12

80 8 1
                                        

*****

Sudah seminggu izan selalu menemui pak Rahmat entah sekedar sholat Dhuha atau pun belajar mengaji. Sejujurnya izan mulai nyaman dengan kegiatan rutinnya ini, jadi izan selalu datang pagi dan pulang sore. Teman-temannya pun mulai bingung, setiap ditanya izan selalu menjawab,"kepo," bagaimana tidak curiga mereka.

Sesuai rencana kali ini Hanan, Nandra dan Awan datang pagi-pagi sekali tidak lain adalah ingin memergoki izan. Mereka khawatir izan bergaul dengan orang aneh atau kata awan mengikuti sekte sesat, sejauh ini, pemikiran awan lah yang paling jauh.

Syukurlah mereka datang sebelum izan datang, jadi mereka bisa nyusun rencana terlebih dahulu.

"Nanti kalau ada si izan, lu tutup mukanya ya nan terus gue bungkus mukanya pake sarung biar dia ga bisa kemana mana," usul awan.

"Wan, inget rencana awal kita, cuman ikutin izan bukan nyulik, bodoh," umpat Hanan pada awan, temannya ini emang sedikit menyebalkan perlu ekstra kesabaran untuk menghadapinya.

"Oh iya juga," Ucap awan dengan polosnya membuat Hanan memutar bola matanya, kesal.

"Izan dah di depan woi, sesuai rencana guys!" Nandra yang bertugas menunggu sosok izan di depan kelas mulai memberikan instruksi.

Mereka merapikan kelas seperti semula seolah tidak ada siapapun yang datang kemudian bersembunyi di kolong meja guru, kebetulan kolong meja itu muat untuk tiga orang. Tak lupa tas mereka disembunyikan di dalam lemari.

Izan masuk sembari melantunkan surah al-mulk, kemarin ia ditugaskan menghafal surah al-mulk oleh pak Rahmat dan hari ini disetorkan. Mendengar itu ketiga temannya saling bertatapan.

"Sejak kapan izan..." Belum selesai awan berbicara, mulutnya ditutup oleh tangan Hanan.

"Sttt..."

Seperti mendengar suara-suara aneh, izan menoleh ke kanan dan ke kiri.

Tidak ada siapapun di kelas ini

Tanpa berlama lama lagi pemuda itu segera mengambil peci dan Al-Qur'an nya dan segera pergi meninggalkan kelas sebelum memikirkan hal aneh.

"Ikutin," bisik nandra kemudian keluar dari tempat persembunyiannya.

Brakk..

"Aduh..." Rintih awan, kepalnya tak sengaja terbentur meja, awan keluar sambil mengusap kepalanya membuat Hanan tertawa.

"Banyak tingkah sih lu," Ucap Hanan.

Sekarang mereka bertiga mengikuti langkah izan dari belakang, jika izan menoleh, mereka akan bersembunyi di mana pun itu, entah di balik pohon, entah bersembunyi di balik tempat sampah, asalkan izan tidak menyadarinya.

"Masjid?" Hanan yang heran kenapa pagi-pagi sekali izan ke masjid padahal belum waktu sholat.

Mereka masih diam-diam mengikuti izan sampai izan menoleh.

sial, mereka ketahuan. Terlihat awan yang mencari tempat sembunyi dan Hanan juga nandra ya memejamkan matanya.

"Ngapain ngikutin gue? mau belajar ngaji juga?" Tanya izan dengan kekehan kecil.

FAZANI || END ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang