Seven

321 45 9
                                        


                Gorden putih berenda yang menghiasi dinding kaca itu tidak sedang tertutup , namun aku tidak bisa melihat senja favoritku . Hanya hamparan langit abu abu gelap dengan rintik air yang masih setia membasahi bumi dari pagi.

Aku menyesap coklat panas ku sambil mengelus hiro yang tengah terlelap di pangkuan ku. Sejujurnya hujan di bulan Desember memang cukup menenangkan. Namun tetap saja memandang langit kemerahan di ufuk barat lebih dari sekedar menenangkan.

Dan aku merindukannya saat ini.

...

Aku terbangun ketika mendengar suara mobil di sekitar rumah. "Aku tertidur di sini lagi...?" Aku bergumam sambil bangkit dari sofa dan menoleh ke arah jam dinding, jam menunjukan pukul tujuh malam.

Aku melihat mobil parkir didepan rumah besar tepat di sebelah rumah ini.

Rumah itu kosong semenjak kakek dan nenek yang tinggal di rumah itu telah tiada. Namun aku sering melihat mobil itu datang sesekali.Bukan hal yang aneh, mobil itu milik pemuda berambut hitam panjang. Mungkinkah cucunya.

Aku menoleh pada hiro yang tengah duduk menatapku. "Kau lapar?" Ia mengeong sambil berkedip pelan. "Aku juga, karena kita memang belum makan malam" kataku sambil berjalan menuju dapur. "Hei hiro terkadang aku berkhayal bahwa kau adalah kucing yang bisa berubah menjadi manusia, dengan begitu aku bisa menyuruhmu untuk menyiapkan makananku, membersihkan rumah dan mencuci pakaianku ahahahah" gurau ku sambil membuka lemari es. "Aku hanya bercanda, baiklah... mmm sepertinya aku sedang tidak ingin makan daging atau semacamnya." Aku beralih ke rak makanan dan memutuskan untuk memasak ramen instan saja.

...

Aku baru saja selesai mencuci piring setelah makan malam. Dan

Blammm...! Gelap.

Hujan diluar semakin deras dengan petir sesekali menyambar.

Listrik padam ditengah hujan yang seperti ini merupakan hal yang lumrah.

"Nah dengan begini jauh lebih baik" ucapku setelah menyalakan lilin. Kudengar hiro mengeong , , " ya... aku tau kau tidak perlu bantuan lilin untuk bisa melihat dalam gelap kan?"

Tiba-tiba pikiranku melayang pada rumah di samping.

"Hiro kau tunggu disini sebentar "

...

Sejujurnya ini pertama kali nya aku menapakkan kaki ke rumah ini setelah sekian lama hidup di desa Tsurui. Dengan hujan yang kurang bersahabat dan petir yang menyambar membuatku sedikit bergidik. Aku menelan ludahku kasar. 'Baiklah sakura , kau hanya perlu mengetuk pintu dan memberikannya kemudian pergi, selesai' itulah skenario yang ada dikepalaku. Ku ketuk pintu dhadapanku tiga kali. Tidak ada sahutan. Mungkinkah ia sudah tidur? Ku ulangi lagi lebih keras, namun tetap tidak ada jawaban, oh Ayolah apakah mereka semua pingsan ?

Dan sialnya aku ingin pergi ke kamar kecil, cuaca dingin membuat ku sedikit sering buang air kecil.

Haruskah aku tinggalkan benda ini disini?

Namun tiba tiba pintu terbuka. Dan seorang pemuda terlihat muncul dari balik pintu. Pemuda dengan tinggi sekitar 185cm berambut hitam pendek, meskipun minim pencahayaan entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Inikah sosok 'Rysand' versi nyata? Protagonis pria dalam novel yang memporak porandakan hatiku belakangan?

"Ada yang bisa ku bantu nona?" Suara Baritone dari pemuda dihadapanku membuyarkan lamunanku. Aku mengerjap beberapa kali. Dan menyerahkan benda di tanganku padanya. Ia menatap benda di tangan nya "Mmm... kukira kau sedang membutuhkannya tuan" kataku. "Terimakasih...Diluar sedang hujan kau bisa berteduh disini terlebih dahulu" tawarnya . Aku menggeleng

Blooming sakuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang