"Yang mana?"
Doyoung mengedarkan pandangannya, seolah tengah memilih kue di etalase toko. lalu dengan santai menunjuk objek yang ia inginkan.
"Yang ini." katanya, dengan senyum kecil. Jemarinya berhenti pada seorang bocah, yang tengah asyik mengunyah camilan, matanya bulat polos memperhatikan dua orang dewasa yang tiba-tiba mendekat.
Jeongwoo mengangguk, mengerti maksud Doyoung, tapi anggukan itu justru membuat wajah Doyoung mengendur, seperti balon yang kehilangan udara.
"Lucu, kan?" Doyoung mendesak, matanya berbinar, penuh harap akan sebuah validasi. Ia ingin sekali membawa pulang bocah kecil itu. Niel, bocah dengan pipi tembam dan gigi depannya yang hilang. Jeongwoo bingung kenapa bocah itu begitu menarik perhatian Doyoung.
Jeongwoo tak mengelak, semua anak-anaknya lucu asal tidak menyusahkan. Lagipula niat Doyoung bagus. Hanya saja...
"Kamu belum siap ngurusin manusia. Saya nggak mau ambil resiko, mereka bukan barang yang bisa di return kalau nggak cocok." Jeongwoo bicara dengan tenang, mencoba menahan hatinya. Ini tentang hidup seseorang, bukan sekadar memenuhi keinginan sesaat.
Raut Doyoung mengeras.
"Lo nggak yakin sama Gue?" Sergah Doyoung. Terkadang ia hanya tidak mau mengerti bagaimana cara pikir Jeongwoo. Apa salahnya memberikan kesempatan untuknya?
"Saya bukannya nggak yakin sama kamu——"
"Udahlah. Nggak jadi." Doyoung memotong cepat, senyum pahit menari tipis di bibirnya. "Lagian suami sendiri nggak support."
Dirinya meninggalkan Jeongwoo di tempat. Tak lupa berjalan lebih cepat dengan perasaan kesal dan sedikit kecewa.
Doyoung masuk ke dalam mobil, kebetulan kunci mobil Jeongwoo ada di tas Doyoung. Doyoung tak ingin pergi lebih dulu, lagipula ia tak tahu jalannya. Tapi selagi menunggu, Doyoung memilih duduk di kursi belakang. Ia sudah mulai dengan agenda nya mendiami Jeongwoo.
Doyoung menarik napas panjang, mencoba menahan desakan perasaan yang mulai memenuhi pikirannya. Doyoung merenung. Kata-kata Jeongwoo berputar seperti mantra.
Kamu belum siap
Mungkin... mungkin Jeongwoo benar. Jika dipikir-pikir, Jeongwoo lebih banyak mengurus Doyoung daripada sebaliknya. Jeongwoo bekerja untuknya, Jeongwoo membantunya setiap kali Doyoung kesusahan, Jeongwoo membantu Doyoung bahkan untuk hal sepele seperti tugas kuliah. Dan Jeongwoo yang setia menuntunnya keluar dari segala gelap. Sementara ia... apa yang pernah ia berikan selain masalah?
Doyoung memejamkan mata, membiarkan pikirannya melayang jauh. Ada getir, ada kecewa yang semakin memperkeruh pikiran dan hati nya.
Di tengah kegiatannya, Doyoung mendengar grasak-grusuk langkah kaki dari luar. Doyoung tak butuh membuka matanya untuk tau siapa yang berjalan mendekat. Tentunya dengan persiapan penuh. Jeongwoo sering menghadapi Doyoung yang tengah kesal, lelaki itu selalu penuh persiapan walaupun hanya membujuk Doyoung.
Pintu mobil dibuka, terdengar helaan napas singkat dari Jeongwoo. Doyoung memilih tetap pada diam nya. Tak ada yang ingin ia bicarakan lagi dengan Jeongwoo.
Lalu tiba-tiba Doyoung merasakan sapuan hangat, sebuah jas dengan wangi khas milik Jeongwoo disampirkan secara hati-hati oleh sang pemilik untuk melapisi tubuh sang suami. Entah Jeongwoo tau atau tidak jika Doyoung belum sepenuhnya tertidur, tapi perlakuan Jeongwoo selalu hampir membuat Doyoung cepat luluh.
Tanpa banyak suara, Jeongwoo mengecup singkat puncak kepala Doyoung.
Tak ada kata, tapi semua yang perlu dikatakan sudah tertanam di sana, dalam satu kecupan sederhana.
KAMU SEDANG MEMBACA
FEIGN || JEONGBBY [✓]
FanfictionSemenjak pertemuannya dengan Park Jeongwoo, hidup Doyoung seakan berada dalam tahanan. Dan Doyoung sekali lagi membenci fakta bahwa dia tak bisa lari dari sosok yang selalu ia benci itu. WARN! BXB area!
![FEIGN || JEONGBBY [✓]](https://img.wattpad.com/cover/365607734-64-k572428.jpg)