Malam pertama pengantin, kata orang adalah puncak kebahagiaan, surga dunia yang hanya milik mereka berdua. Tapi, bagi Doyoung, semua itu terdengar seperti mitos belaka. Tak ada debaran jantung yang berbunga-bunga atau tatapan penuh gairah. Yang ada justru kegelisahan yang menggerogoti setiap sarafnya.
Ia duduk di ujung tempat tidur, punggungnya tegang, matanya tak henti-henti mengawasi Jeongwoo yang sejak tadi sibuk membongkar koper mereka. Bukan untuk sesuatu yang romantis—hanya sekadar memastikan pakaian dan perlengkapan liburan mereka tertata rapi. Jeongwoo masih mengenakan kemeja putih dengan lengan yang sudah ia gulung hingga siku, rambutnya sedikit berantakan setelah perjalanan panjang. Sesekali, lelaki itu menarik napas panjang sebelum melipat satu demi satu pakaian dan menatanya di lemari vila.
Vila ini berada di tepi pantai pribadi, dengan balkon luas yang menghadap langsung ke lautan. Angin malam membawa aroma asin yang khas, bercampur dengan wangi bunga melati dari taman kecil di samping bangunan. Suara deburan ombak terdengar menenangkan, menciptakan melodi alam yang seharusnya menjadi latar sempurna untuk sepasang pengantin baru. Namun, suasana malam ini jauh dari kata romantis.
Kamar mereka dihiasi dengan dekorasi klise, kelopak bunga mawar merah berserakan di tempat tidur, dua handuk berbentuk angsa di tengahnya, dan lilin aromaterapi yang menyala di sudut ruangan. Namun, alih-alih menikmati suasana, Doyoung justru merasa risih. Ia tak suka bau ruangan yang terlalu wangi, apalagi dengan kelopak bunga yang berjatuhan di mana-mana.
Dengan ekspresi tak sabar, Doyoung mulai menyingkirkan bunga-bunga itu dari kasur, membiarkannya jatuh berantakan ke lantai. Jeongwoo yang menyadari tingkahnya hanya melirik sekilas tanpa banyak komentar.
Setelah menata barang-barang, Jeongwoo beralih ke bagian lain kamar. Ia menyalakan lampu utama, menggantikan pencahayaan temaram lilin yang seharusnya menciptakan atmosfer hangat dan intim. Doyoung, yang sejak tadi diam, langsung menoleh cepat.
"Kenapa?" Jeongwoo bertanya tanpa menoleh.
Doyoung menggeleng cepat, mencoba bersikap santai. Namun, ia tetap saja mencuri pandang ke arah Jeongwoo, matanya penuh kewaspadaan.
Jeongwoo akhirnya berbalik dan mendapati Doyoung masih menatapnya. "Kenapa nggak tidur?" tanyanya lagi. Ia sudah cukup lelah setelah seharian melewati berbagai acara pernikahan yang terasa lebih melelahkan daripada menyenangkan.
"Kita nggak ngapa-ngapain?"
Jeongwoo mengernyit, lalu menggelengkan kepala, merasa pertanyaan itu aneh. Tapi samar-samar, ia mendengar helaan napas lega dari Doyoung. Alisnya terangkat.
Seperti sedang bermain-main, Jeongwoo tersenyum tipis dan mulai melangkah mendekat.
Doyoung langsung menegang, matanya membesar saat Jeongwoo mengikis jarak keduanya. Berada semakin dekat hingga dua iris mereka saling bertubrukan.
"L-lo ngapain?" suaranya sedikit gemetar.
"Saya berubah pikiran."
"HEY!"
Doyoung refleks menarik selimut tebal dan membungkus tubuhnya dengan cepat, ekspresi wajahnya mencerminkan kepanikan yang berlebihan. Namun, sebelum ia bisa mengatakan lebih banyak, Jeongwoo hanya mendekatkan tangan dan menyentil dahinya pelan.
"Aduh!" Doyoung mengaduh, mengusap dahinya dengan kesal.
Jeongwoo terkekeh kecil sebelum berbalik lagi, bersiap untuk tidur. "Tidur sana. Pikiranmu perlu disucikan."
Doyoung mendengus. "Semua orang yang udah nikah juga gitu…" gumamnya, suaranya hampir tak terdengar.
"Gitu gimana?"Jeongwoo menoleh dengan ekspresi menggoda.
KAMU SEDANG MEMBACA
FEIGN || JEONGBBY [✓]
FanfictionSemenjak pertemuannya dengan Park Jeongwoo, hidup Doyoung seakan berada dalam tahanan. Dan Doyoung sekali lagi membenci fakta bahwa dia tak bisa lari dari sosok yang selalu ia benci itu. WARN! BXB area!
![FEIGN || JEONGBBY [✓]](https://img.wattpad.com/cover/365607734-64-k572428.jpg)