Keadaan Jeongwoo memang tak separah itu sampai harus dirawat di rumah sakit, tapi beberapa luka di tubuhnya masih harus mendapatkan perawatan. Karena itu, Doyoung sebagai tunangan berinisiatif untuk merawat Jeongwoo meski ditolak berkali-kali.
"Kamu pulang aja, udah hampir malem." Ucapan Jeongwoo dibalas dengan side eyes oleh Doyoung.
"Lo emang nggak suka kan Gue disini? Udah jujur aja."
Memang semesta ada saja gebrakannya, Jeongwoo yang hidup tanpa drama, kini harus hidup selamanya dengan drama king.
Jeongwoo menghela napas, dia diam membiarkan Doyoung bergerak kesana-kemari seolah mengerti urusan dapur. Padahal Jeongwoo yakin sekali bahwa Doyoung tidak tau caranya memegang pisau yang benar.
Karena Jeongwoo sedang sakit, Doyoung memaksakan diri membuat bubur mengikuti panduan video resep di ponselnya. Meskipun kebingungan, lelaki itu tak menyerah sejak satu jam yang lalu.
Satu jam yang lalu!
Bayangkan, bagaimana bisa waktu satu jam tapi beras nya bahkan belum menjadi bubur. Lama-lama Jeongwoo bosan sendiri menunggu masakan Doyoung. Tapi seperti yang kalian tau, jika Jeongwoo berkata demi kebaikan mereka, Doyoung akan membalas seolah-olah Jeongwoo adalah manusia paling jahat di muka bumi.
"Kamu mau makan apa? Saya pesenin." Jeongwoo ingat sedari tadi Doyoung belum memakan apapun. Entah apa yang membuat lelaki itu begitu gigih membuat bubur untuk Jeongwoo padahal sebelumnya Doyoung merupakan orang yang suka dengan sesuatu yang instan.
"Lo nggak lihat Gue lagi sibuk?" Balas Doyoung. Pemuda itu memang terlihat sibuk, tapi usaha mengkhianati hasil. Bahkan hasil nya pun belum terlihat.
"Kita pesan aja, saya nggak mau kamu kecapean——" Ucapan Jeongwoo terhenti karena Doyoung tiba-tiba berbalik badan dengan sebilah pisau yang ia todongkan ke arah Jeongwoo.
"Lo mending diem daripada Lo yang Gue masak." Doyoung berdecak karena kegiatannya terus diganggu Jeongwoo. Jadinya tidak selesai-selesai karena Doyoung harus mengulangi video resep nya dari awal lagi agar tidak terjadi kesalahan.
"Papa Asa tuh minta tolong sama Gue buat jagain Lo. Gue disini karena Gue paham gimana nggak enaknya sendirian pas sakit. Tapi Lo malah nyuruh Gue pulang terus." Doyoung mengatakan kalimat itu dengan nada kesal, namun entah kenapa Jeongwoo justru membayangkan bagaimana selama ini Doyoung sebelum ada dirinya.
"Habis mastiin Lo makan, Gue bakal pulang kok."
Jeongwoo menelan ludahnya kasar, merasa sedikit bersalah karena membuat Doyoung harus berkata demikian. Seharusnya ia dengan senang hati membiarkan Doyoung berkeliaran di sekitarnya, lagipula saat jauh pun, Doyoung juga berkeliaran di pikiran Jeongwoo. Tapi lelaki itu selalu penuh perhitungan. Ia tak pernah suka merepotkan orang lain untuk hal apapun. Jeongwoo selalu terpaku pada kerjasama yang saling menguntungkan tanpa tahu bahwa di dunia ini tak semua hal harus mendapat timbal balik secara langsung.
Bisa jadi cukup diterima dan dinikmati lalu dikenang sebagai salah satu kejadian luar biasa dalam hidupnya. Sekarang Jeongwoo mengakui berapa kaku nya dirinya dalam hal seperti ini.
"Akhh——"
Jeongwoo otomatis tersadar dari lamunannya saat mendengar Doyoung memekik. Ia berdiri, mendekati Doyoung dengan cepat dan menemukan bahwa pemuda itu kini mengibaskan tangan kanannya yang memerah sebab tak sengaja terkena panci panas.
Jeongwoo mematikan kompor dengan cepat, membawa Doyoung menuju wastafel lalu membasuh tangan lelaki itu dengan panik. Meskipun tak bersuara, ekspresi Jeongwoo sudah merupakan ungkapan betapa ia khawatir dengan keadaan Doyoung.
KAMU SEDANG MEMBACA
FEIGN || JEONGBBY [✓]
FanfictionSemenjak pertemuannya dengan Park Jeongwoo, hidup Doyoung seakan berada dalam tahanan. Dan Doyoung sekali lagi membenci fakta bahwa dia tak bisa lari dari sosok yang selalu ia benci itu. WARN! BXB area!
![FEIGN || JEONGBBY [✓]](https://img.wattpad.com/cover/365607734-64-k572428.jpg)