanyaku pelan. "Tentu saja.." ibu muncul dari balik pintu dan sudah terlihat rapi sambil sibuk memasang antingnya. Kuamati ibu dari atas ke bawah "apakah kaasan sudah akan pergi lagi?" Tanyaku sambil mengambil alih antingnya dan memasangkan untuknya. "Ya, kali ini kaasan akan sedikit lama karena ada pekerjaan penting" jawabnya sambil mengelus pucuk kepalaku. "Kita akan kedatangan tamu?" Tanyaku sambil melihat banyaknya makanan dimeja. Saat akan menjawab tiba-tiba ponsel ibu berbunyi. "Tunggu sebentar anata, aku akan membukakan pintu" jawabnya sambil sedikit berlari. Aku sedikit takut, semoga bukan paman itu.
Dan benar saja ibu tampak menggandeng laki-laki berambut hitam panjang dan mempersilahkannya duduk dan sialnya ia duduk tepat didepanku. "Sakura ya? Sudah sebesar ini ternyata. Kau merawatnya dengan baik sayang" ujarnya sambil tersenyum bergantian kepadaku dan ibu. Entahlah aku merasa sedikit bergidik dengan perkataannya.
"Ya, selain baik dia juga anak yang cantik?" Jawab ibu sambil tersenyum ke arahku. "Bagaimana kalau kita membawa Sakura ke kota? Kita bisa menyekolahkannya di SMA terbaik di Tokyo" tawar laki-laki itu. Seandainya kalimat itu keluar dari mulut ibuku aku akan langsung mengiyakan bahkan menangis saking bahagianya. Akan tetapi kali ini aku seolah tinggal di tempat ini seribu kali jauh lebih baik ketimbang mengikuti saran laki-laki didepanku ini. "Tidak anata, di kota cukup berbahaya bagi gadis seusia sakura. Lagipula sakura memiliki guru privat yang datang tiga kali dalam seminggu. Maaf sakura ini demi kebaikanmu sayang ... kau tahu kan bahwa ibu hanya memiliki mu seorang" ucap ibu dengan penuh penyesalan yang entah kenapa kali ini justru membuatku sedikit lebih lega. "Kaasan benar Jisan.. aku lebih nyaman tinggal disini" ucapku.'Sarapan' yang menegangkan akhirnya selesai. Aku sedih karena ibu akan meninggalkanku lagi, tapi di satu sisi aku ingin pria ini segera pergi dari hadapanku. Aku mengantar ibu sampai pintu depan. Ibu berdiri menghadapku dan mengusap pelan lenganku. "Maafkan kaasan... apakah masih sakit?" Tanyanya. Aku menggeleng. "Kaasan berjanji akan piknik denganku saat pulang nanti, jadi jaga diri kaasan baik-baik dan cepatlah pulang" ucapku sambil memeluknya. "Kaasan berjanji" katanya .
Mobil kaasan tidak lagi terlihat. Aku mengusap pelan lenganku. Yah ibu marah besar kemarin malam. Dan ia memukulku , lagi.
Seringkali hal serupa terjadi ketika aku membuat ibu marah. Ia akan sangat marah sampai memukuliku. Akan tetapi setelahnya ia akan meminta maaf dan menyesali perbuatannnya. Ibu begitu overprotective kepadaku, tapi hal itu karena Ibu sangat menyayangiku, aku bisa melihat dari sorot matanya.
Tbc

KAMU SEDANG MEMBACA
Blooming sakura
FanficUchiha sasuke sang cassanova yang kerap bergonta-ganti pasangan, berbuat ulah dan membuatnya diasingkan di sebuah desa terpencil. Disana ia bertemu dengan seorang gadis berambut pink misterius yang menarik atensinya. Siapakah gadis itu? Bagaimana as...