Extra Chapter | Bertiga

2.3K 216 21
                                        

Jalanan kota telah sesak oleh deru kendaraan, bagai nadi yang berdetak terlalu cepat. Langit biru membentang tenang tanpa cela, seolah menjadi ironi bagi hati Doyoung yang kini berkabut. Hari ini semestinya sempurna, cuaca mendukung, rencana telah disusun, dan senyum kecil Niel adalah alasan terbesarnya. Tapi semua berantakan hanya karena satu orang.

Satu orang yang kini berlutut di hadapannya.

Jeongwoo.

Doyoung berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, tubuhnya tegak namun hatinya tidak. Ia menolak menatap pria di hadapannya, seakan mata itu terlalu penuh dengan janji yang selalu tak ditepati.

Ini pertama kalinya Jeongwoo merendahkan dirinya sedalam ini, berlutut di atas lantai marmer rumahnya sendiri. Lelaki yang selalu menjunjung harga diri, yang kata-katanya selalu terdengar rapi dan keputusannya nyaris tak pernah goyah. Tapi hari ini, di hadapan Doyoung, segalanya runtuh.

Dan seorang saksi kecil menyaksikan itu semua dari sudut ruangan. Niel, dengan mulut penuh permen jeli, memandangi dua orang dewasa itu dalam diam. Mata bulatnya menyimpan tanya tentang apa yang dilakukan orang dewasa di depannya.

"Tapi… lo udah janji mau nemenin gue." Suara Doyoung rendah tapi tajam.

Jeongwoo menunduk. Tidak ada pembelaan, tidak ada alasan. Ia hanya bisa menelan rasa bersalahnya bulat-bulat. Ia yang salah. Ia tak melihat jadwalnya sebelum membuat janji dengan Doyoung. Keputusan impulsif itu kini menjadi bumerang yang menjadikan Jeongwoo sebagai tersangka.

"Saya usahain cepet kok. Tungguin saya bentar, ya?" Harapnya lirih.

Tapi Doyoung memutar matanya. Bukan tentang cepat atau lambat. Ini tentang janji. Tentang kepercayaan yang diremehkan. Tentang usaha yang terasa berat sebelah.

"Nggak usah lah. Lo kerja aja sana terus. Gue bisa pergi sendiri."

Ia membungkuk hendak menggenggam tangan mungil yang kini menjadi prioritasnya. Bukan Jeongwoo. Bukan hari ini.

"Nggak saya izinin kamu pergi sendiri."

"Gue nggak butuh izin dari lo." Suara Doyoung meninggi tanpa ia sadari. Namun segera ia menurunkannya, sadar ada sepasang telinga kecil yang tak seharusnya ikut menanggung emosi ini.

“Doy——”

“Siapa suruh ngingkarin janji sembarangan?” nada Doyoung kini sedikit bergetar, bukan karena takut, tapi karena kecewa yang tertahan terlalu lama. “Waktunya Niel di kota ini nggak lama. Masa iya cuma buat ngeliatin tembok rumah? Gue mau ajak dia lihat-lihat kota. Kalau lo nggak bisa, biar gue aja.”

“Doyoung——"

Tapi ucapan Jeongwoo tersangkut di leher saat ponselnya berdering. Itu sekretaris nya. Mungkin mengingatkan bahwa waktu Jeongwoo tak lama. Dia harus segera menemui klien penting.

Ia berdiri perlahan, menghela napas yang terasa berat.

“Saya kerja buat kamu——”

“Iya ngerti!” bentak Doyoung, suaranya seperti pecahan kaca yang tajam, memantul, dan membekas.

"Lo udah bilang gitu ribuan kali. Gue bosen dengernya. Gue nggak pernah larang lo kerja, kan?”

Keheningan mencubit keduanya.

Lalu Jeongwoo mengalah. Lagi-lagi ia mundur. "Oke… Kamu boleh pergi duluan. Share live location kamu, ya? saya nyusul kalau udah selesai."

Tidak ada balasan. Bahkan lirikan pun tidak.

Doyoung menggenggam tangan kecil itu dengan hati-hati, seperti memegang harapan. Ia melangkah pergi, membiarkan pintu menutup tanpa suara di belakangnya.

FEIGN || JEONGBBY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang