CW//TW
Sudah hampir seminggu izan menginap di rumah Hanan, kali ini cowok itu memilih kembali ke rumahnya alasannya tidak enak dengan hanan ya meski cowok itu bilang "santai aja," atau "kaya sama siapa aja sih zan," tetap saja izan merasa tidak enak. Lagi pula abi sedang ada acara sehingga diharuskan menginap. ini kesempatan untuknya apalagi izan sangat rindu masakan uminya.
"Umi, izan pulang." izan masuk ke dalam rumah, pemuda itu kemudian menghampiri uminya yang sedang menjahit baju dan bersalaman.
"mandi setelah itu baru makan." titah sang umi.
"kok tau izan belum mandi?"
"baumu itu kecium dari sebelum kamu masuk, emang ga sadar?"
izan menggaruk tekuknya yang tidak gatal, izan tau kalau umi hanya becanda, "lebay ah umi." izan memeluk umi.
"heh, mandi dulu," aisyah menepuk pelan bahu anaknya.
"izan kangen sama umi."
"halah, kamu kangen umi apa kangen uangnya?"
"dua duanya sih hehe."
"makanya jangan kabur!"
Sebelum umi aisyah ceramah lebih lanjut, izan bergegas berlari ke kamarnya, apalagi kalau bukan tidur.
"Anak itu.."
Izan tidak bisa tidur dan ia lebih memilih berkutat di laptopnya, mencari kasus 6 bulan silam di sebuah pondok pesantren. izan tidak sengaja mendengar obrolan fatimah dengan faiza kemarin dan bertekad mencari tahu kasusnya lebih lanjut juga mencari siapa dalang dibalik semua ini lalu meluruskan semuanya.
Memangnya siapa yang lebih tahu sifat faiza selain dirinya? dari kecil selalu bersama, izan tahu kalau faiza berhati lembut dan tidak mungkin membuat seseorang bunuh diri.
"Sama semut aja ga tega apalagi sama orang." guman izan, ingatannya kembali di masa kecil saat mereka makan bersama di sebuah taman.
"izaa, itu rotinya di semutin, cepet usir." Ucap izan kecil. faiza hanya menatap roti itu sembari tersenyum tipis, "gapapa, rezeki buat semutnya," jawabnya.
Izan kemudian menepuk-nepuk beberapa semut membuat semut itu berhamburan, ada beberapa yang mati.
"izan jangan!! kasian semutnya."
"lagian dia mau makan roti aku juga."
kembali pada masa kini, mata izan terus mencari hingga akhirnya ia menemukan sesuatu di sebuah artikel, sebuah foto wanita paruh baya, izan sangat mengenal orang itu. Izan segera mengetikkan sesuatu di ponselnya kemudian segera mengambil jaketnya.
"mau kemana lagi? ga makan dulu?" tanya aisyah, baru saja anaknya itu pulang sekarang sudah mau pergi lagi saja.
"nanti mi, izan ada urusan sebentar, asalamualaikum."
"waalaikumsalam, hati-hati," Aisyah lagi dan lagi hanya bisa menggeleng melihat tingkah sang anak.
"kapan kamu dewasa sih zan!" guman aisyah melanjutkan kembali aktivitas menjahitnya yang tertunda.
....
"Nomor urut 103."
faiza kembali mengecek nomor urut antriannya, itu bukan dirinya.
"dapet nomor berapa za?" tanya zika sembari memberikan sebotol air mineral pada adiknya.
"107," jawab faiza singkat.
"bentar lagi, masih sesak?"
faiza mengangguk membuat zika mengusap punggung faiza, menenangkan. Sejak pulang sekolah kemarin, penyakit sang adik sering sekali kambuh, hal ini membuat keluarga khawatir.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAZANI || END ✓
SpiritualFOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!! Cinta nya izan itu cuman buat faiza dan akan selamanya hanya untuk gadis itu seorang. Disclaimer!!! Fiksi 100% Karya sendiri
