19

77 7 1
                                        

Salah satu kegiatan yang menjernihkan pikirannya adalah membantu sang umi di dapur dan itu membuat faiza melupakan masalahnya, membantu umi juga membuatnya lupa dengan ponsel.

"kamu ndak belajar nduk? bukannya besok masih ada ujian?" tanya amanda sembari mengaduk adonan bala-bala.

"nanti umi, aku pusing seharian belajar di kamar terus."

amanda hanya mengangguk.

"ada acara apa mi, tumben masak banyak?" tanya Faiza menuang adonan ke wajan.

"ada teman-teman abi nanti sore." Jawab Amanda singkat.

faiza mengangguk, kembali fokus memperhatikan bala-bala yang mulai keemasan juga membaliknya beberapa. Tak lama, Zika datang mengambil dua bala-bala yang sudah matang.

"ada yang nyariin kamu tuh za, didepan," sahut zika membuat faiza menghentikan aktifitasnya.

"izan...?" tanya faiza pelan agar umi tidak mendengarnya hal itu membuat zika tersenyum dengan ekspresinya yang tengil.

"izan mulu dipikiran kamu, bukan cewek gatau siapa," jawab zika, sudah ada dua bala-bala yang dihabiskannya membuat faiza mengambil piring bala-bala itu, mengamankan dari abagnya yang rakus ini.

"kok diambil sih, aku kan mau makan lagi,"

"buat temen abi!" sahut faiza kemudian segera meninggalkan abangnya itu sebelum terjadi pertengkaran hebat.

Zika menghela nafasnya lalu menatap umi yang mengambil alih pekerjaan Faiza yang tertinggal yaitu membalik bala-bala.

"Mi mau lagi..."

"Tuh di meja banyak,"

"Asikkk,"

.

.

.

.

Faiza langsung mengenali sosok yang berdiri di depan pintu. "Sera? Tumben ngga ngabarin kalau mau datang?" sapanya, tersenyum ramah sembari merapihkan hijabnya karena sempat terburu-buru tadi.

Sera hanya tersenyum tipis, "abis dari rumah izan, ada yang mau aku omongin sekalian... mau pamitan juga,"

"Pamitan? Baru datang udah mau pergi?" tanya Faiza, separuh bercanda. "Duduk dulu, Sera. Atau mau masuk?"

Sera menggelengkan kepala. "Di sini saja." Mereka duduk di teras depan rumah dengan suasana angin sore. Sera menunduk, tangannya memainkan ujung baju. "Faiza, aku mau minta maaf..."

Faiza mengerutkan kening. "Minta maaf? Untuk apa?"

Sera menarik napas panjang, wajahnya memerah. "Aku... aku yang menyebarkan kabar bahwa kamu penyebab Fara bunuh diri. Aku tahu itu sama sekali nggak benar, Faiza. Aku cuman... marah sama keadaan yang memaksa aku untuk kuat... Semua ini salah aku za, aku iri sama kamu, rasa iri itu yang buat aku tega untuk ngelakuin itu semua... Maaf, aku menyesal."

Faiza terdiam, dadanya terasa sesak.

"Aku juga mau kasih tau sesuatu... Fara itu kakakku..."

"Jadi selama ini?"

"Iya za, Fara selalu cerita tentang kamu sebelum kejadian itu, dia bilang kamu satu satunya teman di pondok itu, kamu juga yang bikin fara betah di sana, kamu pasti tau kan kalau kakak ku itu dipaksa oleh mama buat masuk pondok cuman karena kakakku itu nakal di sekolah lamanya. Setelah insiden di pondok itu mama mau kirim Fara sekolah di luar negeri karena terlanjur menanggung malu sama teman-teman pengajiannya, za..."

"Obsesi mama ku yang bikin fara ga kuat dan akhirnya memutuskan untuk melakukan itu, sejak kakakku gaada, mama jadi jarang ke pengajian dan lebih milih berkutat dengan minuman kerasnya itu, dan sejak itu..." Sera memejamkan matanya, tangannya gemetar, Faiza yang menyadarinya segera memegang pergelangan Sera lembut.

FAZANI || END ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang