Eleven

134 21 0
                                        


             Pagi di desa itu seharusnya tenang, tapi Sakura merasakannya berat di dada.

Tsunade—dengan pakaian kerja rapi dan tas besar di bahu—berjalan ke pintu rumah sambil merapikan rambut.

Sakura mengikuti setengah langkah di belakangnya.

Di ruang makan tadi pagi...

Tsunade memang sudah "lebih tenang".

Seperti biasanya, Tsunade tak pernah membahas bagian itu.

Ia langsung berubah menjadi "ibu biasa"—hangat dengan caranya yang aneh dan menakutkan.

"Jaga dirimu, dan jangan sampai telat makan."

Tsunade bicara sambil memeriksa kunci rumah.

"Baik, kaasan..."

"Kalau kamu butuh sesuatu, telepon kaasan. Jangan sembarang keluar."

"...Iya."

Tsunade menoleh. Untuk sesaat, wajahnya lembut.

Sakura menelan ludah—nuansa seperti ini justru membuatnya makin waspada.

Tsunade mengelus kepala Sakura pelan. Kemudian memeluknya.

Gerakannya lembut... tapi Sakura menegang seluruh tubuhnya.

"Kaasan..." suaranya hampir tidak terdengar. "Hati-gati dijalan."

Tsunade mengangguk. "Kaasan pulang hari Jumat."

Sakura tersenyum kecil—senyum aman, senyum yang dipaksa.

"Baik Kaasan."

Suara mesin mobil terdengar dari luar gerbang.

Sakura langsung mematung.

Hiro yang dari tadi duduk di dekat tangga mendadak mendesis—suara rendah, tidak biasa.

Orochimaru.

Pria yang selalu menjemput Tsunade.

Langsing. Tinggi.

Tatapan matanya dingin seperti ular yang sedang mengamati mangsa.

Dia turun dari mobil hitamnya, langkahnya halus tapi terasa licin.

Senang—atau terlalu senang—melihat "Kau terlihat lebih segar hari ini." Sapanya pada tsunade.

Tsunade tersenyum. "Kau datang lebih cepat."

'Aku benci suara itu.' Sakura membatin.

Ia menegang saat tatapan Orochimaru sempat—hanya sedetik—mengarah ke dirinya.

Tatapan yang membuat kulitnya merinding, bukan karena dingin... tapi karena merasa diiris.

"Pagi, Sakura-chan."

Nada Orochimaru panjang... terlalu manis untuk orang sepertinya.

Sakura menunduk dalam.

"Pagi..."

Hiro mendesis lagi, bulunya berdiri.

Orochimaru hanya terkekeh kecil melihat kucing hitam itu memusuhi dirinya sejak pertama kali datang.

Tsunade mencium kening Sakura singkat.

"Kunci pintu ya."

Sakura mengangguk.

Lalu Tsunade berjalan ke arah Orochimaru.

Ia sempat menoleh ke Sakura sebelum masuk mobil.

Wajahnya teduh.

Blooming sakuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang