Bagian 39 : Pemilihan

1.9K 211 43
                                        

Raut masam terus bertahan sejak pagi menyingsing, mengabaikan cuaca cerah yang menghamparkan birunya langit dan deburan ombak yang mengiringi keheningan mereka. Riuh laut masih menjadi latar suara di antara dua sosok yang sedang terjebak dalam dinamika kecil mereka sendiri.

Doyoung, si manis yang keras kepala, menghela napas panjang, matanya mengikuti Jeongwoo yang sibuk merapikan barang-barang mereka. Liburan kali ini terasa begitu singkat baginya, dan ia masih ingin lebih lama menikmati suasana damai di sini. Namun, Jeongwoo dengan keteguhan khasnya, tetap teguh pada rencana mereka untuk pulang hari ini.

"Kenapa sebentar banget? Gue masih mau di sini. Tinggal aja, yuk?" Doyoung menampilkan ekspresi memelas, mencoba merayu Jeongwoo. Bagi Doyoung, membangun rumah di tempat ini bukanlah hal mustahil bagi Jeongwoo. Mereka bisa menetap di sini, jauh dari hiruk-pikuk kota, dan menikmati hidup dengan santai. Bukankah itu indah?

Namun, Jeongwoo hanya berkacak pinggang dengan napas lelah. Merapikan barang-barang Doyoung yang membludak akibat si pemuda yang terlalu bernafsu membeli ini itu cukup melelahkan. Ditambah sedari tadi Doyoung hanya duduk tanpa berniat membantu. Padahal barangnya tiga kali lipat dari milik Jeongwoo yang hanya satu koper.

"Terus kerjaan saya gimana? Saya nggak mau bolak-balik, jauh. Saya udah tua."

Doyoung mendengus. "Yaudah, emang liburnya nggak bisa diperpanjang?"

"Nggak bisa. Kamu mau makan apa kalau saya nggak kerja?"

Ish, kata-kata Jeongwoo selalu dilebih-lebihkan. Seolah-olah jika ia tidak bekerja sehari saja, mereka akan jatuh miskin. Padahal, kalau Jeongwoo mau, ia bisa berlibur kapan saja. Tapi apa boleh buat? Setengah hidupnya memang dicurahkan untuk pekerjaan.

"Jadi lo lebih milih——"

"Sstttt." Jeongwoo menyela sebelum drama lain dimulai. "Saya milih kamu. Saya cintanya cuma sama kamu. Tapi saya harus kerja, sayang. Emang kamu nggak mau jajan enak tiap hari?"

Doyoung mendengus, menggeleng kecil. Jeongwoo selalu bisa membalikkan keadaan dengan argumen yang sulit dibantah. Memang benar, mereka tidak bisa berdiam diri selamanya di sini.

"Lusa juga pemilihan wali kota. Emang kamu nggak mau dukung ayah kamu?"

Doyoung terdiam sesaat. Ah, benar juga. Ia hampir lupa kalau hari penting bagi ayahnya semakin dekat. Meski begitu, keinginannya untuk berlama-lama dengan Jeongwoo tetap tak berkurang.

Namun, akhirnya Jeongwoo menyerah pada keinginan Doyoung. "Gini aja, habis proyek saya selesai, saya ajakin kamu liburan lagi."

Mata Doyoung berbinar mendengar penawaran itu. Ia tak perlu mendebat lebih lama, karena ini sudah cukup memuaskan. Jeongwoo duduk di sampingnya, memastikan barang mereka lengkap.

"Oh iya, kamu langsung pulang ke rumah saya. Barang-barang kamu udah di sana."

Doyoung mengangguk, lalu memasang wajah bingung. "Gue tidur di mana?"

Jeongwoo menatapnya seakan tak percaya Doyoung masih bisa menanyakan hal semacam itu. "Ya di kamar saya?"

Doyoung terkekeh kecil menyadari kebodohan pertanyaannya sendiri.

***

Hari pemilihan wali kota akhirnya tiba.

Suasana di pusat kota begitu riuh. Spanduk dan poster terpampang di sepanjang jalan, membawa wajah-wajah calon yang tersenyum penuh keyakinan. Kerumunan orang memadati tempat pemungutan suara, masing-masing membawa harapan akan pemimpin baru yang akan membawa perubahan.

Doyoung berdiri di samping Jeongwoo, mengenakan setelan kasual tetapi tetap rapi. Matanya menelusuri keramaian, mencari sosok yang paling ia kenal. Ayahnya berada di tengah-tengah massa, dikelilingi oleh pendukung setianya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi Doyoung tahu betapa pentingnya hari ini bagi pria itu.

FEIGN || JEONGBBY [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang