Malam itu, Taufan kembali terbaring di atas tumpukan jerami yang menjadi satu-satunya alas tidurnya di gudang. Tubuhnya masih terasa nyeri akibat cambukan ayahnya, namun pikirannya tak bisa berhenti memikirkan mimpi tentang ibunya dan kata-kata yang diucapkan Maripos.
"Istimewa?" pikir Taufan, sambil menatap ke langit-langit yang remang-remang. "Bagaimana mungkin aku bisa istimewa? Aku bahkan tidak punya kekuatan apa pun."
Pikirannya berputar, mengingat kembali kupu-kupu biru yang muncul dalam mimpinya. Ibunya mengatakan bahwa suatu hari ia akan menemukan jawabannya dari kupu-kupu itu. Tapi bagaimana? Bagaimana mungkin seekor kupu-kupu bisa memberikan jawaban yang dia butuhkan?
Saat pikiran-pikiran itu terus membayangi, tiba-tiba suara dentingan kecil terdengar dari luar gudang. Pintu gudang terbuka perlahan, menampakkan sosok seseorang yang tidak asing. Itu adalah Halilintar, saudara kembarnya.
"Taufan, kamu di sini?" suara Halilintar terdengar dingin, namun ada sedikit keraguan di dalamnya.
Taufan menegakkan tubuhnya dengan perlahan. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya pelan. Ia tak ingin membuat Halilintar marah, apalagi setelah hari yang berat ini.
Halilintar mendekat dengan langkah tenang, matanya yang merah bersinar dalam kegelapan. "Ayah sedang mencari mu. Katanya kau harus siap besok pagi untuk latihan bersama yang lain," katanya dengan nada tanpa emosi.
Taufan menunduk, merasa tertekan. "Latihan? Apa gunanya aku ikut latihan kalau aku tidak punya kekuatan seperti kalian?"
Halilintar terdiam sejenak, menatap saudaranya yang terlihat begitu rapuh. "Mungkin," katanya akhirnya, "Tapi kau tetap bagian dari keluarga ini. Meski begitu, kau tetap harus ada di sana."
Taufan terkejut mendengar kata-kata itu. Halilintar, yang biasanya selalu bersikap dingin dan acuh, seolah mencoba menunjukkan sisi pedulinya meskipun dengan caranya sendiri. Namun, sebelum Taufan bisa merespons, Halilintar sudah berbalik dan berjalan keluar dari gudang.
"Jangan terlambat," ucapnya sebelum pintu tertutup kembali.
Taufan menarik napas dalam-dalam dan memejamkan matanya. Ada sesuatu yang aneh dalam percakapan mereka tadi. Mungkin, hanya mungkin, Halilintar tidak sepenuhnya membencinya.
---
Pagi berikutnya, semua saudara Malviano berkumpul di lapangan besar di halaman belakang rumah mereka. Di sini, mereka biasanya berlatih mengasah kemampuan masing-masing. Api Blaze berkobar dengan ganas, es Ice membeku dengan kilauan dingin, tanah di bawah kaki Gempa bergemuruh, dan kilat Halilintar memancar terang.
Di antara semua itu, Taufan berdiri terdiam di sudut lapangan, merasa tak ada tempat baginya di sini.
Amato, ayah mereka, berdiri di tengah lapangan, mengawasi anak-anaknya. "Hari ini, kalian akan berlatih lebih keras. Kalian harus siap menghadapi musuh yang semakin kuat di luar sana," katanya dengan suara tegas. "Taufan, kau juga."
Taufan tersentak mendengar namanya disebut. "Tapi, Ayah, aku tidak punya kekuatan seperti mereka," katanya dengan suara pelan, namun terdengar jelas dalam keheningan lapangan.
Amato menatapnya dengan dingin. "Tidak ada alasan. Kau tetap harus mencoba."
Dengan enggan, Taufan melangkah maju, berdiri di tengah lapangan bersama saudara-saudaranya. Hatinya penuh keraguan dan rasa takut. Bagaimana mungkin dia bisa bersaing dengan mereka? Dia hanya seorang anak yang tak berguna tanpa kekuatan apa pun.
Latihan dimulai. Setiap anak menunjukkan kemampuan mereka. Blaze menciptakan semburan api yang luar biasa, Ice membekukan benda-benda di sekitarnya, Gempa mengendalikan tanah dengan kekuatan luar biasa, dan Halilintar memancarkan kilat dengan presisi sempurna. Duri dan Solar pun menggunakan kekuatan mereka dengan sempurna, daun dan cahaya bekerja selaras.
Saat giliran Taufan tiba, ia hanya berdiri kaku. Amato menatapnya dengan tatapan tajam. "Ayo, Taufan! Tunjukkan apa yang kau bisa!"
Namun, tidak ada yang terjadi. Taufan memejamkan mata, berharap sesuatu, apa saja, terjadi. Tapi tidak ada. Tidak ada angin, tidak ada kekuatan yang muncul dari dalam dirinya. Hanya keheningan dan tatapan tajam dari ayahnya.
"Dasar tidak berguna!" seru Amato dengan marah. "Kau bahkan tidak pantas ada di sini!"
Taufan merasa hancur. Kata-kata ayahnya selalu menjadi luka paling dalam baginya. Ia menunduk, merasa malu dan putus asa.
Beberapa hari berlalu kini taufan sedang merenung di balkon kamar nya pikiran nya tertuju pada mimpi nya beberapa hari terakhir ini setelah pertemuan nya dengan maripos "siapa dia kenapa dia selalu mengatakan aku adalah dia" batin nya
Malam itu, Taufan tidak bisa tidur. Bayangan pertemuannya dengan Maripos dan kata-kata ayahnya terus menghantui pikirannya. Hatinya berat, seolah ada sesuatu yang terpendam jauh di dalam dirinya, menunggu untuk ditemukan.
"Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?" gumam Taufan, matanya menatap kosong ke langit. "Kenapa aku tidak punya kekuatan?"
Angin malam berhembus semakin kencang, seakan menanggapi keluh kesahnya. Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya muncul dari sudut pandangnya. Taufan terkejut dan menoleh ke arah cahaya tersebut, yang perlahan-lahan berubah menjadi sosok yang sangat ia kenal-sosok kupu-kupu biru dari mimpinya.
Kupu-kupu itu terbang mendekati Taufan, sayapnya berkilauan dalam gelap. "Apakah ini... petunjuk?" bisiknya sambil mengulurkan tangannya ke arah kupu-kupu itu.
Tanpa disadari, seiring gerakan tangannya, angin di sekelilingnya mulai bergerak, berputar-putar pelan seperti mengikuti setiap gerakannya. Kupu-kupu biru itu berputar di sekitar Taufan, seolah mengajak bermain, membuat Taufan tersenyum kecil. Tapi senyuman itu segera memudar saat dia menyadari sesuatu yang aneh.
"Angin ini...?" gumamnya bingung. Ia merasa seakan angin itu bergerak sesuai dengan keinginannya, seperti mengikuti perintah yang tak terucapkan dari dalam hatinya.
Seolah menjawab kebingungannya, kupu-kupu biru itu terbang semakin cepat di sekitar tubuhnya, dan tiba-tiba saja angin bertiup kencang, membentuk pusaran di sekeliling Taufan. Mata Taufan membelalak kaget, namun tubuhnya tak bisa bergerak. Dia hanya bisa merasakan kekuatan itu, kekuatan yang begitu asing namun sekaligus terasa begitu akrab.
"Aku adalah kau, dan kau adalah aku," suara itu kembali terngiang di benaknya, kali ini lebih jelas dan lebih kuat. Taufan bisa merasakan sesuatu yang besar bangkit dari dalam dirinya. Kupu-kupu biru itu kemudian berhenti tepat di depan wajahnya, seolah menatapnya dalam-dalam. "Inilah saatnya, Taufan," bisik suara itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
IS THERE NO PLACE FOR ME? (END)
Ficção AdolescenteTaufan Malviano hidup dalam bayang-bayang saudara-saudaranya yang memiliki kekuatan elemen. Kekuatan saudara-saudaranya mulai muncul sejak kecil, sementara Taufan tidak pernah menunjukkan kemampuan apa pun. Hal ini membuatnya menjadi sasaran ejekan...
