Hari-hari berlalu begitu cepat, secepat luka yang mulai pulih akibat kehilangan. Kekosongan yang semula begitu terasa, kini sedikit demi sedikit tertutupi oleh kehadiran Jeongwoo dan keluarganya. Doyoung merasa seperti menemukan bagian dari dirinya yang hilang, mendapatkan cinta yang selama ini ia dambakan, meskipun dalam diam. Jeongwoo, yang selalu ada untuknya, mendengarkan setiap keluhannya meski terkadang ceramah yang keluar dari mulutnya membuat Doyoung kesal seharian.
Jeongwoo, yang lebih dewasa dan selalu berusaha mengerti, bagai tuhan yang mengirimkan Doyoung sebagai sebuah masalah yang harus ia hadapi seumur hidup. Tapi Tuhan tidak memberi Doyoung hanya untuk membuat Jeongwoo stres. Doyoung juga anugerah, bentuk keindahan yang membuat segala yang abu-abu menjadi merah, kuning, hijau, penuh warna. Walaupun terkadang keras kepala dan tak tahu menata almari.
Tapi Jeongwoo cinta. Buktinya, ia membiarkan Doyoung ikut serta dalam kegiatan amal tahunan perusahaan karena pemuda itu mengeluh bosan di rumah. Tapi saat sampai di tempat, Doyoung mengeluh ingin pulang.
Jeongwoo menghela napas, sedangkan Doyoung melipat tangan di depan dada, wajahnya ditekuk sejak Jeongwoo mengatakan bahwa kegiatan masih lama selesainya.
"Gue mau pulang!" Ucapnya tegas.
Sedangkan Jeongwoo berdecak. Lama-kelamaan kesabarannya terkuras menghadapi Doyoung yang kekanak-kanakan.
"Nanti, kamu bisa sabar dikit?" Jeongwoo menahan amarahnya, mencoba meredam suara yang hampir berteriak. Terakhir kali Jeongwoo kelepasan yang membuat Doyoung berpikir Jeongwoo akan menceraikannya. Saat itu, Doyoung bahkan sudah berkemas dan bersiap keluar dari rumah. Memang sangat dramatis.
"Kalau kamu mau pulang, kenapa tadi maksa ikut?" tanya Jeongwoo dengan nada pelan, berusaha mengerti meskipun frustrasi.
Doyoung memutar bola matanya sembari mendengus.
Mereka berada di sebuah panti asuhan yang letaknya jauh di pedesaan. Panti asuhan yang begitu sunyi, dengan hanya deretan anak-anak berlarian ketika camilan yang Jeongwoo beli dari kota mulai dibagikan. Jarak yang jauh, sinyal yang lemah, serta pemandangan yang tak begitu menarik baginya, membuat Doyoung ingin pulang cepat. Terutama karena ia tidak bisa membuat video pendek kesukaannya dengan musik DJ favorit karena koneksi internet yang buruk.
Jeongwoo berulang kali berusaha menjelaskan, tapi Doyoung tetaplah Doyoung. Keras kepala.
"Gue bisa pulang sendiri." Ucap Doyoung pada akhirnya. Setelah perdebatan panjang yang mana ucapan Jeongwoo banyak benarnya, Doyoung akhirnya memberikan sikap paling ampuh untuk membuat Jeongwoo mengalah.
Pura-pura merajuk.
Jeongwoo mendesah, matanya sedikit menggelap. "Yaudah pulang aja sana." katanya dengan nada datar.
Doyoung terkejut, matanya membesar sejenak. Kejutan itu langsung berubah menjadi kemarahan. "Lo nyuruh gue pulang sendiri?" tanyanya, suara sedikit naik, marah tapi bingung.
Jeongwoo mengangguk, tidak menatap Doyoung. Ia menundukkan kepala, meraih tas belanja yang berisi makanan ringan kesukaan Doyoung yang sengaja ia pisahkan. "Lo udah nggak sayang gue ya?"
Tatapan Jeongwoo semakin tajam mendengar pertanyaan itu. Tapi ia memilih untuk diam, tahu benar bahwa jika ia melanjutkan percakapan ini, keadaan tak akan membaik.
"Kalo emang gitu, harusnya lo bilang dari awal, lo mau ninggalin gue di sini, kan? Lo nyuruh gue pulang sendirian biar gue tersesat?" Doyoung menuding dengan ekspresi marah yang semakin menjadi. “Lo mau nikah lagi? Lo——"
Jeongwoo menahan kata-kata itu dengan diam. Matanya menatap Doyoung tajam sebelum akhirnya memilih untuk mengabaikan keluhan-keluhan tak berujung itu. Dengan lembut, ia membuka camilan dari tas dan menyuapkan satu potong ke mulut Doyoung.
KAMU SEDANG MEMBACA
FEIGN || JEONGBBY [✓]
FanfictionSemenjak pertemuannya dengan Park Jeongwoo, hidup Doyoung seakan berada dalam tahanan. Dan Doyoung sekali lagi membenci fakta bahwa dia tak bisa lari dari sosok yang selalu ia benci itu. WARN! BXB area!
![FEIGN || JEONGBBY [✓]](https://img.wattpad.com/cover/365607734-64-k572428.jpg)