I'll be there for you. These five words I swear to you. When you breathe I want to be the air for you.
(Bon Jovi - I'll Be There For You)
***
Rabu, 6 September 2808
Fianta POV
Oke, apa yang sekarang lo dapet?
1. Doi gak suka cowok kaya.
Eits, lo gak bisa gitu aja seneng, karena lo belom liat nomor 2.
2. Doi suka Gensapi.
Sempak kan?
Gue membaca ulang tulisan asal gue dikertas. Sekarang lagi pelajaran IPS, dan lo tahu kan betapa ngeboseninnya pelajaran yang satu ini?
Apalagi punya temen sebangku yang spesiesnya kaya Agus. Liat aja tuh anak sekarang. Daritadi kerjaannya cuma buka buku, sambil nulis--dan kadang-kadang gue liat dia ngehapus. Ngebosenin banget kan?
"Sstt.. Gus!" Bisik gue ke temen sebangku gue ini.
Kenapa kudu bisik-bisik? Lo harus tahu kalo guru IPS tersayang ini bener-bener kaya Anjing. Wait, maksud gue bukan dia kaya anjing--walaupun agak mirip sih--tapi yang gue maksud kupingnya itu loh, kaya anjing banget.
Aduh, maksud gue bukan dia punya kuping yang panjang kaya anjing. Tapi... apa ya? Mm, dia itu kualitas kuping nya sama kaya anjing. Mungkin bisa dibilang begitu lah.
"Apaan?" Jawab Agus beberapa saat kemudian.
Gue menarik nafas pelan, "Lo tau gak? Masa anak kelas kita ada yang rumahnya di Vislaohdi," Bisik gue pelan.
Gue liat Agus matanya langsung membulat, tapi beberapa saat kemudian dia ngerutin kening sambil bilang, "Lo ngajak gue gosip?" Tanya dia polos.
"ANJING!" Pekik gue spontan.
"Apanya yang anjing, Fianta Aprilio?" Dan tiba-tiba sebuah ucapan maut terdengar dari depan. Dan lo harus tahu bulu kuduk gue spontan langsung berdiri.
Gue tersenyum polos sambil berkata, "Itu Bu, di depan ada anjing," ucap gue sambil melihat ke arah proyektor yang kebetulan ada gambar anjing.
"Fian!" Desis Agus pelan sambil menyenggol lengan gue.
Oke, apa yang salah sama ucapan gue? Kenapa sekarang anak-anak langsung natap gue dengan tatapan kaget? Dan... kenapa Bu Rono langsung natap gue seolah-olah gue lagi ketawan nyuri celana dalam dia?
"Jadi kamu ngatain saya Anjing, begitu?!" Tanya Bu Rono kesel.
Mendengar itu, gue langsung mengerutkan kening. "Dih, gak lah, Bu. Tapi yang didepan itu emang bener-bener anjing. Masa Ibu gak nyadar?" Jelas gue yang malah bikin Bu Rono keliatan tambah panas.
"Keluar kamu, Fian!"
***
Apa ada yang lebih lucu dari ini? Gue dikeluarin dari kelas sama Bu Rono. Dan itu... awkward banget.
Masa gue dikeluarin cuma gara-gara dia kebaperan karena gue bilang dia anjing?! Yaelah, gue gak maksud kali, sumpah.
Tapi yang buat gue tambah ngakak adalah waktu dia ngusir gue keluar, tapi tiba-tiba bel pulang langsung bunyi. Sumpah, itu tuh... freak banget, gila!
Oke, yang namanya karma berlaku gak sih?
Kalau gak rasanya gue pengen ketawa lagi. Apalagi waktu liat ekspresi mukanya Bu Rono, sumpah, absurd banget. Kaya abis makan tai kucing disambelin, bisa bayangin, kan?
"Yan, lo pulang gak?" Pertanyaan Agus menghentikan tawa gue.
Gue menatap Agus bingung, "Pulanglah, yakali gue nginep," Jawab gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
150 CM
Teen Fiction140 cm. Iya, gue tahu gue enggak tinggi dan gue selalu sadar akan hal itu. Tetapi gue selalu bersyukur kok. Gue selalu berterima kasih sama Tuhan, walaupun gue enggak dilahirin setinggi Taylor Swift. Terus apalagi yang salah? Yang salah adalah saat...
