"Mbak Siera, ini ada kiriman martabak manis sama ayam bakar lagi di depan gerbang. Katanya dari ojek online, tapi sudah dibayar lunas," seru Diana dari ambang pintu depan.
Siera yang sedang fokus menatap layar laptop, hanya melirik sekilas tanpa minat. "Buang aja, Di. Atau kasih ke kucing depan rumah kalau mereka mau makan makanan dari pengkhianat."
"Tapi sayang, Mbak. Ini masih hangat, baunya enak banget. Ada kartu ucapannya juga, tulisannya: 'Maaf untuk yang kemarin, semoga perutmu baik-baik saja. Dari Hanan.'" Diana membacakan tulisan di kartu kecil berwarna biru itu dengan suara pelan, takut memancing amarah kakaknya lagi.
Siera menghentikan jemarinya yang menari di atas keyboard. Ia mengembuskan napas panjang, lalu berdiri dan berjalan menghampiri Diana. Diambilnya kantong plastik besar itu, aromanya memang menggoda, tapi bagi Siera, bau makanan itu bercampur dengan aroma busuk masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.
"Kamu mau makan ini? Kamu mau makan makanan yang dibeli dari uang laki-laki yang sudah menghancurkan harga diri keluarga kita?" tanya Siera dengan nada datar namun menusuk.
Diana menunduk, nyalinya menciut. "Nggak, Mbak. Aku cuma sayang aja makanannya dibuang-buang."
"Kalau begitu, bawa ini ke pos satpam depan. Kasih ke Pak Jono dan teman-temannya. Bilang saja kita sedang syukuran atau apa pun terserah kamu, yang penting makanan ini jangan sampai masuk ke meja makan kita." Siera menyerahkan kembali plastik itu ke tangan Diana.
"Mbak, apa nggak sebaiknya Mbak ngomong baik-baik sama Mas Hanan? Maksudku, supaya dia berhenti kirim-kirim begini. Kalau terus ditolak tanpa penjelasan langsung, dia mungkin bakal terus-terusan begini."
Siera tersenyum sinis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Ngomong baik-baik? Diana, orang seperti Hanan tidak butuh kata-kata baik. Dia cuma butuh panggung untuk merasa jadi pahlawan atau korban. Dengan dia kirim makanan begini, dia merasa dosanya sudah berkurang satu persen. Itu menjijikkan."
"Tapi dia sampai masuk rumah sakit kemarin, Mbak. Apa itu belum cukup jadi hukuman buat dia?"
"Diare itu cuma pembersihan usus, Di. Luka yang dia buat di hati Papa sampai Papa meninggal itu tidak bisa dibersihkan dengan obat pencahar atau martabak manis. Sekarang cepat bawa itu ke depan!"
Diana tidak berani membantah lagi. Ia segera melangkah keluar pagar menuju pos keamanan yang terletak tidak jauh dari rumah mereka. Sementara itu, Siera berdiri di balik gorden jendela kamarnya, mengintip ke arah rumah sebelah. Benar saja, ia melihat siluet seorang pria berdiri di balik balkon rumah sebelah, seolah sedang menunggu reaksi atas kirimannya.
Hanan di sana, tampak pucat namun matanya lurus menatap ke arah rumah Siera. Ketika ia melihat Diana keluar membawa plastik makanan itu menuju arah yang salah, bukan masuk ke dalam rumah, melainkan ke arah pos satpam, bahu pria itu tampak merosot.
Siera segera menutup gordennya rapat-rapat. Ia kembali ke meja kerjanya, mencoba mengabaikan denyut di kepalanya yang kian kencang. Namun, tidak lama kemudian, ponsel Diana yang tertinggal di atas meja ruang tamu bergetar hebat. Ada panggilan masuk. Siera melihat nama 'Mas Hanan' muncul di layar, meski sudah diblokir di aplikasi pesan, rupanya Hanan masih mencoba jalur telepon seluler biasa.
Siera menyambar ponsel itu sebelum Diana kembali.
"Mau apa lagi kamu?" tanya Siera ketus saat mengangkat telepon tersebut.
Di seberang sana, terdengar helaan napas berat. "Siera? Akhirnya kamu mau bicara."
"Aku angkat ini cuma mau bilang: berhenti kirim sampah ke rumahku. Kamu pikir aku kelaparan? Atau kamu pikir hatiku bisa dibeli dengan recehan makanan ojek online?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dendam Siera
FanfictionSiera sudah berhasil move on dari masa lalunya yang menyakitkan. Di mana sehari setelah pernikahannya, dia ditalak melalui pesan watsap. Namun, tiga tahun kemudian, Siera harus kembali bertemu lagi dengan mantan suaminya, menjadi tetangga baru sebel...
