******
"Iza mau gak nikah sama izan nanti?"
"Kita masih kecil zan, gabole cinta cintaan nanti dimarahin umi!"
"Nanti kalau izan sudah besar, mau ga?"
"Gamau, iza gamau nikah sama izan!"
"Kenapa? izan jelek ya?"
"Izan ingusan, iza gasuka!"
Bocah laki-laki umur tujuh tahun itu menangis membuat umi Aisyah yang sedang berada di dapur menghampiri dua anak itu.
"Kenapa nak? kok mainnya sambil nangis?" Umi Aisyah mulai menenangkan izan.
"Iza gamau nikah sama izan umi, katanya izan ingusan," Adu izan pada umi Aisyah membuat umi tertawa kecil.
"Emang bener kok!" Faiza membenarkan.
"Sudah-sudah, kalian belum makan kan? Sini makan bareng umi," Ucap umi Aisyah sembari melangkah ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Faiza mengangguk dan mulai membantu umi Aisyah untuk menyiapkan makanan.
"Masyaallah pinter sekali si cantik ini," umi Aisyah mengelus kepala Faiza lembut.
"Faiza umi minta tolong boleh? Bisa bujuk izan untuk makan bersama? Anak itu kalau sudah menangis harus saja dibujuk dulu baru mau,"
Faiza kecil mulai menghampiri izan yang sudah menangis berguling-guling di lantai.
"Izan ayok makan!" Faiza menarik lengan izan untuk segera bangkit dari aksi guling-guling nya.
"Gamau! Sampai iza mau nikah sama izan!"
Faiza menghela nafasnya kemudian gadis itu mengambil tissue dan mulai mengelap air mata izan.
"Nih di lap dulu air matanya, iza gasuka sama cowok cengeng,"
Izan menurut lalu mengusap air matanya dengan tissue pemberian Faiza.
"Yuk makan!" Ajak Faiza sambil membantu izan untuk berdiri, akhirnya izan mau juga untuk makan, di meja makan, umi mengacungkan jempolnya.
~✿
"Apa, praktek nikah?" Celetuk Awan.
Ezra si ketua kelas tampan itu mengangguk, "iya, gue udah diskusi sama pak Rahmat kalau ujian praktek agama Islam adalah praktek nikah, jadi kita harus ada perwakilan," jelas Ezra sembari membetulkan kaca mata nya.
Sera mengangkat tangan, bertanya "terus gimana cara pilihnya?"
"Di undi, total di kelas kita ada dua puluh sembilan orang, harus ada mempelai pria dan wanita, ibu dan bapak dari para mempelai, dan penghulu, berarti tujuh orang diperlukan, sisanya jadi saksi, T
tulis nama kalian lalu taruh di meja biar sekertaris sama bendahara yang bertugas."
Semua siswa hanya menurut dan mulai menuliskan namanya.
"Bagi kertas dong," Pinta awan pada Hanan.
"Nih, sisanya buat lu aja," Hanan memberikan sisa kertasnya.
"Tumben lu baik, biasanya juga pelit." Awan mulai mencatat namanya.
"Semoga gue sama izan yang kepilih jadi pengantin nya ya za," bisik Sera pada Faiza membuat Faiza tersenyum tipis menanggapi.
Faiza menoleh ke arah izan mencoba mencari tahu apa yang sedang pemuda itu lakukan namun ternyata tatapan mereka bertemu, izan sedang memperhatikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAZANI || END ✓
SpiritualFOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!! Cinta nya izan itu cuman buat faiza dan akan selamanya hanya untuk gadis itu seorang. Disclaimer!!! Fiksi 100% Karya sendiri
