Setelah mempercayakan jiwa dan raganya ditata ulang jauh dari kota kelahiran, pada akhirnya Izan harus kembali ke desa itu, tempat di mana ia dilahirkan. Izan menatap amplop berisi undangan berwarna biru muda, tertulis atas namanya di sana.
Cuaca di kota kali ini sangat cerah, matahari yang terik membuat siapapun tidak berani keluar rumah. Izan duduk di bangku depan rumahnya, rumah yang sudah empat tahun ia tinggali ini bersama bang Adnan dan umi Aisyah.
"Undangan siapa nih?" Tanya Adnan, datang membawa es teh.
"Faiza sama Hanan." Jawab Izan singkat, masih memandang jalanan yang sepi, meski tinggal di kota, keluarga Izan selalu memilih tempat yang nyaman dan asri seperti kompleks ini. Selain terlihat asri lingkungan ini juga memiliki warga yang ramah-ramah, itulah alasan mereka betah tinggal di sini.
"Serius, Hanan Malik? Nikah sama Faiza? Iza temen kecil Lo itu? Yang Lo suka?" Tanya Adnan, masih terkejut mulai membaca satu persatu isi dari undangan tersebut.
"Bener Zan, ini mah Hanan."
" Iya Faiza yang itu, tapi itu dulu bang, sekarang insyaallah Izan udah ikhlas. Lagi pula Hanan orang yang baik, pekerjaannya juga mapan, Izan tahu dari sejak SMA, Hanan udah menabung untuk menikah,"
"Ga disangka ya, Hanan yang petakilan itu nikah juga,"
"Izan sih sudah nebak, kalau diantara kita berempat, Hanan yang bakal nikah duluan karena tujuan dia memang ingin menikah setelah lulus kuliah."
"Tapi ini... Sama Faiza? Lo serius gapapa Zan?"
"Kalau itu yang buat Faiza bahagia ya Izan ikut bahagia bang, buat apa juga menyesali hal yang sudah terjadi. Lagi pula Faiza cuman masa lalu Izan, sekarang, Izan mau fokus buat rawat umi supaya kalau umi sudah sembuh bisa kumpul lagi sama kita bang,"
Adnan menepuk pundak adiknya itu, alasan mengapa ia harus pindah dari desa adalah untuk bekerja dan merawat umi yang sedang sakit, sejak kepergian Abi, kesehatan umi menurun sehingga umi harus dirujuk ke rumah sakit di kota, supaya lebih cepat ditangani.
Di dunia ini yang Izan punya hanya uminya. Sudah cukup kehilangan Abi, kali ini Izan tidak mau kehilangan umi juga. Kalau umi tidak ada bagaimana Izan harus melanjutkan hidup? Memikirkan nya saja sudah membuat cowok itu putus asa.
Izan menatap undangan itu, kali ini ia harus datang menemui Faiza, meski hatinya sakit, ia harus menerimanya dengan lapang dada. Faiza gadis yang baik dan harus mendapat laki-laki yang baik juga.
.
.
.
.
Pagi itu, sinar matahari lembut menyelinap melalui jendela-jendela kaca patri Masjid Agung Al-Istiqomah menerangi ruang akad yang dihias dengan kain putih dan rangkaian bunga melati. Faiza, dengan mengenakan kebaya putih dengan brokat halus dan hijab putihnya tampak anggun saat melangkah masuk, didampingi Umi yang tak bisa menyembunyikan air mata haru. Hanan, berdiri di depan penghulu dengan beskap putih senada dan peci hitam, tampak tegang namun penuh keyakinan. Matanya tak lepas dari Faiza, seolah dunia hanya berisi mereka berdua.
"Cantik." Guman Hanan membuat pipi merona Faiza menyembul.
Suasana khidmat tercipta saat penghulu memulai prosesi. Hanan, dengan suara yang tegas meski sedikit bergetar, mengucapkan ijab kabul, "Saya terima nikahnya Faiza binti Hafzi dengan mas kawin berupa seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar lima puluh juta rupiah, dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!" seru para saksi, diikuti sorak syukur dari hadirin.
"Alhamdulillah."
KAMU SEDANG MEMBACA
FAZANI || END ✓
SpiritualFOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!! Cinta nya izan itu cuman buat faiza dan akan selamanya hanya untuk gadis itu seorang. Disclaimer!!! Fiksi 100% Karya sendiri
