Apa yang enak dari hidup seorang Diandra Pramustika? Menjadi istri seorang dosen? Bisa tinggal bersama sosok yang dicintai? Atau karena jadi mantu presiden?
Oh, bukan-bukan. Nyatanya Tika tidak suka dengan semua itu, sial! Untuk apa dirinya harus b...
"Asli, Lo itu spesies manusia berkromosomXY yang aneh!"
•••®•••
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Percayalah, menjadi makhluk bernama mahasiswa itu tidak seindah kedengarannya. 'Maha'siswa? Omong kosong! Sudah satu bulan ini Tika menjalani hidup sebagai pelajar semester lima di Minerva University, tidak ada tuh asyik-asyiknya jadi seorang wanita penuntut ilmu seperti bayangannya selama ini. Tika yang sama sekali nol dalam prodi yang dimasuki ini hanya bisa menangis dalam diam mengetahui mata kuliah Ilpol beneran sulit. 7 mata kuliah wajib, dan satu di antaranya berhubungan dengan satistika. Tika beneran tidak suka kalau disuruh hitung-hitungan angka njlimet yang rumusnya tentu saja bikin senewen. Pasalnya, saat masih mengenakan seragam putih merah hingga putih abu dirinya tidak pernah bisa capai target 85 seperti pelajaran yang lain. Dia lebih memilih hafalan anatomi hewan ketimbang menghitung rumus statistika yang selalu dirinya tangisi saat SMA.
Perempuan itu menyugar rambut di bawah lehernya ke belakang, kemudian membuka pintu berwarna gelap di depannya. Hari ini Tika tidak pergi kampus, ia memilih untuk menghabiskan waktu jalan-jalan santai di taman umum dekat apartemen. Suasana segarnya pagi yang diiringi senyuman sang surya serta bau rerumputan cukup menyegarkan otaknya yang sudah suntuk.
Sudah hampir satu bulan dirinya tidak jalan santai seperti ini, padahal sebelum manusia ngeselinnya memboyong ke apartemen, Tika cukup sering untuk berjalan santai dengan Kaivan ataupun bi Yati di kediaman Prawiranegara. Namun, jika bersama Kaivan, dirinya harus jaga jarak aman agar tidak terendus khalayak umum. Tahu sendirilah, Kaivan itu anaknya presiden dan dirinya hanya mantu yang tidak diketahui keberadaannya oleh khalayak maupun media.
Tika menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam untuk menikmati waktunya di luar dan memutuskan untuk kembali setelah mencenteng banyak barang. Ia meletakkan barang bawaannya ke meja kecil ruang televisi lantas memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar lima belas menitan perempuan itu mendekam dalam bilik mandi lalu keluar kembali dengan sundress serta rambut tergelung hairclip. Tika menyangking plastik kresek bening tadi menuju dapur, lalu mengeluarkan mangkuk dari laci bawah kitchen set dan menuang bakso yang dibeli. Tak hanya itu saja, ada pula tahu bulat, telur gulung serta kebab Turki yang disajikan di atas piring. Ia membawa semua makanan itu ke ruang tengah lantas menyalakan televisi.
Tika membuka kenop pintu, melihat tubuh pria nyebelinnya masih terbalut selimut hingga kepala. Perempuan itu menghela napasnya, kemudian melangkahkan kaki mendekat. "Eh, bangun dulu. Lo nggak mau makan apa?" ucapnya sambil menyibak selimut dan menoel-noel bahu Javas yang tak tertutup benang.
Pria yang memejamkan matanya dengan posisi telungkup itu berdeham asal, tidak mengindahkan ucapan perempuannya.
"Cepetan bangun dulu elah, nanti Lo bisa tidur lagi kalo masih sakit. Gue udah siapin makanan depan TV, ada bakso sama kebab Turki yang Lo mau."