Delapan

289 64 4
                                        

"Jadi, ini alasan kamu begitu ngotot merebut kursi terakhir di lapak bubur ayam kemarin? Karena kamu merasa punya kuasa untuk mendikte siapa saja yang boleh duduk di dekatmu?"

​Siera nyaris menjatuhkan map kulit di tangannya saat suara bariton itu memantul di dinding ruang kerjanya yang kedap suara. Ia mendongak, matanya membelalak lebar. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan setelan jas navy yang dijahit sempurna, potongan yang sangat kontras dengan kaus oblong abu-abu dan celana lari yang ia kenakan saat mereka berdebat sengit soal siapa yang lebih dulu sampai di bangku plastik lapak Bubur Ayam Pak Kumis.

​"Kamu? Bagaimana bisa kamu masuk ke sini?" Siera berdiri dari kursi kebesarannya, jemarinya mencengkeram pinggiran meja. "Satpam di depan tidak mungkin membiarkan sembarang orang masuk ke lantai direksi Biro Raka tanpa janji temu."

​Pria itu melangkah masuk dengan santai. Ia tidak menunggu dipersilakan. Ia menarik kursi di hadapan meja Siera dan duduk dengan gestur yang sangat dominan, seolah-olah dialah pemilik ruangan itu.

"Aku bukan sembarang orang, Siera. Dan aku tidak butuh janji temu untuk menemui orang yang sudah ditunjuk ibuku untuk mengurus acara besar perusahaannya."

​Siera mengerutkan kening, mencoba mencerna informasi tersebut. Ia menatap layar komputernya, melihat jadwal untuk klien VIP minggu ini. Namanya tertulis jelas di sana: Ny. Widya Antasena. "Tunggu, jangan katakan padaku kalau kamu adalah..."

​"Bratama Antasena," pria itu memotong dengan seringai tipis yang terlihat menjengkelkan sekaligus menawan. "Putra tunggal Widya. Orang yang kamu panggil 'Laki-laki egois' saat kita berebut porsi terakhir sate usus kemarin."

​Siera mendesah panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipisnya. Dunia terasa begitu sempit dan sangat tidak adil. "Ini bencana. Dari sekian banyak orang di kota ini, kenapa harus kamu yang menjadi pewaris kerajaan Antasena?"

​"Aku juga tidak menyangka konsultan acara paling prestisius di biro ini adalah perempuan yang hampir saja melempar sendok ke arahku hanya karena aku tidak mau mengalah soal tempat duduk," balas Bratama. Matanya menyisir ruangan Siera, berhenti pada sebuah bingkai foto kecil di sudut meja.

​"Itu hanya salah paham," Siera membela diri, meski wajahnya mulai memanas. "Aku sedang terburu-buru dan aku sangat lapar. Lagipula, kamu sendiri juga tidak sopan. Kamu sengaja menggeser bangku itu tepat sebelum aku bisa mendaratkan tubuhku."

​Bratama tertawa kecil, suara yang terdengar jauh lebih halus dibandingkan saat di pinggir jalan kemarin.

"Itu namanya strategi, Siera. Siapa cepat, dia dapat. Sama seperti dalam bisnis, bukan? Dan sekarang, aku di sini bukan untuk membahas bubur ayam, tapi untuk memastikan kamu tidak mengacaukan acara ibuku."
​Siera menatap tajam pria di depannya. Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan profesionalitasnya yang sempat menguap. Biro Raka memiliki reputasi yang sangat tinggi, dan kehilangan klien seperti keluarga Antasena hanya karena masalah pribadi di tukang bubur adalah hal yang konyol. Namun, kehadiran Bratama Antasena di ruangan ini memberikan tekanan udara yang sangat berbeda.

​"Aku profesional, Tuan Antasena. Apa pun yang terjadi di luar kantor tidak akan memengaruhi kualitas pekerjaanku," ujar Siera dengan nada formal yang dipaksakan.

​Bratama menopang dagunya dengan tangan, menatap Siera dengan intensitas yang membuat Siera salah tingkah.

"Benarkah? Lalu kenapa tanganmu gemetar saat memegang pulpen itu? Apakah aku semenakutkan itu atau kamu hanya merasa malu karena sudah bersikap galak pada calon klienmu?"

​"Aku tidak malu. Aku hanya terkejut," ralat Siera cepat. Ia membuka map proyek dan menyodorkannya ke arah Bratama. "Ini adalah konsep awal untuk acara anniversary ke-30 Antasena Group. Silakan ditinjau jika kamu memang diutus oleh ibumu sebagai perwakilan."

Dendam SieraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang