Beberapa hari setelah kepergian sang ayah, Doyoung masih terbaring di ranjang rumah sakit. Cahaya matahari sore merayap masuk melalui jendela, menciptakan bayangan panjang di lantai. Ruangan itu begitu sunyi, hanya terdengar detak jarum jam dan suara alat medis yang terus berbunyi pelan.
Doyoung terdiam, tatapannya kosong menatap ke arah luar jendela. Ia melihat burung-burung melintas, bebas di langit luas. Sesuatu yang kini terasa begitu jauh darinya. Tangannya yang kurus tergeletak lemas di atas selimut putih, jari-jarinya tak lagi menggenggam erat seperti biasanya. Ia tidak bicara, tidak menangis, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan selain napasnya yang teratur.
Jeongwoo duduk di kursi di sebelah ranjang, menatap Doyoung dengan penuh kekhawatiran. Sudah berhari-hari seperti ini. Doyoung tak ingin makan, tak ingin bicara. Setiap usaha untuk mengajaknya berbincang hanya berakhir dengan keheningan yang memilukan.
Kali ini Jeongwoo membiarkan semuanya hening, hanya ada suara-suara acak dari benda sekitar, keduanya sama-sama larut dalam pikiran dan kekhawatiran masing-masing. Jeongwoo masih enggan pergi, membiarkan semua berjalan tanpa melibatkannya. Pekerjaan yang selalu ia prioritaskan lebih dari apapun mendadak tak lagi penting daripada menemani Doyoung. Semakin memperjelas seberapa besar rasa itu kian tumbuh dari sisi Park Jeongwoo.
"Kamu butuh waktu berapa lama lagi? Saya kangen sama kamu." Suara itu terucap begitu saja setelah sekian lama terjebak dalam sunyi yang tiada ujung.
Tak ada jawaban dari Doyoung, ini lebih menyesakkan daripada melihat pemuda itu marah-marah seperti biasa.
"Maafin saya, tapi kayaknya saya nggak bisa sesabar itu, saya butuh kamu, tolong jangan kayak gini." Jemari besar Jeongwoo menggenggam tangan pucat Doyoung. Lemah, tanpa penolakan. Doyoung seperti mati dalam raga yang hidup.
"Doyoung——"
"Jeongwoo." Suara lemah itu mendayu, parau, nyaris tak terdengar, namun mampu membuat Jeongwoo memusatkan seluruh atensinya kepada Doyoung.
"Iya sayang? Kamu butuh sesuatu? Makan ya? Kamu mau apa——"
"Lo bisa pergi sekarang..."
"Hah?!"
Suasana kembali hening, raut Jeongwoo penuh tanya tentang maksud dari kalimat Doyoung yang terakhir kali. Tapi cukup lama sampai Doyoung akhirnya mau membuka suara lagi.
"Ayah udah nggak ada, seharusnya Gue udah nggak berguna lagi buat Lo. Lo bisa pergi mulai dari sekarang, Gue nggak siap kalo hancur lagi saat Lo pergi juga nanti." Kalimat itu menguar bersama dengan air mata Doyoung yang kembali menetes, rasanya masih sesak seperti beberapa hari lalu.
Kepala Doyoung terus tertuju pada skenario paling buruk setelah sang ayah begitu saja meninggalkannya, tidak ada yang pernah benar-benar ingin tinggal bersama dengan seseorang seperti dirinya, sang bunda, ayahnya. Bahkan mungkin Jeongwoo.
Kehilangan ini membuatnya terus mengumpulkan bagaimana jika nantinya Jeongwoo tak lagi menginginkannya? Bahkan hubungan mereka awalnya tak sebermakna itu. Siapa yang menjamin Jeongwoo akan mempertahankannya sampai mati.
Sedangkan Jeongwoo diam, mencari jawaban dalam renungan tiada ujung. Meresapi setiap kalimat yang Doyoung lontarkan tanpa terkecuali.
"Kamu mau saya pergi dari hidup kamu?"
Doyoung menatap Jeongwoo nanar, ia tak langsung menjawab, hatinya semakin sakit dengan air mata yang kian deras.
"Jawab Doyoung!" Ucap Jeongwoo dengan tegas. Netranya tak menampilkan keraguan sama sekali. Kedua tangannya mencengkram bahu Doyoung untuk membuat lelaki itu sepenuhnya menatapnya.
"Kamu mau saya pergi dari hidup kamu?" Tanya Jeongwoo sekali lagi, nadanya lembut namun menuntut.
Dan Doyoung menunduk. Tak mampu bersitatap dengan netra yang membuatnya jatuh sedalam-dalamnya. Perlahan kepalanya bergerak, mengangguk sebagai sebuah jawaban.
Jeongwoo terdiam, membiarkan hampa diantara keduanya bertahan beberapa saat. Wajahnya tenang penuh misteri tak berdasar.
"Tapi saya nggak mau."
****
Suara tangisan semakin keras, semakin erat pula rengkuhan yang diberikan. Jeongwoo sengaja membiarkan Doyoung menangis keras kali ini, setelah jawabannya yang entah bagaimana membuat Doyoung lega. Tangisnya lepas, seperti dirinya tak diizinkan menangis lagi setelah ini.
"Gue...takut." suaranya putus-putus, namun Doyoung memaksakan diri untuk berbicara. Mengungkapkan syukur atas keadaan tegang yang ia ciptakan sendiri. Ia tak bohong tentang tak ingin hancur andaikata Jeongwoo benar-benar meninggalkannya. Ia tak pernah ingin kehilangan Jeongwoo. Tapi membayangkan kehidupannya tanpa Jeongwoo menjadi sebuah mimpi buruk yang terus menghantuinya sejak sang ayah tak lagi bersamanya.
"Saya juga takut." Ucap Jeongwoo. Tangannya mengelus sabar kepala Doyoung. Begitu lembut, namun rengkuhan yang ia eratkan menandakan bahwa Jeongwoo juga takut kehilangan Doyoung.
"Bukan kamu satu-satunya yang takut ditinggalin. Saya juga ngga tau gimana hidup saya kalau kamu pergi. Bisa, tapi saya nggak mau."
Terdapat jeda panjang, sebelum Jeongwoo kembali berkata. Kali ini setelah penuh pertimbangan di dalam benaknya. Jeongwoo mengutarakan hal yang selama ini ia simpan sendirian.
"Doyoung, Ayah kamu nggak ninggalin kamu sendirian."
"Secara nggak langsung, dia bawa saya buat kamu. Walaupun saya nggak akan bisa gantiin peran beliau di hidup kamu."
"Saya mungkin terdengar terlalu percaya diri, tapi Ayah kamu bukan orang yang bakal nuker anaknya cuma demi dukungan saya, Beliau bisa dapat dari perusahaan mana saja jika beliau mau. Apalagi dengan syarat aneh yang saya ajukan, seharusnya ayah kamu bisa tolak mentah-mentah. Tapi alih-alih nolak, ayah kamu nyari tau tentang saya, tentang latar belakang saya, keseharian saya secara diam-diam. Saya tau dari asisten saya. Jadi saya biarkan beliau mengulik hidup saya diam-diam sebelum akhirnya ayah kamu setuju dengan perjanjian kita."
"Saya sempet kesel, saya paling nggak suka privasi saya diganggu. Tapi kemudian saya simpulkan ayah kamu sedang menyeleksi apa mungkin saya layak buat kamu."
"Dan sekarang saya disini. Hubungan kita emang nggak sebagus itu awalnya. Tapi saya berani bilang kalau perasaan saya sama kamu nggak main-main."
Jeongwoo menatap Doyoung dalam.
"Terus hidup sama saya ya, Doyoung?"
Hangat dan lega, bagaimana Doyoung mengatakan bahwa dirinya siap pulih? Ia ingin hidup bersama Jeongwoo. Tapi luka nya tak serta-merta dapat disembuhkan dengan mudah. Tapi Doyoung ingin mencoba. Kali ini, entah bagaimana nantinya.
"Lo...janji...nggak boleh...mati...sebelum Gue." Masih dengan isakan yang tersisa. Doyoung melepaskan diri dari Jeongwoo, mata bulatnya menuntut Jeongwoo untuk berjanji atas hidup dan matinya. Entah bagaimana bisa terjadi, Jeongwoo mengangguk. Melupakan segala hal logis dipikirannya, yang ia mau hanya membuat janji-janji manis untuk sang kekasih hati. Membiarkan Doyoung tenang setelah sekian hari dihantui rasa takut akan kehilangan.
"Jeongwoo,... peluk Gue lagi."
Jeongwoo menuruti semua ucapan Doyoung. Membiarkan tubuh rapuh itu sepenuhnya bersandar pada dirinya, untuk sekarang sampai pada waktu yang tak ditentukan.
****
Terimakasih telah sabar mengikuti feign sejauh ini. Terimakasih untuk yang memberikan komentar baik ataupun memberikan vote. Aku sayang sama kalian semuaa🥰
Maaf, mungkin buku ini banyak kurangnya karena dibuat dengan semboyan 'biarkan mengalir seadanya ' tapi semoga kedepannya aku bisa lebih improve lagi. Maaf untuk kesalahan tanda baca dan typo yang belum aku revisi. Maaf juga untuk update yang mungkin sangat lama.
Tapi terlepas dari itu semua, semoga yang membaca turut berbahagia dan menemukan seseorang yang sayang nya sebesar Jeongwoo kepada Doyoung❤️❤️❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
FEIGN || JEONGBBY [✓]
FanfictionSemenjak pertemuannya dengan Park Jeongwoo, hidup Doyoung seakan berada dalam tahanan. Dan Doyoung sekali lagi membenci fakta bahwa dia tak bisa lari dari sosok yang selalu ia benci itu. WARN! BXB area!
![FEIGN || JEONGBBY [✓]](https://img.wattpad.com/cover/365607734-64-k572428.jpg)