*****
Mungkin umur izan beranjak sebelas tahun. Hari itu adalah perpisahan izan dengan Faiza, ya, Faiza pamit untuk menempuh pendidikannya di sebuah pesantren.
"Harus banget ya, iza pesantren?" Tanya izan sembari memegang lengan Faiza.
Faiza mengangguk, "ini perintah Abi zan,"
Izan tertunduk, setetes air mata mengalir di pelupuk matanya.
"Izan nangis?"
Bagaimana anak itu tidak menangis? Ia akan ditinggal sahabat terbaiknya. Jika tidak ada Faiza, izan akan main dengan siapa lagi?
"Jangan nangis zan, kita bisa main lagi kalau iza pulang,"Ucap Faiza, menenangkan.
"Emang iza kapan pulangnya?"
"Kalau liburan sekolah iza pulang kok,"
"Serius?"
"Iya izan, iza ga akan selamanya tinggal di pesantren,"
"Yaudah, hati-hati ya za."
Izan harusnya menyadari kalau hari itu adalah hari terakhir izan bertemu dengan Faiza karena setelahnya mereka menjadi asing. Sebab, izan mempunyai teman baru juga Faiza yang menjaga jarak dengan izan.
Meski dua tahun setelahnya mereka bertemu kembali tapi suasananya tidak seperti dulu, semua itu karena umur mereka yang beranjak dewasa dan dikenalkan dengan yang namanya jatuh cinta.
"Woi! Ngelamun aja, mikirin apa sih?" Adnan datang menepuk pundak izan lalu duduk di samping pemuda itu.
Seperti sebuah rutinitas izan yang selalu duduk di bangku kayu tepat di depan rumahnya.
"Mikirin masa depan." Jawab izan.
"Yeuu masa depan aja ga mikirin lu, ngapain mikirin masa depan,"
"Gausah ngelawak." Izan melempar rerumputan yang ia cabut asal ke abangnya itu, Adnan hanya terkekeh kecil.
"Bang, rumah depan kok sepi, pada ke mana?" Tanya izan begitu Adnan duduk di sampingnya.
"Kata umi sih lagi pada pergi ke pesantren, jenguk si naina."
"Faiza ikut?"
"Gue liat di statusnya zika sih ikut."
"Tumben, bukannya Faiza suka nolak ya kalau diajak ke pesantren? Apa lagi itu tempat dia mondok dulu,"
"Kangen kali sama naina, lagian sejak kapan lu deket sama Faiza lagi zan? Kepo bener sama hidupnya."
Izan bangkit dari tempat duduknya dan meregangkan badannya lalu melengos pergi masuk ke dalam rumah mengabaikan pertanyaan sang kakak.
"woi malah kabur."
~✿
"Sebentar lagi kita sampai," Sahut hafzi begitu mobil yang ia kemudikan hampir sampai menuju gerbang hijau itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAZANI || END ✓
SpiritualFOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA!!!! Cinta nya izan itu cuman buat faiza dan akan selamanya hanya untuk gadis itu seorang. Disclaimer!!! Fiksi 100% Karya sendiri
