Markas Tapops, pusat kekuatan besar yang menjadi benteng pertahanan bumi, tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah kejadian luar biasa. Di tengah-tengah hari yang biasa, gemuruh angin berputar di sekitar markas, mengalir deras dan berputar seolah-olah sedang mengantar kedatangan seseorang. Para prajurit dan petinggi Tapops yang berada di area tersebut bergegas keluar, penasaran dengan fenomena aneh yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di depan markas, angin semakin kencang hingga tiba-tiba berhenti mendadak, meninggalkan kesunyian yang menghantui. Dari dalam angin, sosok seorang wanita dengan jubah biru muda berlapis perak muncul, matanya tajam dan penuh kewibawaan. Dialah Kuputri, pemimpin planet Windara. Di sampingnya berdiri seorang pemuda muda, namun sama-sama anggun dan kuat-Maripos, pengawalnya yang setia.
Kehadiran mereka memancing keributan di antara para petinggi Tapops. Amato, salah satu petinggi Tapops, segera keluar dari kantornya. Tatapannya langsung tertuju pada Kuputri dengan penuh kewaspadaan. Ia tidak pernah menyangka bahwa pemimpin planet Windara akan datang secara langsung ke markas mereka tanpa peringatan.
"Kuputri," sapa Amato dengan suara rendah namun tegas, "apa yang membawamu ke sini? Ini wilayah bumi, dan tanpa pemberitahuan, kehadiranmu bisa dianggap ancaman."
Kuputri tersenyum tipis, seolah mengabaikan ancaman tersirat dari pernyataan Amato. "Amato Malviano, aku datang bukan untuk mengancam, melainkan untuk menjemput seseorang"
Kata-katanya yang penuh misteri membuat Amato terdiam sesaat. "Siapa yang kau maksud?" tanyanya dengan nada penuh curiga. Ia tahu bahwa kedatangan Kuputri pasti memiliki alasan yang sangat mendalam, namun ia belum bisa memahami arah pembicaraannya.
Kuputri melangkah maju, matanya menatap Amato langsung dengan tajam, seakan ingin menembus pikirannya. "Taufan," jawabnya tanpa ragu. "Aku datang untuk menjemput Taufan Malviano, putramu."
Nama Taufan seakan menjadi bom yang meledak di dalam pikiran Amato. Selama ini, Taufan hanyalah anak yang ia pandang lemah, tak memiliki kekuatan seperti saudara-saudaranya. Namun mengapa Kuputri, pemimpin Windara yang penuh misteri, datang untuk menjemputnya?
Sedangkan di sisi taufan sebuah hembusan angin yang sangat kuat menerpa tubuh Taufan, membuat rambutnya yang hitam tersapu liar di udara. Ia berdiri, menatap sekitar dengan bingung. Angin itu bukan sembarang angin; ada sesuatu yang asing dan mengerikan yang terasa, seolah-olah alam sedang berbicara langsung padanya.
Saat ia melangkah mendekati pusat markas, dia melihat kerumunan orang yang mulai ramai. Dari balik tubuh mereka yang besar, samar-samar ia melihat sosok seorang wanita berjubah biru muda dengan tatapan yang begitu kuat dan anggun. Mata Taufan terpaku pada wanita itu-ada sesuatu yang aneh, tapi juga familiar dari kehadirannya.
"Taufan!" suara keras Amato memecah kebingungan Taufan. Ia menoleh dan melihat ayahnya berdiri di dekat wanita misterius itu, dengan wajah yang sulit ditebak. Taufan mengernyit, merasa aneh dengan suasana tegang di sekitar mereka. Biasanya, Amato adalah sosok yang tenang, meskipun dingin terhadapnya.
"Taufan, ke sini," perintah Amato, nadanya tajam namun tak menyembunyikan kegelisahan.
Dengan langkah ragu, Taufan mendekat, mata safirnya menatap Kuputri dengan campuran rasa ingin tahu dan ketakutan. Ia tidak pernah melihat sosok seperti Kuputri sebelumnya. Wanita itu, dengan tatapan tajam dan senyum tipis di bibirnya, seolah bisa membaca semua pikiran dan emosi yang sedang berputar di kepala Taufan.
"Lama tak bertemu, Taufan," sapa Kuputri dengan nada lembut namun penuh makna.
Taufan mengerutkan kening, bingung dengan ucapan wanita itu. "Kita... pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya ragu, berusaha mengingat sesuatu dari masa lalunya yang kabur.
Kuputri tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Kau mungkin tak ingat, tapi sedikit keajaiban bisa membantu mengigat pertemuan kita"
Taufan terdiam, merasa ada sesuatu yang tertinggal jauh di sudut ingatannya, tapi tak mampu ia jangkau. "Keajaiban?" gumamnya, masih bingung. "Apa maksudmu?"
"Kemarilah pegang tangan ku"
Taufan ragu-ragu, matanya menatap tangan Kuputri yang terulur. Perasaan tak menentu merayap di dadanya. Ia menoleh sekilas ke arah Amato, yang berdiri kaku di tempatnya, wajahnya sulit terbaca. Akhirnya, Taufan mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Kuputri.
Seketika, dunia di sekelilingnya berubah. Angin menderu di telinganya, bukan angin biasa, tapi angin yang terasa penuh dengan kenangan. Kilasan-kilasan masa lalu melesat di depan matanya
KAMU SEDANG MEMBACA
IS THERE NO PLACE FOR ME? (END)
Fiksi RemajaTaufan Malviano hidup dalam bayang-bayang saudara-saudaranya yang memiliki kekuatan elemen. Kekuatan saudara-saudaranya mulai muncul sejak kecil, sementara Taufan tidak pernah menunjukkan kemampuan apa pun. Hal ini membuatnya menjadi sasaran ejekan...
