Bagian 37 : Liburan

2.6K 254 27
                                        

Doyoung selalu membenci pagi yang datang terlalu cepat, seolah mencuri sisa-sisa malam yang baru saja membuainya dalam kelelahan. Pagi ini terasa lebih ganjil, bukan hanya karena sinar matahari yang menyelinap dari celah tirai tebal, melukis bayangan samar di dinding kamar, tetapi juga karena ranjang yang terasa begitu asing. Aroma kayu yang sedikit lembap bercampur dengan wangi khas linen mahal menyeruak di udara, mengingatkannya bahwa ia tak berada di tempatnya sendiri. 

Dan lebih dari itu, ia tak sendirian. 

Doyoung berusaha mengabaikan segala getaran aneh yang merayapi dadanya, mencoba mencerna kenyataan bahwa ia kini menyandang status sebagai pasangan Jeongwoo. Seharusnya, status itu berarti sesuatu. Seharusnya, ada jeda panjang antara keterikatan dan kenyamanan, bukan loncatan cepat menuju canggung yang menyesakkan. 

Ia menghela napas dalam, nyaris tidak menyadari kehadiran Jeongwoo yang baru keluar dari kamar mandi. Lelaki itu berjalan santai, air masih menetes dari helaian rambutnya yang basah, sementara hanya selembar handuk melilit pinggangnya. Pancaran cahaya dari jendela menyoroti siluetnya dengan cara yang membuat Doyoung——tanpa sadar——menatap terlalu lama. 

“Kamu mau ke mana hari ini?” suara Jeongwoo yang dalam membuyarkan lamunannya. 

Doyoung tak segera merespons. Bibirnya sedikit terbuka, matanya masih terpaku, seolah otaknya butuh waktu ekstra untuk kembali berfungsi. Hingga akhirnya——

“Hey!” 

Doyoung tersentak, refleks membuang pandangannya sambil mengedip beberapa kali, berusaha mengusir panas yang mulai menjalari wajahnya. 

“Lo nanya apa tadi?” 

Jeongwoo hanya berdecak, sekilas tersenyum sebelum menyambar pakaian dari lemari dan mengenakannya dengan gerakan cepat. Ia lalu mendekat, terlalu dekat hingga Doyoung secara naluriah mundur, menjaga jarak yang tiba-tiba terasa penting. Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, Jeongwoo sudah lebih dulu bergerak——mencuri kecupan singkat di bibirnya. 

Doyoung terdiam. Seperti ada korsleting dalam otaknya yang membuatnya tidak bisa bereaksi cepat. Jeongwoo, di sisi lain, hanya tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Doyoung yang mendadak merah. 

“Lain kali izin dulu kalau mau cium!” seru Doyoung, akhirnya berhasil menemukan suaranya di antara kekacauan kecil di kepalanya. 

Jeongwoo mengangkat bahu. “Ngapain izin? Kan punya saya.” 

Doyoung melempar bantal tanpa ragu, tetapi Jeongwoo dengan cekatan menghindar. Tawanya lepas, melihat bagaimana bantal-bantal itu kini bertebaran di lantai dalam keadaan mengenaskan. 

“Kamu mau ke mana hari ini? Nggak mungkin kita di kamar seharian kan?” Jeongwoo berlagak berpikir, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Atau emang mau kayak gitu aja? Saya nggak keberatan kok.” 

Doyoung menggeleng cepat, seolah kalimat itu harus segera ditepis sebelum mengambil ruang lebih dalam pikirannya. “Gue mau keluar. Lo kan kaya, jajanin gue makanan yang enak-enak lah.” 

Tanpa menunggu jawaban, Doyoung berjalan menuju lemari, membuka pintunya sembarangan untuk mencari pakaian. Ia masih sibuk memilah ketika Jeongwoo kembali bersuara——nada suaranya terdengar terlalu manis, terlalu sengaja. 

“Oh iya, sayang——” 

Doyoung sontak berbalik, matanya menyipit menatap lelaki itu yang pura-pura tak bersalah. Ada sesuatu yang mencurigakan dari caranya mengucapkan kata itu. 

“Apaaa?” 

“Gapapa, cuma mau nyoba panggil kamu kayak gitu.” 

Doyoung menghela napas panjang. Park Jeongwoo sinting. 

FEIGN || JEONGBBY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang