Bagian 26 : Rabu

2.6K 299 32
                                        

Pagi menyapa kota yang kembali sibuk, di tengah hiruk-pikuk aktivitas orang-orang, ada dua manusia yang bahkan tak peduli meskipun aktivitas manusia telah dimulai sejak tadi.

Doyoung mengerjapkan matanya perlahan setelah merasa tidurnya cukup. Sejak matanya terbuka, Doyoung mendapati wajahnya yang begitu dekat dengan Jeongwoo hingga sempat membuatnya mundur secara reflek. Namun sebuah pegangan erat menahan tubuhnya.

Jeongwoo membuka matanya perlahan, mata serigala itu menatap Doyoung penuh intimidasi.

"Kita lagi di sofa, kamu bisa jatoh."

Doyoung mengamati sekeliling lantas ia lebih terkejut mendapati dirinya terbaring diatas sofa, di dalam pelukan Jeongwoo pula. Dan entah sejak kapan lengan Jeongwoo ia jadikan sebagai bantal nya. Wajahnya mendadak memerah saat kepalanya memutar kembali memori semalam.

"Gue mau bangun." Kata Doyoung lirih. Ia tak berani menatap Jeongwoo, tapi melihat dada Jeongwoo yang terbuka juga bukan pilihan yang tepat.

"Mau ngapain? Saya masih ngantuk. Kepala saya pusing." Kata Jeongwoo. Lelaki itu justru menyamankan posisi nya dengan lebih erat memeluk Doyoung. Ini jelas tidak aman, sebab saat ini ia dapat mendengar dua detak jantung yang saling bersahutan.

"Lepasin Gue-"

"Kemarin ada yang bilang nggak mau saya tinggalin?" Jeongwoo berkata dengan mata terpejam, ia mengabaikan lengannya yang mulai mati rasa karena menahan kepala Doyoung saat mereka tidur.

"Apa-apaan? Gue nggak bilang gitu. Gue cuma nanya." Protes Doyoung. Meskipun begitu, tindakan yang tetap diam di dalam pelukan Jeongwoo sangat berlawanan dengan apa yang ia ucapkan.

"Gue mau kuliah."

"Saya tau semua jadwal kamu."

Doyoung menghela napas. Percuma juga mencari banyak alasan saat tubuhnya justru merasa nyaman. Seakan tubuh Jeongwoo bisa memberikan semua rasa aman yang Doyoung butuhkan.

"Kamu mau hari apa nikah nya?"

Doyoung menatap wajah Jeongwoo yang sedang terpejam.

"Nggak jadi, kan Lo nolak Gue kemarin."

Jeongwoo membuka sebelah matanya untuk melihat bagaimana ekspresi Doyoung saat ini. Lalu ia terkekeh.

"Kan udah saya cium semalam."

Doyoung membulatkan matanya, dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Jeongwoo hingga membuat tubuhnya terjatuh ke belakang dengan cukup keras.

"ADUH!"

"Doyoung!"

Jeongwoo bangun dengan cepat, melihat bagaimana Doyoung yang jatuh dengan mengenaskan. Untung saja dibawa sofa terdapat karpet bulu yang setidaknya mengurangi rasa sakit akibat benturan. Dan jarak sofa dan meja yang cukup jauh membuat tubuh Doyoung tidak terbentur sudut meja. Jeongwoo berkacak pinggang, tersenyum kecil melihat Doyoung menggerutu.

"Kan udah saya bilang kita lagi di sofa."

Jeongwoo mengulurkan tangannya, tapi ditepis oleh Doyoung dengan kesal. Dengan berpegang pada sofa, Doyoung mencoba bangun sendiri meski tubuhnya masih terasa nyeri.

"Lo inget semuanya?"

Jeongwoo mengerjap dua kali. Lantas mengangguk.

"Gimana bisa?"

"Toleransi alkohol saya tinggi, dan alkohol segitu nggak ngaruh bagi saya." Jeongwoo berkata dengan sombong.

Doyoung mendengus, jadi maksudnya Jeongwoo tidak benar-benar mabuk semalam? Itu artinya mereka berdua sama-sama mengingat tentang apa yang terjadi semalam.

FEIGN || JEONGBBY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang